Dewan Ulama Senior Arab Saudi Dukung Operasi Militer Serang Pemberontak Hutsiyin
RIYADH (gemaislam) – Operasi militer yang dilancarkan Arab Saudi dan beberapa negara Teluk guna menyerang pemberontak Hutsiyin mendapatkan dukungan dari para ulama negeri tersebut.
Haiah Kibarul Ulama (Dewan Ulama Senior) Arab Saudi mengeluarkan keputusan bahwa operasi tersebut sudah selayaknya dilakukan demi melindungi pemerintahan Yaman yang berdaulat dan menjaga darah-darah kaum mulimin dari makar para pemberontak Hutsiyin.
Hal ini diutarakan oleh Sekjen Dewan Ulama Saudi, Syaikh Fahd Al-Majid. Menurut Syaikh Al-Majid, Dewan Ulama Senior Arab Saudi beberapa waktu lalu bahkan telah mengeluarkan putusan bahwa kelompok Hutsiyin merupakan kelompok terorisme yang sangat membahayakan kaum muslimin di Yaman.
“Dewan telah mengeluarkan pernyataan bertanggal 19 Dzulqa’dah 1435 H, yang menyebutkan bahwa kelompok Hutsiyin ini merupakan kelompok terorisme yang berbahaya,” kata Syaikh Fahd Al-Majid yang dikutip dari Al-Riyadh, Jumat (27/3/2015).
Selain itu, Syaikh Al-Majid juga menyampaikan perlunya kaum muslimin di seluruh dunia agar mendukung upaya Arab Saudi dan sekutu-sekutu dalam melakukan operasi militer yang disebut dengan operasi “Badai Yang Teguh” ini.
“Kaum muslimin di seluruh dunia harus mendukung upaya ini, agar tujuan-tujuannya bisa tercapai. Untuk melindungi saudara-saudara kita yaitu masyarakat Yaman,” tambahnya lagi.
“Semoga Allah senantiasa melindungi negeri kita dan negeri-negeri kaum muslimin, serta mengembalikan kesatuan negeri Yaman,” tutupnya.
Dewan Ulama Senior Arab Saudi Dukung Operasi Militer Serang Pemberontak Hutsiyin
RIYADH (gemaislam) – Operasi militer yang dilancarkan Arab Saudi dan beberapa negara Teluk guna menyerang pemberontak Hutsiyin mendapatkan dukungan dari para ulama negeri tersebut.
Haiah Kibarul Ulama (Dewan Ulama Senior) Arab Saudi mengeluarkan keputusan bahwa operasi tersebut sudah selayaknya dilakukan demi melindungi pemerintahan Yaman yang berdaulat dan menjaga darah-darah kaum mulimin dari makar para pemberontak Hutsiyin.
Hal ini diutarakan oleh Sekjen Dewan Ulama Saudi, Syaikh Fahd Al-Majid. Menurut Syaikh Al-Majid, Dewan Ulama Senior Arab Saudi beberapa waktu lalu bahkan telah mengeluarkan putusan bahwa kelompok Hutsiyin merupakan kelompok terorisme yang sangat membahayakan kaum muslimin di Yaman.
“Dewan telah mengeluarkan pernyataan bertanggal 19 Dzulqa’dah 1435 H, yang menyebutkan bahwa kelompok Hutsiyin ini merupakan kelompok terorisme yang berbahaya,” kata Syaikh Fahd Al-Majid yang dikutip dari Al-Riyadh, Jumat (27/3/2015).
Selain itu, Syaikh Al-Majid juga menyampaikan perlunya kaum muslimin di seluruh dunia agar mendukung upaya Arab Saudi dan sekutu-sekutu dalam melakukan operasi militer yang disebut dengan operasi “Badai Yang Teguh” ini.
“Kaum muslimin di seluruh dunia harus mendukung upaya ini, agar tujuan-tujuannya bisa tercapai. Untuk melindungi saudara-saudara kita yaitu masyarakat Yaman,” tambahnya lagi.
“Semoga Allah senantiasa melindungi negeri kita dan negeri-negeri kaum muslimin, serta mengembalikan kesatuan negeri Yaman,” tutupnya.
Pengaruh Syiah di Indonesia tidak lepas dari lemahnya dan buruknya kajian pemerintah tentang paham Syiah,Pemerintah terkesan menutup mata terhadap paham radikal Syiah,
Dan lebih nyeleneh lagi pemerintah tanpa pandang bulu memblokir situs-situs Islam ahlulsunnah,.
Berikut daftar lengkap 19 situs yang diminta diblokir:
Pengaruh Syiah di Indonesia tidak lepas dari lemahnya dan buruknya kajian pemerintah tentang paham Syiah,Pemerintah terkesan menutup mata terhadap paham radikal Syiah,
Dan lebih nyeleneh lagi pemerintah tanpa pandang bulu memblokir situs-situs Islam ahlulsunnah,.
Berikut daftar lengkap 19 situs yang diminta diblokir:
Dalam sebuah video yang di unggah di youtube, Pendeta Syiah Rafidhah berkata pada menit 00:07 – 02:12; Imam al-Baqir pada suatu hari yakni di saat pelaksanaan Haji, beliau melihat ke Ka’bah.
Imam melihat orang-orang sedang melakukan thawaf di Baitullah al-Haram seraya mengucapkan dengan keras “Labbaik....”
Abu Bashir berada di sebelah Imam, Abu Bashir adalah seorang yang buta, sehingga ia hanya bisa mendengar suara.
Ia (Abu Bashir) berkata kepada Imam, “Wahai Sayyidku, keturunan Rasulullah, Masya Allah di tahun ini banyak sekali orang-orang yang melakukan Haji.”
Imam menjawab, “Ada apa?”
Ia (Abu Bashir) berkata, “Ada banyak Jama’ah Haji di sini dan banyak sekali suaranya.”
Kemudian Imam berkata kepadanya, “Meskipun terdapat banyak suara, namun sedikit Jama’ah Hajinya.”
Ia (Abu Bashir) berkata, “Kenapa? Bukankah orang-orang ini datang ke Ka’bah untuk beribadah?”
Imam berkata, “Wahai Abu Bashir, apakah engkau menginginkan bukti yang nyata?”
Ia (Abu Bashir) menjawab, “Iya.”
Berdasarkan riwayat, bahwasanya Imam memintanya untuk mendekat kepadanya. Setelah itu Imam meletakkan tangannya ke matanya serta mengusapnya, seraya berkata, “Ya Allah, kembalikanlah penglihatannya.”
Sehingga Abu Bashir dapat melihat dan memandang orang-orang yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah. Imam pun bertanya kepada Abu Bashir, “Apa yang engkau lihat dan apa yang engkau pandang?” -Lihatlah riwayat yang ajib ini, yakni keutamaan Ahlul Bayt-
Jadi Imam bertanya kepadanya apa yang dilihatnya.
Ia (Abu Bashir) berkata, “Wahai Sayyidku, aku melihat Kera-Kera dan Babi-Babi, dan di antara mereka terdapat bintang-bintang yang cemerlang yang sedang tawaf di Ka’bah.”
Imam berkata, “Bintang-bintang tersebut adalah Syiah kita.”
berikut videonya:
Dari Abu Bashir, ia berkata :
Aku pernah melaksanakan Haji bersama Abu ‘Abdillah ‘alaihi Salam, tatkala kami melakukan thawaf aku bertanya kepadanya, “Aku sebagai tebusanmu wahai keturunan Rasulullah, apakah Allah akan mengampuni orang-orang ini?”
Kemudian ia (Abu ‘Abdillah) menjawab, “Wahai Abu Bashir, kebanyakan orang-orang yang engkau lihat adalah Kera-Kera dan Babi-Babi.”
Ia (Abu Bashir) berkata, “Aku berkata kepadanya, perlihatkanlah mereka kepadaku.”
Lalu ia (Abu ‘Abdillah) berkata dengan suatu kalimat, kemudian mengusapkan tangannya ke penglihatanku (Abu Bashir), sehingga aku (Abu Bashir) melihat mereka (dalam bentuk) Kera-Kera dan Babi-Babi, maka aku pun terkejut (melihatnya).
[Bihar al-Anwar 47/79
Dalam sebuah video yang di unggah di youtube, Pendeta Syiah Rafidhah berkata pada menit 00:07 – 02:12; Imam al-Baqir pada suatu hari yakni di saat pelaksanaan Haji, beliau melihat ke Ka’bah.
Imam melihat orang-orang sedang melakukan thawaf di Baitullah al-Haram seraya mengucapkan dengan keras “Labbaik....”
Abu Bashir berada di sebelah Imam, Abu Bashir adalah seorang yang buta, sehingga ia hanya bisa mendengar suara.
Ia (Abu Bashir) berkata kepada Imam, “Wahai Sayyidku, keturunan Rasulullah, Masya Allah di tahun ini banyak sekali orang-orang yang melakukan Haji.”
Imam menjawab, “Ada apa?”
Ia (Abu Bashir) berkata, “Ada banyak Jama’ah Haji di sini dan banyak sekali suaranya.”
Kemudian Imam berkata kepadanya, “Meskipun terdapat banyak suara, namun sedikit Jama’ah Hajinya.”
Ia (Abu Bashir) berkata, “Kenapa? Bukankah orang-orang ini datang ke Ka’bah untuk beribadah?”
Imam berkata, “Wahai Abu Bashir, apakah engkau menginginkan bukti yang nyata?”
Ia (Abu Bashir) menjawab, “Iya.”
Berdasarkan riwayat, bahwasanya Imam memintanya untuk mendekat kepadanya. Setelah itu Imam meletakkan tangannya ke matanya serta mengusapnya, seraya berkata, “Ya Allah, kembalikanlah penglihatannya.”
Sehingga Abu Bashir dapat melihat dan memandang orang-orang yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah. Imam pun bertanya kepada Abu Bashir, “Apa yang engkau lihat dan apa yang engkau pandang?” -Lihatlah riwayat yang ajib ini, yakni keutamaan Ahlul Bayt-
Jadi Imam bertanya kepadanya apa yang dilihatnya.
Ia (Abu Bashir) berkata, “Wahai Sayyidku, aku melihat Kera-Kera dan Babi-Babi, dan di antara mereka terdapat bintang-bintang yang cemerlang yang sedang tawaf di Ka’bah.”
Imam berkata, “Bintang-bintang tersebut adalah Syiah kita.”
berikut videonya:
Dari Abu Bashir, ia berkata :
Aku pernah melaksanakan Haji bersama Abu ‘Abdillah ‘alaihi Salam, tatkala kami melakukan thawaf aku bertanya kepadanya, “Aku sebagai tebusanmu wahai keturunan Rasulullah, apakah Allah akan mengampuni orang-orang ini?”
Kemudian ia (Abu ‘Abdillah) menjawab, “Wahai Abu Bashir, kebanyakan orang-orang yang engkau lihat adalah Kera-Kera dan Babi-Babi.”
Ia (Abu Bashir) berkata, “Aku berkata kepadanya, perlihatkanlah mereka kepadaku.”
Lalu ia (Abu ‘Abdillah) berkata dengan suatu kalimat, kemudian mengusapkan tangannya ke penglihatanku (Abu Bashir), sehingga aku (Abu Bashir) melihat mereka (dalam bentuk) Kera-Kera dan Babi-Babi, maka aku pun terkejut (melihatnya).
[Bihar al-Anwar 47/79
Kedengkian Syiah Terhadap Abu Bakar, Umar Dan Utsma Ra
Syiah berkata: aqidah syiah adalah bara’ (sikap antipati) adalah; bahwa kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Muawiyah. Dan empat wanita: Aisyah, Hafshah, Hunduyn dan Ummu al-Hakim ra. Serta para pengikut dan pendukungnyam karena mereka adalah makhluk yang paling buruk di muka bumi. Dan iman seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya serta para umam tidak akan sempurna hingga dia berlepas diri dari musuh-musuh mereka.
Lihat: kitab Haqqu al-Yaqin, oleh al-Majlisi hal, 519.
Syiah berkata: Abu Bakar dan Umar ra kafir, orang yang mencintai mereka juga kafir.
Lihat: kitab Bihar al-Anwar, oleh al-Majlisi (69/137, 138)
Syiah berakta: Abu Bakar, Umar terlaknat, keduanya meninggal dalam keadaan kafir dan Musyrik kepada Allah yang Maha Agung.
Lihat: kitab Bashair ad-Darajat, oleh as-Shaffar, (8/245)
Syiah berkata: sesungguhnya Nabi saw tidak mengajak Abu Bakar untuk berhijrah bersamanya dan bersembunyi du Gua Hira, melainkan karena beliau takut jika Abu Bakar menunjukan keberadaannya kepada kaum kafir Quraisy.
Lihat: Kitab Tafsir al-Burhan, oleh Hasyim al-Bahrani (2/127)
Syiah berkata: Abu Bakar shalat di belakang Rasulullah saw sementara dia masih mengalungkan patung di lehernya dan sujud kepadanya.
Lihat: kitab al-Anwar an-Nu’maniyah, oleh Nikmatullah al-Jazairi (1/53)
Syiah berkata: Umar menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan air mani lelaki dan neneknya adalah anak zina. Na’udzu billahi min dzalik.
Lihat: kitab al-Anwar an-nu’maniyah, oleh Nikmatullah al-jazairi, (1/63), dan kitab as-Shirath al-Musaqim, oleh Zainuddin an-Nabathi al-Bayadhi (3/28)
Syiah berkata: wajib untuk mengagungkan Hari Nairuz, dan berpesta pada hari terbunuhnya Umar bin al-Khattab tersebut, bahkan mereka menamai pembunuhannya “Baba Syuja’udin (sang pemberani)” dan menganjurkan untuk menziarahi kuburnya sebagai balasan atas perbutanannya terhadap Umar ra.
Lihat: kitab Aqdu ad-Durar fi Bathni Umar, oleh Yasin as-Shawwaf hal. 120.
Syiah berkata: membaca doa laknat atas dua berhala quraisy yakni Abu Bakar dan Umar ra adalah bagian dari ibadah yang agung dan ketaatan yang utama. Mereka pula yang menyebut Abu Bakar dan Umar sebagai Thagut yang sesat.
Lihat: kitab ihqaqu al-haq, oleh al-Mar’asyi (1/337)
Syiah berkata: bahwa al-Mahdi (versi mereka) akan menghidupkan Abu Bakar dan Umar ra, lalu mensalib dan membakar keduanya, setelah itu menghidupkan Ummul Mukminin Aisyah ra dan menjatuhkan hukuman kepadanya.
Lihat: lotan ar-Raj’ah, oleh Ahmad al-Ahsa’i hal. 116 dan 161
Syiah berkata: Utsman adalah seorang pezina, banci, dan suka musik.
Lihat: kitab as-Shirath al-Mustaqim, oleh Zainuddin al-Bayadhi (3/30)
Syiah Mengkafirkan Para Sahabat Kecualil Tiga Orang
Syiah berkata: para sahabat Nabi yang mulia telah kafir dan murtad terutama Abu Bakar, Umar, Utsman, Klalid bin Walid, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, al-Mughirah bin Syu’bah ra, kecuali tiga orang saja.
Lihat: kitab Raudhat min al-Kafi, oleh al-Kulaini (8/245)
Kedengkian Syiah Terhadap Abu Bakar, Umar Dan Utsma Ra
Syiah berkata: aqidah syiah adalah bara’ (sikap antipati) adalah; bahwa kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Muawiyah. Dan empat wanita: Aisyah, Hafshah, Hunduyn dan Ummu al-Hakim ra. Serta para pengikut dan pendukungnyam karena mereka adalah makhluk yang paling buruk di muka bumi. Dan iman seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya serta para umam tidak akan sempurna hingga dia berlepas diri dari musuh-musuh mereka.
Lihat: kitab Haqqu al-Yaqin, oleh al-Majlisi hal, 519.
Syiah berkata: Abu Bakar dan Umar ra kafir, orang yang mencintai mereka juga kafir.
Lihat: kitab Bihar al-Anwar, oleh al-Majlisi (69/137, 138)
Syiah berakta: Abu Bakar, Umar terlaknat, keduanya meninggal dalam keadaan kafir dan Musyrik kepada Allah yang Maha Agung.
Lihat: kitab Bashair ad-Darajat, oleh as-Shaffar, (8/245)
Syiah berkata: sesungguhnya Nabi saw tidak mengajak Abu Bakar untuk berhijrah bersamanya dan bersembunyi du Gua Hira, melainkan karena beliau takut jika Abu Bakar menunjukan keberadaannya kepada kaum kafir Quraisy.
Lihat: Kitab Tafsir al-Burhan, oleh Hasyim al-Bahrani (2/127)
Syiah berkata: Abu Bakar shalat di belakang Rasulullah saw sementara dia masih mengalungkan patung di lehernya dan sujud kepadanya.
Lihat: kitab al-Anwar an-Nu’maniyah, oleh Nikmatullah al-Jazairi (1/53)
Syiah berkata: Umar menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan air mani lelaki dan neneknya adalah anak zina. Na’udzu billahi min dzalik.
Lihat: kitab al-Anwar an-nu’maniyah, oleh Nikmatullah al-jazairi, (1/63), dan kitab as-Shirath al-Musaqim, oleh Zainuddin an-Nabathi al-Bayadhi (3/28)
Syiah berkata: wajib untuk mengagungkan Hari Nairuz, dan berpesta pada hari terbunuhnya Umar bin al-Khattab tersebut, bahkan mereka menamai pembunuhannya “Baba Syuja’udin (sang pemberani)” dan menganjurkan untuk menziarahi kuburnya sebagai balasan atas perbutanannya terhadap Umar ra.
Lihat: kitab Aqdu ad-Durar fi Bathni Umar, oleh Yasin as-Shawwaf hal. 120.
Syiah berkata: membaca doa laknat atas dua berhala quraisy yakni Abu Bakar dan Umar ra adalah bagian dari ibadah yang agung dan ketaatan yang utama. Mereka pula yang menyebut Abu Bakar dan Umar sebagai Thagut yang sesat.
Lihat: kitab ihqaqu al-haq, oleh al-Mar’asyi (1/337)
Syiah berkata: bahwa al-Mahdi (versi mereka) akan menghidupkan Abu Bakar dan Umar ra, lalu mensalib dan membakar keduanya, setelah itu menghidupkan Ummul Mukminin Aisyah ra dan menjatuhkan hukuman kepadanya.
Lihat: lotan ar-Raj’ah, oleh Ahmad al-Ahsa’i hal. 116 dan 161
Syiah berkata: Utsman adalah seorang pezina, banci, dan suka musik.
Lihat: kitab as-Shirath al-Mustaqim, oleh Zainuddin al-Bayadhi (3/30)
Syiah Mengkafirkan Para Sahabat Kecualil Tiga Orang
Syiah berkata: para sahabat Nabi yang mulia telah kafir dan murtad terutama Abu Bakar, Umar, Utsman, Klalid bin Walid, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, al-Mughirah bin Syu’bah ra, kecuali tiga orang saja.
Lihat: kitab Raudhat min al-Kafi, oleh al-Kulaini (8/245)
Kebiadaban para tentara SYIAH terhadap wanita begitu sangat mengerikan,para wanita AHLUL SUNNAH sering di siksa,diperkosa,bahkan dibunuh dengan biadab...
Berikut ini cuplikan video penyiksaan tentara Syiah terhadap Wanita:
Kebiadaban para tentara SYIAH terhadap wanita begitu sangat mengerikan,para wanita AHLUL SUNNAH sering di siksa,diperkosa,bahkan dibunuh dengan biadab...
Berikut ini cuplikan video penyiksaan tentara Syiah terhadap Wanita:
Dalam Syi'ah, ada Ushulud-din (perkara pokok dalam agama) dan Furu'ud-din (perkara cabang dalam agama). Syi'ah memiliki lima perkara pokok, yaitu:
Tauhid, bahwa Tuhan adalah Maha Esa.
Al-‘Adl, bahwa Tuhan adalah Mahaadil.
An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi'ah meyakini keberadaan para nabi sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia.
Al-Imamah, bahwa Syiah meyakini adanya imam yang senantiasa memimpin umat sebagai penerus risalah kenabian.
Al-Ma'ad, bahwa akan terjadinya Hari Kebangkitan.
Dalam perkara ke-nabi-an, Syi'ah berkeyakinan bahwa:
Jumlah nabi dan rasul Tuhan adalah 124.000.
Nabi dan rasul terakhir ialah Nabi Muhammad.
Nabi Muhammad adalah suci dari segala aib dan tanpa cacat sedikitpun. Beliau adalah nabi yang paling utama dari seluruh nabi yang pernah diutus Tuhan.
Ahlul-Bait Nabi Muhammad, yaitu Imam Ali, Sayyidah Fatimah, Imam Hasan, Imam Husain dan 9 Imam dari keturunan Imam Husain adalah manusia-manusia suci sebagaimana Nabi Muhammad.
Al-Qur'an adalah mukjizat kekal Nabi Muhammad.
2.Sekte-sekte
Aliran Syi'ah dalam sejarahnya terpecah-pecah dalam masalah Imamiyyah. Sekte terbesar adalah Dua Belas Imam, diikuti oleh Zaidiyyah dan Ismailiyyah. Ketiga kelompok terbesar itu mengikuti garis yang berbeda Imamiyyah, yakni:
Dua belas Imam:
1.Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
2.Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
3.Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
4.Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
5.Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
6.Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq
7.Musa bin Ja'far (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
8.Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
9.Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
10.Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
11.Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Askari
12.Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi
Zaidiyyah:
Disebut juga Syi'ah Lima Imam karena merupakan pengikut Zaid bin 'Ali bin Husain bin 'Ali bin Abi Thalib. Mereka dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum 'Ali tidak sah. Urutan Imamnya adalah:
Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
Zaid bin Ali (658–740), juga dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Syahid, adalah anak Ali bin Husain dan saudara tiri Muhammad al-Baqir.
Ismailiyyah:
Disebut juga Syi'ah Tujuh Imam karena mereka meyakini tujuh Imam, dan mereka percaya bahwa Imam ketujuh ialah Isma'il. Urutan Imamnya adalah:
Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
Ja'far bin Muhammad bin Ali (703–765), juga dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq
Ismail bin Ja'far (721 – 755), adalah anak pertama Ja'far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim.
Dalam Syi'ah, ada Ushulud-din (perkara pokok dalam agama) dan Furu'ud-din (perkara cabang dalam agama). Syi'ah memiliki lima perkara pokok, yaitu:
Tauhid, bahwa Tuhan adalah Maha Esa.
Al-‘Adl, bahwa Tuhan adalah Mahaadil.
An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi'ah meyakini keberadaan para nabi sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia.
Al-Imamah, bahwa Syiah meyakini adanya imam yang senantiasa memimpin umat sebagai penerus risalah kenabian.
Al-Ma'ad, bahwa akan terjadinya Hari Kebangkitan.
Dalam perkara ke-nabi-an, Syi'ah berkeyakinan bahwa:
Jumlah nabi dan rasul Tuhan adalah 124.000.
Nabi dan rasul terakhir ialah Nabi Muhammad.
Nabi Muhammad adalah suci dari segala aib dan tanpa cacat sedikitpun. Beliau adalah nabi yang paling utama dari seluruh nabi yang pernah diutus Tuhan.
Ahlul-Bait Nabi Muhammad, yaitu Imam Ali, Sayyidah Fatimah, Imam Hasan, Imam Husain dan 9 Imam dari keturunan Imam Husain adalah manusia-manusia suci sebagaimana Nabi Muhammad.
Al-Qur'an adalah mukjizat kekal Nabi Muhammad.
2.Sekte-sekte
Aliran Syi'ah dalam sejarahnya terpecah-pecah dalam masalah Imamiyyah. Sekte terbesar adalah Dua Belas Imam, diikuti oleh Zaidiyyah dan Ismailiyyah. Ketiga kelompok terbesar itu mengikuti garis yang berbeda Imamiyyah, yakni:
Dua belas Imam:
1.Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
2.Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
3.Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
4.Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
5.Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
6.Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq
7.Musa bin Ja'far (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
8.Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
9.Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
10.Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
11.Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Askari
12.Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi
Zaidiyyah:
Disebut juga Syi'ah Lima Imam karena merupakan pengikut Zaid bin 'Ali bin Husain bin 'Ali bin Abi Thalib. Mereka dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum 'Ali tidak sah. Urutan Imamnya adalah:
Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
Zaid bin Ali (658–740), juga dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Syahid, adalah anak Ali bin Husain dan saudara tiri Muhammad al-Baqir.
Ismailiyyah:
Disebut juga Syi'ah Tujuh Imam karena mereka meyakini tujuh Imam, dan mereka percaya bahwa Imam ketujuh ialah Isma'il. Urutan Imamnya adalah:
Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
Ja'far bin Muhammad bin Ali (703–765), juga dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq
Ismail bin Ja'far (721 – 755), adalah anak pertama Ja'far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim.
Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah sekte dengan jumlah penganut terbesar kedua dalam agama Islam, setelah Sunni. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan penganut Sunni, dan 10% penganut Syi'ah.[1] Madzhab Dua Belas Imam atau Itsna Asyariyyah merupakan yang terbanyak jumlah penganutnya dalam sekte ini, dan istilah Syi'ah secara umum sering dipakai merujuk pada mazhab ini. Pada umumnya, Syi'ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah pertama, seperti juga Sunni menolak Imamah Syi'ah setelah Ali bin Abi Thalib. Madzhab Syi'ah Zaidiyyah termasuk Syi'ah yang tidak menolak kepemimpinan tiga Khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib.
Secara bahasa, kata "Syi'ah" adalah bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamak-nya adalah "Syiya'an" (شِيَعًا). Syī`ī (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari sekte tersebut.
Istilah Syi'ah berasal dari Bahasa Arab (شيعة) "Syī`ah". Lafadz ini merupakan bentuk tunggal, sedangkan bentuk pluralnya adalah "Syiya'an". Pengikut Syi'ah disebut "Syī`ī" (شيعي).
"Syi'ah" adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah "Syi`ah `Ali" (شيعة علي) yang berarti "pengikut Ali", yang berkenaan dengan turunnya Q.S. Al-Bayyinah ayat "khair al-bariyyah", saat turunnya ayat itu Nabi Muhammad bersabda, "Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung - ya 'Ali anta wa syi'atuka hum al-faizun".[2]
Kata "Syi'ah" menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Kaum yang berkumpul atas suatu perkara.[3]
Adapun menurut terminologi Islam, kata ini bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib adalah yang paling utama di antara para sahabat dan yang berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan atas kaum Muslim, demikian pula anak cucunya.[4]
Syi'ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan.
Muslim Syi'ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi'ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur'an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah.
Secara khusus, Muslim Syi'ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Menurut keyakinan Syi'ah, Ali berkedudukan sebagai khalifah dan imam melalui washiat Nabi Muhammad.
Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Ahlus Sunnah menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi'ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur'an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi'ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.
Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi'ah mengakui otoritas Imam Syi'ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi'ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini.
Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah sekte dengan jumlah penganut terbesar kedua dalam agama Islam, setelah Sunni. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan penganut Sunni, dan 10% penganut Syi'ah.[1] Madzhab Dua Belas Imam atau Itsna Asyariyyah merupakan yang terbanyak jumlah penganutnya dalam sekte ini, dan istilah Syi'ah secara umum sering dipakai merujuk pada mazhab ini. Pada umumnya, Syi'ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah pertama, seperti juga Sunni menolak Imamah Syi'ah setelah Ali bin Abi Thalib. Madzhab Syi'ah Zaidiyyah termasuk Syi'ah yang tidak menolak kepemimpinan tiga Khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib.
Secara bahasa, kata "Syi'ah" adalah bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamak-nya adalah "Syiya'an" (شِيَعًا). Syī`ī (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari sekte tersebut.
Istilah Syi'ah berasal dari Bahasa Arab (شيعة) "Syī`ah". Lafadz ini merupakan bentuk tunggal, sedangkan bentuk pluralnya adalah "Syiya'an". Pengikut Syi'ah disebut "Syī`ī" (شيعي).
"Syi'ah" adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah "Syi`ah `Ali" (شيعة علي) yang berarti "pengikut Ali", yang berkenaan dengan turunnya Q.S. Al-Bayyinah ayat "khair al-bariyyah", saat turunnya ayat itu Nabi Muhammad bersabda, "Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung - ya 'Ali anta wa syi'atuka hum al-faizun".[2]
Kata "Syi'ah" menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Kaum yang berkumpul atas suatu perkara.[3]
Adapun menurut terminologi Islam, kata ini bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib adalah yang paling utama di antara para sahabat dan yang berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan atas kaum Muslim, demikian pula anak cucunya.[4]
Syi'ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan.
Muslim Syi'ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi'ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur'an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah.
Secara khusus, Muslim Syi'ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Menurut keyakinan Syi'ah, Ali berkedudukan sebagai khalifah dan imam melalui washiat Nabi Muhammad.
Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Ahlus Sunnah menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi'ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur'an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi'ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.
Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi'ah mengakui otoritas Imam Syi'ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi'ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini.