Latest Posts

Sunday, October 12, 2014

Ketidak Ridho'an Nabi Umatnya di Neraka

Ketika surga dan neraka telah terkunci, dan semua umat manusia telah dimasukkan ke dalam surga dan neraka sesuai dengan amalannya dan mereka telah menikmati ganjaran atau merasakan hukuman atas apa yang mereka kerjakan dalam waktu yang begitu lama, Allah SWT menanyakan kepada Malaikat Jibril, subhanallah sesungguhnya Allah Mahatahu, "Apakah ada umat Muhammad SAW yang masih tertinggal di dalam neraka?"

Maka Malaikat Jibril pun pergi ke neraka Jahanam.
Neraka Jahanam yang begitu gelap tiba-tiba berubah menjadi terang benderang karena kedatangan Jibril.

Para penghuni Jahanam pun bertanya-tanya, siapakah yang datang, mengapa Jahanam tiba-tiba-tiba terang benderang.

Malaikat Jibril pun menjawab bahwa dia adalah Malaikat Jibril, yang diutus oleh Allah SWT untuk mencari apakah ada umat Muhammad yang masih terselib di neraka Jahanam.
Tiba-tiba sekelompok orang berteriak, "Sampaikan salam kami kepada Rasulullah SAW, beri tahukan keadaan kami di tempat ini kepada beliau."

Jibril pun keluar dari neraka Jahanam dan pergi ke surga untuk memberitahukan hal itu kepada Rasulullah.

Rasulullah begitu bersedih mendengar bahwa masih ada umatnya yang tertinggal di dalam neraka dalam waktu yang sudah begitu lama. Beliau tidak ridha ada umatnya yang masih tertinggal di neraka walau dosanya sepenuh bumi.

Rasulullah SAW pun bergegas hendak pergi neraka.
Tapi di perjalanan beliau terhadang oleh garis batas Malaikat Israfil. Tidak ada seorang pun boleh melintasi garis itu kalau tidak seizin Allah SWT.

Rasulullah SAW pun mengadu kepada Allah SWT, dan akhirnya beliau diizinkan. Tapi sesudah itu Allah SWT mengingatkan Rasulullah bahwa umat itu telah meremehkan beliau. "Ya Allah, izinkan aku memberi syafa'at kepada mereka itu walau mereka punya hanya punya iman sebesar zarrah."

Sesampainya Rasulullah di neraka Jahanam, padamlah api neraka yang begitu dahsyat itu.
Penduduk Jahanam pun berucap, "Apa yang terjadi, mengapa api Jahanam ini tiba-tiba padam? Siapakah yang datang lagi?"

Rasulullah SAW menjawab, "Aku Muhammad SAW yang datang, siapa di antara kalian yang jadi umatku dan punya iman sebesar zarrah, aku datang untuk mengeluarkannya."

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada umatnya, beliau akan memperjuangkannya sampai di hadapan Allah SWT. Lalu bagaimana kecintaan kita sebagai umat Rasulullah SAW kepada pribadi yang begitu agung itu...

Ketidak Ridho'an Nabi Umatnya di Neraka

Ketidak Ridho'an Nabi Umatnya di Neraka

Ketika surga dan neraka telah terkunci, dan semua umat manusia telah dimasukkan ke dalam surga dan neraka sesuai dengan amalannya dan mereka telah menikmati ganjaran atau merasakan hukuman atas apa yang mereka kerjakan dalam waktu yang begitu lama, Allah SWT menanyakan kepada Malaikat Jibril, subhanallah sesungguhnya Allah Mahatahu, "Apakah ada umat Muhammad SAW yang masih tertinggal di dalam neraka?"

Maka Malaikat Jibril pun pergi ke neraka Jahanam.
Neraka Jahanam yang begitu gelap tiba-tiba berubah menjadi terang benderang karena kedatangan Jibril.

Para penghuni Jahanam pun bertanya-tanya, siapakah yang datang, mengapa Jahanam tiba-tiba-tiba terang benderang.

Malaikat Jibril pun menjawab bahwa dia adalah Malaikat Jibril, yang diutus oleh Allah SWT untuk mencari apakah ada umat Muhammad yang masih terselib di neraka Jahanam.
Tiba-tiba sekelompok orang berteriak, "Sampaikan salam kami kepada Rasulullah SAW, beri tahukan keadaan kami di tempat ini kepada beliau."

Jibril pun keluar dari neraka Jahanam dan pergi ke surga untuk memberitahukan hal itu kepada Rasulullah.

Rasulullah begitu bersedih mendengar bahwa masih ada umatnya yang tertinggal di dalam neraka dalam waktu yang sudah begitu lama. Beliau tidak ridha ada umatnya yang masih tertinggal di neraka walau dosanya sepenuh bumi.

Rasulullah SAW pun bergegas hendak pergi neraka.
Tapi di perjalanan beliau terhadang oleh garis batas Malaikat Israfil. Tidak ada seorang pun boleh melintasi garis itu kalau tidak seizin Allah SWT.

Rasulullah SAW pun mengadu kepada Allah SWT, dan akhirnya beliau diizinkan. Tapi sesudah itu Allah SWT mengingatkan Rasulullah bahwa umat itu telah meremehkan beliau. "Ya Allah, izinkan aku memberi syafa'at kepada mereka itu walau mereka punya hanya punya iman sebesar zarrah."

Sesampainya Rasulullah di neraka Jahanam, padamlah api neraka yang begitu dahsyat itu.
Penduduk Jahanam pun berucap, "Apa yang terjadi, mengapa api Jahanam ini tiba-tiba padam? Siapakah yang datang lagi?"

Rasulullah SAW menjawab, "Aku Muhammad SAW yang datang, siapa di antara kalian yang jadi umatku dan punya iman sebesar zarrah, aku datang untuk mengeluarkannya."

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada umatnya, beliau akan memperjuangkannya sampai di hadapan Allah SWT. Lalu bagaimana kecintaan kita sebagai umat Rasulullah SAW kepada pribadi yang begitu agung itu...

Saturday, October 11, 2014

7 Tingkatan surga dan Neraka

7 tingkatan Neraka..

2014/10/7-tingkata-surga-dan-neraka.html


1.Neraka jahanam:
Adalah tingkat yang atas sekali. yaitu tempat mukminin,mukminat,muslimin dan muslimat yang melakukan dosa kecil maupun besar

“….Demi Neraka jahanam di datangkan untuk semua orang walaupun hanya lewat / mampir dalam 1 hari”

Firman Allah SWT:

“Bahwasanya orang-orang kafir dan orang aniaya itu tidak akan diampuniAllah, dan tidak pula ditunjuki jalan, melainkan jalan ke Neraka Jahannam. Mereka kekal dalam neraka itu selama-lamanya. Yang demikian itu mudah sekali bagi Allah”(Q.S. An-Nisa: 169)

2.Neraka ladhoh: 
Tingkat kedua yaitu tempat orang yang mendustakan agama

Firman Allah SWT :

“Sebab itu Kami beri kabar pertakut kamu dengan Neraka Luza (neraka yang menyala-nyala). Tiada yang masuk kedalamnya selain orang yang celaka. Yaitu orang yang mendustakan agama dan berpaling dari pada-Nya”(Q.S. Al-Lail : 14-16)


3.Neraka Khutamah: 
Inilah neraka tingkat ketiga. yaitu tempat orang yang hanya lalai memikirkan dunianya tanpa mengerjakan kebutuhan/kepentingan untuk ibadahnya. Harta yang membuat orang durhaka.

Firman Allah SWT :

“Tahukah engkau apakah Hathamah itu? Yaitu api neraka yang menyala-nyala yang membakar hati manusia. Api yang ditutupkan kepada mereka. Sedangkan mereka itu diikatkan pada tiang yang panjang” (Q.S. Al-Humazah : 4-9)


4.Neraka sair: 
Tingkat ke-empat yaitu tempat orang yang tidak mau mengeluarkan zakat atau bagi mereka yang mengeluarkan tapi tidak pada porsinya dan Dalam neraka ini ditempatkan orang yang memakan harta anak yatim. Didalam neraka ini mereka buta, pekak, dan kulitnya tebal seperti Jabal uhud.

Firman Allah SWT :

“Bahwasanya orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan aniaya, sesungguhnya mereka memakan api sepenuh perutnya. Dan nanti mereka akan dimasukkan kedalam neraka Sair(Q.S. An-Nisa: 10)


5.Neraka Sahkhor: 
Yaitu tempat orang yang tidak melaksanakan salat, tempat orang yang berbohong tentang keberadaan Allah, menyembah selain Allah atau menyembah zat yang keluar dari sifat Allah dan Al quran,.

Didalam kitab safina : “….orang yang tidak melaksanakan solat dihukumi sebagai hewan yang tidak ada harganya/ tidak ada manfaatnya “

Didalam surga mereka saling bertanya dari hal orang berdosa. Apakah sebabnya kamu masuk neraka Saqru? Karena kami tidak sholat, kami tidak memberi makan orang miskin, kami percaya pada yang bukan-bukan. Kami mendustakan hari kiamat.(Q.S. Al-Mudatsir : 40-46)

6.Neraka jahim: 
Tingkat ke-enam yaitu ditempatkan orang kafir, orang yang mendustakan agama, yaitu orang-orang Islam yang berdosa. Mereka yang berbuat apa yang dilarang Tuhan. Umpamanya berzina, meminum khamar, dan membunuh tanpa hak.

Firman Allah SWT :
”Dan orang-orang yang kafir dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, mereka itulah penghuni neraka Jahim.(Q.S. Al-Maidah : 86)

7.Neraka Hawiyah:
Inilah neraka yang berada dibawah sekali.neraka yang paling keras, yaitu tempat orang yang ketika matinya tidak membawa iman dan islam, apinya hitam dan sudah dibakar 1000tahun lamanya, Alas atau kerak-kerak neraka. Disinilah tempat orang-orang yang berdoa berat. Mereka yang menjadi musuh nabi-nabi, seperti Firaun.

Firman Allah SWT :

“Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka dia dilemparkan ke neraka hawiyah. Tahukah engkau apakah Neraka Hawiyah itu? Yaitu api yang sangat panas”.(Q.S. Al-Qoriah : 8-11)

sahabat Abu Hurairoh “terdengar suara yang mengelegar lalu bertanyalah ke rosulullah dan rosulullah menjawab itu adalah suara batu yang jatuh dari neraka jahanam ke “teleng” sekitar dada jatuhnya 1000 tahun”.

Bersabda Nabi SAW : Adapun Neraka itu gelap gulita, tidak mempunyai penerangan kecuali api yang menyala-nyala. Neraka itu mempunyai tujuh pintu dan tiap-tiap pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu bukit, tiap-tiap bukit mempunyai tujuh puluh ribu cabangnya, tiap-tiap cabang itu terdiri atas bagian-bagian yang lebih kecil. Dan tiap-tiap bagian yang lebih kecil itu terdiri atas tujuh puluh ribu dusunnya. Dan tiap-tiap dusun itu tujuh puluh ribu rumahnya dan api yang menyala-nyala. Tiap-tiap rumah itu tujuh puluh ribu ular dan kalajengking


7 Tingkatan Surga




1.Darus Salam:
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,
“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. 6:127)

Surga adalah Darussalam (negri keselamatan) dari segala musibah, kecelakaan, dan segala hal yang tidak disukai, dan dia merupakan negri Allah subhanahu wata’ala, diambil dari nama Allah “as-Salam”. Allah subhanahu wata’ala pun mengucapkan salam atas mereka,

“Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang.” (QS. 36:57-58)


2.Jannatu ‘adn: 
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:23-24)

3.Jannatul Khuld:
Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

”Katakanlah, “Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang- orang yang bertaqwa?” Surga itu menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan:15)

4.Darul Muqamah: 
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,

“Dan mereka berkata:”Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. 35:34-35)

5.Jannatul Ma’wa:
Adalah tempat menetap sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat an-Najm di atas. Disebut demikian karena surga merupakan tempat menetapnya orang-orang mukmin

6.Jannatun Na’im:

7.Al Muqamul Amin:

Semoga Kita menjadi penghuni Surga yang Diridhoi oleh-Nya
                                         amin                                                   

7 Tingkatan Surga dan Neraka

7 Tingkatan surga dan Neraka

7 tingkatan Neraka..

2014/10/7-tingkata-surga-dan-neraka.html


1.Neraka jahanam:
Adalah tingkat yang atas sekali. yaitu tempat mukminin,mukminat,muslimin dan muslimat yang melakukan dosa kecil maupun besar

“….Demi Neraka jahanam di datangkan untuk semua orang walaupun hanya lewat / mampir dalam 1 hari”

Firman Allah SWT:

“Bahwasanya orang-orang kafir dan orang aniaya itu tidak akan diampuniAllah, dan tidak pula ditunjuki jalan, melainkan jalan ke Neraka Jahannam. Mereka kekal dalam neraka itu selama-lamanya. Yang demikian itu mudah sekali bagi Allah”(Q.S. An-Nisa: 169)

2.Neraka ladhoh: 
Tingkat kedua yaitu tempat orang yang mendustakan agama

Firman Allah SWT :

“Sebab itu Kami beri kabar pertakut kamu dengan Neraka Luza (neraka yang menyala-nyala). Tiada yang masuk kedalamnya selain orang yang celaka. Yaitu orang yang mendustakan agama dan berpaling dari pada-Nya”(Q.S. Al-Lail : 14-16)


3.Neraka Khutamah: 
Inilah neraka tingkat ketiga. yaitu tempat orang yang hanya lalai memikirkan dunianya tanpa mengerjakan kebutuhan/kepentingan untuk ibadahnya. Harta yang membuat orang durhaka.

Firman Allah SWT :

“Tahukah engkau apakah Hathamah itu? Yaitu api neraka yang menyala-nyala yang membakar hati manusia. Api yang ditutupkan kepada mereka. Sedangkan mereka itu diikatkan pada tiang yang panjang” (Q.S. Al-Humazah : 4-9)


4.Neraka sair: 
Tingkat ke-empat yaitu tempat orang yang tidak mau mengeluarkan zakat atau bagi mereka yang mengeluarkan tapi tidak pada porsinya dan Dalam neraka ini ditempatkan orang yang memakan harta anak yatim. Didalam neraka ini mereka buta, pekak, dan kulitnya tebal seperti Jabal uhud.

Firman Allah SWT :

“Bahwasanya orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan aniaya, sesungguhnya mereka memakan api sepenuh perutnya. Dan nanti mereka akan dimasukkan kedalam neraka Sair(Q.S. An-Nisa: 10)


5.Neraka Sahkhor: 
Yaitu tempat orang yang tidak melaksanakan salat, tempat orang yang berbohong tentang keberadaan Allah, menyembah selain Allah atau menyembah zat yang keluar dari sifat Allah dan Al quran,.

Didalam kitab safina : “….orang yang tidak melaksanakan solat dihukumi sebagai hewan yang tidak ada harganya/ tidak ada manfaatnya “

Didalam surga mereka saling bertanya dari hal orang berdosa. Apakah sebabnya kamu masuk neraka Saqru? Karena kami tidak sholat, kami tidak memberi makan orang miskin, kami percaya pada yang bukan-bukan. Kami mendustakan hari kiamat.(Q.S. Al-Mudatsir : 40-46)

6.Neraka jahim: 
Tingkat ke-enam yaitu ditempatkan orang kafir, orang yang mendustakan agama, yaitu orang-orang Islam yang berdosa. Mereka yang berbuat apa yang dilarang Tuhan. Umpamanya berzina, meminum khamar, dan membunuh tanpa hak.

Firman Allah SWT :
”Dan orang-orang yang kafir dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, mereka itulah penghuni neraka Jahim.(Q.S. Al-Maidah : 86)

7.Neraka Hawiyah:
Inilah neraka yang berada dibawah sekali.neraka yang paling keras, yaitu tempat orang yang ketika matinya tidak membawa iman dan islam, apinya hitam dan sudah dibakar 1000tahun lamanya, Alas atau kerak-kerak neraka. Disinilah tempat orang-orang yang berdoa berat. Mereka yang menjadi musuh nabi-nabi, seperti Firaun.

Firman Allah SWT :

“Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka dia dilemparkan ke neraka hawiyah. Tahukah engkau apakah Neraka Hawiyah itu? Yaitu api yang sangat panas”.(Q.S. Al-Qoriah : 8-11)

sahabat Abu Hurairoh “terdengar suara yang mengelegar lalu bertanyalah ke rosulullah dan rosulullah menjawab itu adalah suara batu yang jatuh dari neraka jahanam ke “teleng” sekitar dada jatuhnya 1000 tahun”.

Bersabda Nabi SAW : Adapun Neraka itu gelap gulita, tidak mempunyai penerangan kecuali api yang menyala-nyala. Neraka itu mempunyai tujuh pintu dan tiap-tiap pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu bukit, tiap-tiap bukit mempunyai tujuh puluh ribu cabangnya, tiap-tiap cabang itu terdiri atas bagian-bagian yang lebih kecil. Dan tiap-tiap bagian yang lebih kecil itu terdiri atas tujuh puluh ribu dusunnya. Dan tiap-tiap dusun itu tujuh puluh ribu rumahnya dan api yang menyala-nyala. Tiap-tiap rumah itu tujuh puluh ribu ular dan kalajengking


7 Tingkatan Surga




1.Darus Salam:
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,
“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. 6:127)

Surga adalah Darussalam (negri keselamatan) dari segala musibah, kecelakaan, dan segala hal yang tidak disukai, dan dia merupakan negri Allah subhanahu wata’ala, diambil dari nama Allah “as-Salam”. Allah subhanahu wata’ala pun mengucapkan salam atas mereka,

“Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang.” (QS. 36:57-58)


2.Jannatu ‘adn: 
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:23-24)

3.Jannatul Khuld:
Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

”Katakanlah, “Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang- orang yang bertaqwa?” Surga itu menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan:15)

4.Darul Muqamah: 
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,

“Dan mereka berkata:”Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. 35:34-35)

5.Jannatul Ma’wa:
Adalah tempat menetap sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat an-Najm di atas. Disebut demikian karena surga merupakan tempat menetapnya orang-orang mukmin

6.Jannatun Na’im:

7.Al Muqamul Amin:

Semoga Kita menjadi penghuni Surga yang Diridhoi oleh-Nya
                                         amin                                                   

Neraka Jahannam
http://antisyiah12.blogspot.com/2014/10/neraka-jahannam.html



Rosulullah saw bersabda, “Sesungguhnya neraka jahannam itu memiliki tujuh buah pintu. Setiap pintu memiliki tujuh puluh jurang. Kedalaman setiap jurang adalah tujuh puluh tahun perjalanan (1 hari=1000 tahun dunia). Setiap jurang memiliki tujuh puluh ribu jalan, setiap jalan memiliki tujuh puluh ribu gua. Disetiap gua ada tujuh puluh ribu lorong. Setiap lorong sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Di dalam setiap lorong itu terdapat tujuh puluh ribu ular. Dimulut ular itu terdapat tujuh puluh ribu kalajengking. Setiap kalajengking memiliki tujuh puluh ribu tulang punggung. Disetiap tulang punggung itu terkandung bisa yang pasti akan menyengat setiap orang kafir dan orang munafik” (al Ghunyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Rosulullah saw bersabda, “Ketika seluruh manusia duduk diatas kedua lututnya dan jahanam berjalan melenggang seperti unta yang menyerempet-nyerempet, maka ada panggilan dengan suara keras. Kemudian para Nabi, SHiddiqin. Syuhada, dan orang-orang shalih berdiri setelah didatangkan orang-orang yang terlibat dalam penganiayaan. Setelah itu akan terjadi perdebatan antara jasad dan arwah, dimana jasad akan mengalahkan arwah. Kemudian manusia didatangkan untuk menerima buku catatan amal. Sebagian mereka ada yang menerima buku catatan amalnya dengan tangan kanan, dan sebagian lagi akan menerima dengan tangan kiri, bahkan sebagian mereka ada yang menerima buku catatan amal dari balik punggungnya”
Adapun orang yang menerima catatan amal dengan tangan kanannya, dia diberi cahaya dari Tuhannya. Para malaikat akan mengucapkan selamat kepadanya atas kemuliaannya. Dia akan dapat melihat shirat dengan selamat karena Rahmat Tuhannya. Dia akan memasuki surga-NYA dan disambut oleh para penjaganya didepan pintu surga. Dia akan mengenakan pakaian, kendaraan, dan perhiasan yang sangat serasi. Kemudian mereka saling berpisah untuk menuju tempat tinggal masing-masing dan menjumpai keluarganya dengan sangat gembira di gedung tempat tinggalnya. Kemudian mereka menjumpai istri-istri mereka, maka mereka akn mendapatkan sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam pikiran mereka. Kemudian mereka makan,minum, berdandan dan bersenang-senang dengan istri mereka. Setelah itu mereka memuji Tuhannya yang telah menghilangkan kesusahan mereka dan mengaruniakan rasa aman dari apa yang mereka takutkan dan memudahkan hisab mereka. Mereka bersyukur atas kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan mereka, lalu mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. (Al A’raaf 43). Sungguh, mereka sangat bergembira karena telah membawa bekal iman dan amal shalih dari dunia. Mereka yakin, percaya, membenarkan Tuhan mereka, takut dan berharap kepada-NYA, dan ketika itu selamatlah orang-orang yang beruntung, dan binasalah orang-orang kafir” (al-Ghunyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Rosulullah saw bersabda, “Adapun orang yang menerima catatan amalnya dari tangan kirinya dan dari belakang punggungnya (saat hisab), wajahnya akan menjadi hitam, matanya menjadi berubah,, dia akan dikumpulkan dengan golongannya, badannya membesar, kulitnya mengeras, dan dia meratapi kesialannya ketika melihat buku catatan amalnya. Dia mengenali dosanya yang besar maupun yang kecil, semuanya tercatat dalam buku catatan amalnya. Betapa buruknya keadaan mereka, buruk prasangka mereka, mereka sangat takut dan susah. Kepala mereka tertunduk, mata mereka ketakutan, dan hati mereka gemetar. Mereka memandang ke neraka sebagai tempat tinggal mereka, dan pandangan mereka tidak kembali laagi. Mereka menyadari bahwa mereka akan menerima kehancuran, kebinasaan, dan kesusahan yang berkepanjangan. Mereka mengakui penghambaannya kepada Tuhannya, mereka mengakui dosa-dosanya, dan mengakui bahwa mereka berhak mendapatkan siksa di neraka. Sungguh, mereka mendapatkan murka ALLAH SWT” (al-Ghunnyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Rosulullah saw bersabda, “Ketika mereka (orang yg menerima catatan amalnya dari tangan kirinya) didepan Tuhannya, duduk di atas kedua lututnya, mengakui dosa-dosanya, mata mereka terbelalak tidak bisa melihat, hati mereka kosong tidak bisa berpikir, mereka sangat ketakutan, tidak berani berbicara, mereka terputus dengan sanak saudara dan tidak ada hubungan kekerabatan lagi. “Maka tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya” (Al-Mu’minun 101). Mereka menyesali nasib dirinya, namun tidak dapat menghindarinya. Mereka minta kembali ke dunia namun permintaan itu mustahil untuk dipenuhi. Sungguh, mereka telah yakin terhadap apa yang sudah mereka dustakan. Sekarang mereka merasa kehausan dan tidak dapat merasakan kesegaran, mereka lapar tidak bisa merasakan kenyang, mereka telanjang tidak memakai pakaian, mereka dirantai tidak ada yang menolong, dan mereka merasa susah tidak memiliki harapan. Sungguh merugi diri mereka, keluarga, harta, dan usahanya”.
Beliau saw bersabda, “Ketika mereka dalam keadaan demikian itu, tiba-tiba ALLAH swt memerintahkan para penjaga neraka Jahanam agar keluar darinya beserta para pembantunya dengan membawa seluruh alatnya yang berupa rantai, belenggu, dan gada. Kemudian mereka keluar dari jahanam ke sebuah sudut dan menunggu perintah berikutnya. Ketika orang-orang kafir dan para pendurhaka yang celaka itu memandang penjaga neraka yang sangat mengerikan, mereka menggigit tangan. Mereka memakan jari dan berteriak memaki diri sendiri. Mata mereka berlinangan, hati mereka bergetar, ketakutan, dan berputus asa dari segala kebaikan. Kemudian ALLAH swt berfirman, “Seretlah mereka, belenggulah, dan masukkanlah mereka ke neraka, kemudian ikatlah mereka dengan rantai”. (al-Ghunyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Rosulullah saw bersabda, “Orang-orang yang dikehendaki ALLAH swt untuk dilemparkan di suatu jurang (neraka), maka ALLAH akan memanggil penjaganya seraya berfirman, “Seretlah mereka”. Maka setiap orang akan diseret oleh tujuh puluh malaikat. Mereka diikat, dirantai, dan dibelenggu di lehernya. Lantas mereka ditelungkupkan diantara kepala dan kakinya ke belakang, sehingga tulang rusuk mereka patah-patah”
Beliau saw bersabda, “Ketika mereka diperlakukan demikian, mata mereka keluar, urat leher mereka pecah, daging pundak mereka mulai terbakar, daging mereka terkelupas, dan panasnya rantai menyebabkan kepala mereka mendidih. Sungguh, otak mereka mendidih lalu meleleh keluar mengenai kulitnya, dan nanah pun mengalir darinya”.
Beliau saw bersabda, “Ketika rantai dikalungkan dileher mereka sehingga memenuhi antara pundak dan telinga mereka, maka terbakarlah daging mereka, bibir mereka melepuh, gigi mereka nyeri, dan lidah mereka menjerit. Mereka dijilat oleh api yang sangat tinggi dan panasnya mengalir ke seluruh aliran darah. Bahkan, panas rantai itu telah membakar hati sehingga membengkak memenuhi kerongkongan mereka. Sungguh, mereka semakin dilalap oleh api itu sehingga suara terhenti dan badan mereka hancur” (al Ghunyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Rosulullah saw bersabda, “Ketika mereka (orang-orang yg diseret ke neraka) dalam keadaan demikian itu (dikalungkan leher dengan rantai panas), ALLAH swt memerintahkan para penjaga neraka agar mengenakan pakaian kepada mereka. ALLAH swt berfirman, “Berikan kepada mereka pakaian yang sangat hitam, busuk, dan panas”. Jika pakaian itu diletakkan diatas gunung tentu akan meleleh seketika”
Beliau saw bersabda, “Kemudian ALLAH swt berfirman kepada penjaga Jahanam, “Seretlah mereka ke tempat tinggal mereka”. Kemudian mereka datang dengan rantai lain yang lebih panjang dan lebih keras untuk mengikat mereka. Lalu setiap malaikat akan mengambil salah satu dari rantai itu untuk mengikat ujung rantai itu pada lehernya, menekuk punggungnya, dan menyeretnya diatas muka mereka bersama-sama dengan sekelompok orang lain. Dibelakang setiap kelompok itu ada tujuh puluh ribu malaikat yang memukulinya dengan gada, sehingga mereka sampai dineraka jahanam dan melemparkan mereka ke dalamnya”
Beliau saw bersabda, “Kemudian para malaikat berkata kepada mereka, “Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu kedalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan” (Ath-Thur 14-16)”. (al-Ghunyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Rosulullah saw bersabda, “Ketika mereka berada di depan neraka, pintu-pintu neraka pun dibuka dan tutupnya disingkapkan. Neraka itu menyala dan apinya menjilat-jilat. Ia mengeluarkan asap dan bola api sebanyak jumlah bintang yang meluncur ke langit sejauh kira-kira tujuh tahun perjalanan. Kemudian bola api itu kembali dan jatuh mengenai kepala mereka, sehingga rambut mereka terbakar dan kepala mereka mendidih”. Beliau saw bersabda, “Kemudian neraka jahanam akan berteriak dengan suara yang sangat keras, ‘Mari datang kepadaku wahai penghuni neraka, mari datang kepadaku wahai penghuni neraka. Ingat, demi kemuliaan Tuhanku, aku pasti akan benar-benar menyiksamu’. Kemudian neraka berkata, ‘Segala puji bagi ALLAH swt yang telah menjadikan aku untuk menyiksa para musuh-NYA. Wahai Tuhanku, tambahkanlah ra panas, dan tambahkanlah kekuatanku”.
Beliau saw bersabda, “Kemudian dari neraka itu akan keluar seorang malaikat yang lain. Dia akan mendatangi para calon penghuni neraka, lalu mengangkat mereka dengan telapak tangannya, kemudian menelungkupkan mereka dalam neraka diatas wajahnya. Kemudian mereka akan menggelinding diatas kepala mereka selama kira-kira tujuh puluh tahun sebelum mereka sampai kepuncak gunung dalam api neraka itu. Apabila mereka sampai dipuncak gunung dalam neraka, mereka tidak akan diam di tempat itu sehingga kulit setiap orang berganti tujuh puluh kali”.
Beliau saw bersabda, “Makan pertama yang akan mereka dapatkan dipuncak gunung adalah pohon zaqqum yang sangat panas, pahit, dan penuh dengan duri. Ketika mereka sedang menelan makanan itu, tiba-tiba malaikat datang memukulinya dengan gada mereka, sehingga tulang-belulang mereka patah-patah. Kemudian mereka diseret dengan kaki mereka dan dilemparkan ke dalam neraka. Mereka pun menggelinding didalam neraka diatas kepala mereka selama tujuh puluh tahun sebelum sampai dilembah neraka”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Mereka akan tinggal dilembah neraka sehingga kulit setiap orang akan berganti hingga tujuh puluh kali. Makanan mereka hanya dimulut karena tidak bisa menelannya. Sehingga, makanan dan hati mereka bertemu, menjadikan kerongkongan mereka tercekik. Setiap orang dari mereka meminta tolong agar diberi minum, ternyata dilembah itu terdapat beberapa jurang ke neraka. Mereka berjalan menuju ke jurang itu hingga sampai kesana untuk meminum air darinya. Tetapi ketika mereka hendak meminum air dari jurang itu, kulit wajah mereka terkelupas dan mereka jatuh kedalamnya, sehingga mereka tidak mampu meminumnya. Mereka berpaling dari tempat itu hingga malaikat menemukan mereka terjungkal diatas mata air. Para malaikat itu memukulinya hingga tulang-belulang mereka hancur. Lalu mereka diseret dengan kaki mereka dan dilemparkan ke dalam neraka jahanam. Mereka terus menggelinding diatas kepala mereka selama kira-kira seratus empat puluh tahun dalam jilatan api dan asap yang sangat tebal sebelum mereka sampai ke dasar jurangnya”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Mereka tidak diam didalam dasar jurang neraka itu sehingga kulit setiap orang dari mereka berganti tujuh puluh kali. Ternyata sumber air (minum) itu dari dasar jurang neraka. Ketika mereka hendak minum darinya, ternyata air itu sangat panas. Tidaklah air itu sampai ke perut mereka sehingga ALLAH mengganti kulit setiap orang dari mereka tujuh kali”.
Beliau saw bersabda, “Jika air mendidih itu sampai ke perut mereka, isi perut mereka pun hancur, lalu isinya keluar dari dubur mereka, dan yang lainnya mengalir melalui aliran darah mereka. Kemudian daging mereka akan meleleh dan tulang-belulangnya hancur. Mereka mendapati diri mereka dalam keadaan seperti itu, namun mereka (malaikat) memukuli wajah, punggung, dan kepala mereka dengan gada. Setiap gada memiliki tiga ratus mata senjata. Jika malaikat memukulkan gada itu ke kepala mereka, tengkorak dan tulang mereka akan hancur. Mereka diseret ke neraka dalam keadaan tertelungkup diatas wajah mereka sampai ke tengah jurang. Api segera menjilati kulit mereka, api itu menyala-nyala sampai ke telinga mereka. Kemudian jilatan api itu akan keluar dari tenggorokan dan tulang rusuk. Nanah busuk akan keluar dari badan mereka. Mata mereka akan keluar, lalu digantungkan pada pipi. Kemudian mereka akan dikelompokkan bersama syaitan-syaitan yang mereka ikuti dan tuhan-tuhan yang mereka mintai pertolongan. Mereka dilemparkan ke dasar jurang sehingga mereka menjerit meneriakkan penyesalannya. Harta mereka akan didatangkan , lalu dipanaskan dengan api neraka, kemudian diseterikakan ke dahi dan lambung mereka. Harta itu akan diletakkan dipunggung mereka, lalu keluar dari perut mereka”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Demi Dzat Yang nyawaku berada ditangan-NYA. Jika seorang lelaki keluar dari neraka dengan menyeret rantai yang mengikat leher dan kedua tangannya, dilehernya ada belenggu dan dikedua kakinya ada rantai, kemudian jika manusia melihatnya, tentu mereka akan lari terbirit-birit meninggalkannya”

Beliau saw bersabda, “Karena panasnya api neraka, kepedihan adzabnya dan kesempitan tempatnya, membuat kulit mereka terkelupas, tulangnya bersilangan, dan otak mereka mendidih lalu meleleh dan membakar kulit mereka. Sungguh, anggota badan mereka akan hancur, nanah busuk keluar dari tubuh mereka sehingga akan membusuk, dan ulat akan merayap disekujur tubuh mereka. Ulat itu menjadi ganas, ia memiliki kuku seperti seperti paruh burung yang akan mengoyak daging diantara tulang mereka. Ulat-ulat itu akan mengeroyok dan menghabisi mereka, memakan daging dan meminum darah mereka. Tidak ada makanan dan minuman bagi ulat itu kecuali daging dan darah mereka. Kemudian malaikat akan mengambil mereka dan menelungkupkan mereka diatas wajahnya diatas bara dan batu-batu neraka laksana gigi. Mereka disiapkan untuk digelindingkan ke neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Mereka tidak sampai ke dasar neraka, namun badan mereka telah hancur dan kulit mereka telah berganti setiap hari tujuh puluh ribu kali. Apabila mereka telah sampai kepada para penjaga neraka, kaki mereka akan diseret dan dilemparkan kedalamnya. Sungguh, tidak ada yang mengetahui berapakah kedalaman jurang neraka itu kecuali Dzat Yang Menciptakannya”. Dikatakan bahwa sesungguhnya telah tertulis dalam kitab Taurat, “Sesungguhnya lautan dunia di tengah lautan api neraka itu seperti sebuah mata air kecil di sebuah pantai samudera dunia”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Apabila mereka dilempar ke dalam neraka dan mendapatkan siksaan didalamnya, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Sepertinya siksaan orang sebelum kita ini lebih ringan”. Ketika mereka ditenggelamkan dan muncul kembali, neraka telah mendidih dan melemparkannya hingga tujuh puluh depa. Jarak tiap depa adalah antara timur dan barat. Lalu malaikat akan menggiringnya ke tempat mereka lagi dan memukulinya hingga tenggelam ke dasar neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Dari dasar jurang neraka itulah makanan dan minuman mereka. Kemudian mereka muncul dari dasar jurang itu setelah seratus empat puluh tahun. Jika salah seorang diantara mereka ingin bernafas, begitu mereka mengangkat kepalanya, maka ada tujuh puluh ribu gada yang akan menghajar kepala itu dan tidak satu pun yang luput. Sehingga mereka terbenam kembali tujuh puluh depa ke dasar neraka. Mereka di neraka dalam keadaan demikian hingga Masya ALLAH, sehingga api itu memakan daging dan tulang mereka hingga yang tinggal adalah ruh mereka. Dalam keadaan seperti itu malaikat memukuli mereka hingga tujuh puluh tahun”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Kemudian mereka diseret ke salah satu sudut neraka yang didalamnya terdapat tujuh puluh ribu gua, didalam setiap gua terdapat tujuh puluh ribu lorong, setiap lorong panjangnya tujuh puluh tahun perjalanan. Disetiap lorong itu terdapat tujuh puluh ribu ular. Panjang setiap ular tujuh puluh hasta. Setiap ular memiliki tujuh puluh taring, setiap taring mengandung racun berbisa. Disetiap mulut ular itu terdapat seribu kalajengking, dan setiap kalajengking memilii tujuh ekor, didalam setiap ekornya terdapat racun berbisa. Kemudian ruh mereka keluar dari lautan api neraka, lalu masuk ke gua tersebut. Ditempat itu mereka diberi jasad dan kulit yang baru, dan mereka diikat pada sebuah besi. Kemudian ular dan kalajengking akan menyerang mereka. Setiap orang akan diserang oleh tujuh puluh ribu ular dan tujuh puluh ribu kalajengking, dan mereka menahannya, lalu diserang sampai dada dan mereka menahannya, lalu diserang sampai kerongkongan, bibir, lidah, dan telinga sehingga mereka tidak tahan lagi dan tidak ada tempat menghindar kecuali lari ke neraka jahanam, sehingga mereka jatuh ke dalamnya. Sungguh ular-ular itu akan mencabik-cabik daging mereka dan menghisab darah mereka. Kemudian kalajengking menyengat mereka sehingga membuat daging mereka terkelupas dan tulang-tulang mereka remuk. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Apabila mereka telah masuk ke dalam neraka, mereka akan tinggal didalamnya selama tujuh puluh tahun tidak digigit ular atau disengat kalajengking. Namun selama itu mereka akan dibakar oleh api neraka lalu tubuh mereka diganti dengan daging dan kulit baru, bukan daging dan kulit sebelumnya. Mereka berteriak meminta makan. Para malaikat memberinya makanan berupa walimah, yakni jenis makanan yang lebih keras dari besi. Mereka menggigitnya namun sedikit pun tidak bisa memakannya. Mereka melemparkan makanan itu dari mulut mereka. Kemudian mereka mulai memakan tangannya sendiri karena terlalu lapar. Mula-mula memakan jari, lalu telapak tangan, lalu lengan, hingga sampai siku mereka. Dari siku, mereka makan lagi sampai pundak mereka. Sekiranya ada sesuatu yang bisa dijangkau oleh mulut mereka, tentu mereka akan memakannya juga.
Setelah memakan tubuh mereka sendiri, mereka diseret dengan besi melalui urat tumit mereka dan digantungkan di pohon zaqum. Mereka tergantung dengan kaki diatas dan kepala dibawah. Dibawah mereka api menyala-nyala. Mereka menatap api itu dengan wajah mereka selamatujuh puluh tahun sehingga jasad mereka meleleh tinggal ruhnya saja. Kemudian mereka diberi kulit dan jasad yang baru. Selanjutnya mereka digantungkan dengan jari-jari mereka, dan kobaran api menjilat-jilat dari bawah mereka. Api itu akan masuk dari pantat mereka dan memakan hati mereka. Sehingga, api akan keluar dari tenggorokan, mulut, dan telinga mereka selama tujuh puluh tahun. Kembali tulang dan daging mereka hancur lumat sehingga tinggal ruh nya. Setelah itu, mereka diberi kulit dan daging yang baru. Mereka digantung dengan mata mereka dan senantiasa disiksa sampai lumat seperti sebelumnya, hingga tidak ada bagian tubuh kecuali akan digantung juga dengannya. Sehingga, kematian akan datang kepada mereka dari tempat anggota badan itu, namun mereka tidak bisa mati sedangkan dibelakang mereka ada siksa yang sangat pedih. Setelah mereka mengalami penyiksaan sedemikian rupa, para malaikat akan membawa mereka ke tempat tinggalnya dalam keadaan terbelenggu dengan rantai, dan dalam keadaan tertelungkup diatas wajahnya”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Di neraka, mereka memiliki tempat tinggal yang sesuai dengan tingkat keburukan amal mereka. Diantara mereka ada yang diberi tempat tinggal yang panjang dan lebarnya sebulan perjalanan. Tempat tinggal itu penuh dengan api dan tidak ada yang tinggal ditempat itu kecuali dia. Ada pula yang diberi tempat tinggal dengan panjang perjalanan dua puluh sembilan hari, demikian pula lebarnya. Ada yang tempat tinggalnya lebih kecil dan sempit sejauh perjalanan sehari. Sesuai dengan besarnya tempat tinggalnya, didalamnya mereka disiksa. Sebagian mereka ada yang disiksa diatas tengkuknya, ada yang disiksa dengan duduk, ada yg disiksa dengan berlutut, ada yg disiksa dengan berdiri diatas kedua kakinya, ada yg disiksa tengkurap diatas perutnya. Semua tempat tinggal itu lebih sempit bagi penghuninya daripada busur panah.
Diantara mereka ada yang terbakar api sampai ke tumitnya, ada yang sampai lututnya, ada yg sampai pinggangnya, ada yg sampai pusatnya, ada yg sampai pundaknya, ada yg sampai tenggelam, kadang muncul kadang tenggelam, hingga perjalanan satu bulan ke dasarnya. Ketika mereka telah sampai ditempat tinggalnya, mereka dimasukkan ke dalam kelompok teman-teman mereka. Mereka menangis sampai air matanya habis lalu berubah mengeluarkan darah. Bagitu banyaknya air mata mereka sehingga perahu bisa berjalan diatasnya”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Sesungguhnya setiap hari akan datang kepada ahli neraka sebuah awan yang amat besar diatas mereka. Awan itu mengeluarkan petir dan kilat yang menyambar-nyambar mata mereka. Sungguh, awan itu menimbulkan kegelapan yang amat sangat sehingga mereka tidak dapat melihat para penjaga neraka. Tiba-tiba awan itu memanggil, “Wahai ahli neraka, apakah kamu ingin agar aku menurunkan hujan untukmu?”. Mereka semua berkata, “Turunkanlah hujan untuk kami dengan air yang dingin”. Kemudian terkadang awan itu menurunkan hujan kepada mereka berupa batu-batu yang menimpa kepala mereka hingga tembus ke duburnya, terkadang pula menurunkan hujan mereka berupa air mendidih, batu dan duri dari besi, bahkan terkadang juga menurunkan hujan kepada mereka berupa ular, kalajengking, ulat, darah, dan nanah”.
Beliau saw bersabda, “Apabila awan itu menghujani jahanam, lautan apinya akan bergolah, naik, dan marah. Tidak ada btu dan gunung kecuali akan naik sehingga ahli neraka semuaanya akan tenggelam tetapi tidak mati. Neraka ketika itu akan bertambah panasnya, asapnya, gemuruhnya, gelapnya, dan marahnya pada para penghuninya, yakni orang-orang yang durhaka kepada Tuhannya”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Seandainya pintu yang paling kecil dari pintu-pintu neraka itu dibuka dibarat, tentu gunung-gunung di jagat timur akan hancur lumat seperti air. Sekiranya jilatan api jahanam terbang dan jatuh dibarat, seorang lelaki yang berada dijagat timur tentu akan mendidih otaknya dan jasadnya akan terkelupas. Tangan malaikat memegang gada yang besar dan berat, jika dipakai memukul gunung tentu akan hancur. Sesungguhnya siksa yang paling ringan bagi ahli neraka adalah seorang lelaki yang dipakaikan kepadanya sandal dari api, lalu keluar api dari telinga dan tenggorokannya, sehingga mendidihlah otaknya”.
Rosulullah saw bersabda, “Orang-orang yang tidak dapat memelihara kemaluannya akan digantung dengan kemaluannya sesuai dengan dosa yang mereka lakukan didunia, sehingga jasad mereka hancur tinggal ruhnya. Kemudian mereka akan dibiarkan, lalu diganti dengan kulit dan daging baru, selanjutnya dipukuli lagi. Setiap orang dari mereka akan dipukuli tujh puluh ribu malaikat hingga tubuhnya hancur dan tinggal ruhnya. Damikianlah siksaan bagi mereka” (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Adapun siksa bagi pencuri adalah dipotong-potong anggota badannya lalu diperbaharui lagi. Demikianlah siksa baginya. Hanya saja, setiap orang dari mereka akan dihajar oleh tujuh puluh malaikat yang membawa parang. Orang yang memberikan saksi palsu akan digantung dengan lidahnya, kemudian akan dipukuli oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga tubuhnya hancur tinggal ruhnya saja. Adapun siksa bagi yang menyekutukan ALLAH swt, mereka akan diletakkan dalam sebuah gua di neraka, lalu ditutup pintu gua itu. Ditempat itu ada ular, kalajengking, bara dan nyala api yang mengerikan, dan asap. Di tempat itu, mereka disiksa sampai hancur lalu diganti dengan kulit dan daging baru, kemudian disiksa lagi sampai hancur dan diganti lagi tujuh puluh ribu kali”.
Beliau bersabda, “Adapun siksaan bagi para penguasa yang aniaya dan sombong, mereka akan diletakkan disebuah ruangan timah dari neraka dan dikunci, lalu diletakkan diatas dasar neraka. Setiap orang dari mereka setiap saat akan disiksa dengan seribu macam siksaan, dan setiap hari akan diganti dengan seribu kulit dan daging yang baru. Adapun orang yang berkhianat dan menipu akan dilemparkan ke dalam lautan api jahanam dalam keadaan terbelenggu, kemudian dikatakan kepada mereka, “menyelamlah sampai dasar neraka”. Padahal, tidak ada yang mengetahui kedalamannya kecualai Dzat Yang Menciptakannya. Kemudian mereka akan menyelam hingga kepala mereka muncul, dan setiap orang dari mereka akan didekati oleh tujuh puluh ribu malaikat. Setiap malaikat membawa gada besi, lalu memukul kepala orang itu. Demikianlah azab bagi mereka selamanya”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Sesungguhnya ALLAH swt telah menetapkan bahwa para penghuni neraka itu akan tinggal di neraka selama beberapa huqub, namun tidak diketahui berapa lamanya. Hanya saja, satu huqub itu sama dengan delapan puluh tahun. Satu tahun sama dengan tiga ratus enam puluh hari, dan satu hari sama dengan seribu tahun didunia”. Sungguh kebinasaanlah bagi para penghuni neraka. Sungguh penderitaan bagi wajah yang tidak tahan terkena sinar matahari, kini mereka harus disengat panas api neraka. Sungguh kebinasaan bagi kepala yang tidak tahan oleh sakit pening, ketika harus disiram oleh air mendidih. Celaka bagi mata yang tidak tahan sakit, sekarang harus dicungkil dan digantung di neraka. Celaka bagi telinga yang dipakai untuk bersenang-senang mendengarkan sesuatu yang dilarang, lalu dijilat oleh api neraka. Celaka bagi hidung yang tidak tahan mencium bau bangkai, kini disobek dengan api. Celaka bagi leher yang tidak tahan dengan rasa sakit, sekarang harus dibelenggu. Celaka bagi kulit yang tidak tahan memakai pakaian kasar, sekarang harus memakai pakaian dari pelangkin yang berbau busuk dan sangat panas. Celaka bagi perut yang tidak tahan terhadap penyakit, sekarang harus kemasukan pohon zaqqum dengan air mendidih yang merontokkan usus mereka. Sungguh celaka telapak kaki yang tidak tahan berjalan tanpa alas kaki, sekarang harus memakai sandal api, sungguh celaka, ahli neraka harus menerima berbagai macam siksaan. (Rujukan Hadist)..

Neraka Jahannam

Neraka Jahannam
http://antisyiah12.blogspot.com/2014/10/neraka-jahannam.html



Rosulullah saw bersabda, “Sesungguhnya neraka jahannam itu memiliki tujuh buah pintu. Setiap pintu memiliki tujuh puluh jurang. Kedalaman setiap jurang adalah tujuh puluh tahun perjalanan (1 hari=1000 tahun dunia). Setiap jurang memiliki tujuh puluh ribu jalan, setiap jalan memiliki tujuh puluh ribu gua. Disetiap gua ada tujuh puluh ribu lorong. Setiap lorong sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Di dalam setiap lorong itu terdapat tujuh puluh ribu ular. Dimulut ular itu terdapat tujuh puluh ribu kalajengking. Setiap kalajengking memiliki tujuh puluh ribu tulang punggung. Disetiap tulang punggung itu terkandung bisa yang pasti akan menyengat setiap orang kafir dan orang munafik” (al Ghunyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Rosulullah saw bersabda, “Ketika seluruh manusia duduk diatas kedua lututnya dan jahanam berjalan melenggang seperti unta yang menyerempet-nyerempet, maka ada panggilan dengan suara keras. Kemudian para Nabi, SHiddiqin. Syuhada, dan orang-orang shalih berdiri setelah didatangkan orang-orang yang terlibat dalam penganiayaan. Setelah itu akan terjadi perdebatan antara jasad dan arwah, dimana jasad akan mengalahkan arwah. Kemudian manusia didatangkan untuk menerima buku catatan amal. Sebagian mereka ada yang menerima buku catatan amalnya dengan tangan kanan, dan sebagian lagi akan menerima dengan tangan kiri, bahkan sebagian mereka ada yang menerima buku catatan amal dari balik punggungnya”
Adapun orang yang menerima catatan amal dengan tangan kanannya, dia diberi cahaya dari Tuhannya. Para malaikat akan mengucapkan selamat kepadanya atas kemuliaannya. Dia akan dapat melihat shirat dengan selamat karena Rahmat Tuhannya. Dia akan memasuki surga-NYA dan disambut oleh para penjaganya didepan pintu surga. Dia akan mengenakan pakaian, kendaraan, dan perhiasan yang sangat serasi. Kemudian mereka saling berpisah untuk menuju tempat tinggal masing-masing dan menjumpai keluarganya dengan sangat gembira di gedung tempat tinggalnya. Kemudian mereka menjumpai istri-istri mereka, maka mereka akn mendapatkan sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam pikiran mereka. Kemudian mereka makan,minum, berdandan dan bersenang-senang dengan istri mereka. Setelah itu mereka memuji Tuhannya yang telah menghilangkan kesusahan mereka dan mengaruniakan rasa aman dari apa yang mereka takutkan dan memudahkan hisab mereka. Mereka bersyukur atas kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan mereka, lalu mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. (Al A’raaf 43). Sungguh, mereka sangat bergembira karena telah membawa bekal iman dan amal shalih dari dunia. Mereka yakin, percaya, membenarkan Tuhan mereka, takut dan berharap kepada-NYA, dan ketika itu selamatlah orang-orang yang beruntung, dan binasalah orang-orang kafir” (al-Ghunyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Rosulullah saw bersabda, “Adapun orang yang menerima catatan amalnya dari tangan kirinya dan dari belakang punggungnya (saat hisab), wajahnya akan menjadi hitam, matanya menjadi berubah,, dia akan dikumpulkan dengan golongannya, badannya membesar, kulitnya mengeras, dan dia meratapi kesialannya ketika melihat buku catatan amalnya. Dia mengenali dosanya yang besar maupun yang kecil, semuanya tercatat dalam buku catatan amalnya. Betapa buruknya keadaan mereka, buruk prasangka mereka, mereka sangat takut dan susah. Kepala mereka tertunduk, mata mereka ketakutan, dan hati mereka gemetar. Mereka memandang ke neraka sebagai tempat tinggal mereka, dan pandangan mereka tidak kembali laagi. Mereka menyadari bahwa mereka akan menerima kehancuran, kebinasaan, dan kesusahan yang berkepanjangan. Mereka mengakui penghambaannya kepada Tuhannya, mereka mengakui dosa-dosanya, dan mengakui bahwa mereka berhak mendapatkan siksa di neraka. Sungguh, mereka mendapatkan murka ALLAH SWT” (al-Ghunnyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Rosulullah saw bersabda, “Ketika mereka (orang yg menerima catatan amalnya dari tangan kirinya) didepan Tuhannya, duduk di atas kedua lututnya, mengakui dosa-dosanya, mata mereka terbelalak tidak bisa melihat, hati mereka kosong tidak bisa berpikir, mereka sangat ketakutan, tidak berani berbicara, mereka terputus dengan sanak saudara dan tidak ada hubungan kekerabatan lagi. “Maka tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya” (Al-Mu’minun 101). Mereka menyesali nasib dirinya, namun tidak dapat menghindarinya. Mereka minta kembali ke dunia namun permintaan itu mustahil untuk dipenuhi. Sungguh, mereka telah yakin terhadap apa yang sudah mereka dustakan. Sekarang mereka merasa kehausan dan tidak dapat merasakan kesegaran, mereka lapar tidak bisa merasakan kenyang, mereka telanjang tidak memakai pakaian, mereka dirantai tidak ada yang menolong, dan mereka merasa susah tidak memiliki harapan. Sungguh merugi diri mereka, keluarga, harta, dan usahanya”.
Beliau saw bersabda, “Ketika mereka dalam keadaan demikian itu, tiba-tiba ALLAH swt memerintahkan para penjaga neraka Jahanam agar keluar darinya beserta para pembantunya dengan membawa seluruh alatnya yang berupa rantai, belenggu, dan gada. Kemudian mereka keluar dari jahanam ke sebuah sudut dan menunggu perintah berikutnya. Ketika orang-orang kafir dan para pendurhaka yang celaka itu memandang penjaga neraka yang sangat mengerikan, mereka menggigit tangan. Mereka memakan jari dan berteriak memaki diri sendiri. Mata mereka berlinangan, hati mereka bergetar, ketakutan, dan berputus asa dari segala kebaikan. Kemudian ALLAH swt berfirman, “Seretlah mereka, belenggulah, dan masukkanlah mereka ke neraka, kemudian ikatlah mereka dengan rantai”. (al-Ghunyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Rosulullah saw bersabda, “Orang-orang yang dikehendaki ALLAH swt untuk dilemparkan di suatu jurang (neraka), maka ALLAH akan memanggil penjaganya seraya berfirman, “Seretlah mereka”. Maka setiap orang akan diseret oleh tujuh puluh malaikat. Mereka diikat, dirantai, dan dibelenggu di lehernya. Lantas mereka ditelungkupkan diantara kepala dan kakinya ke belakang, sehingga tulang rusuk mereka patah-patah”
Beliau saw bersabda, “Ketika mereka diperlakukan demikian, mata mereka keluar, urat leher mereka pecah, daging pundak mereka mulai terbakar, daging mereka terkelupas, dan panasnya rantai menyebabkan kepala mereka mendidih. Sungguh, otak mereka mendidih lalu meleleh keluar mengenai kulitnya, dan nanah pun mengalir darinya”.
Beliau saw bersabda, “Ketika rantai dikalungkan dileher mereka sehingga memenuhi antara pundak dan telinga mereka, maka terbakarlah daging mereka, bibir mereka melepuh, gigi mereka nyeri, dan lidah mereka menjerit. Mereka dijilat oleh api yang sangat tinggi dan panasnya mengalir ke seluruh aliran darah. Bahkan, panas rantai itu telah membakar hati sehingga membengkak memenuhi kerongkongan mereka. Sungguh, mereka semakin dilalap oleh api itu sehingga suara terhenti dan badan mereka hancur” (al Ghunyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Rosulullah saw bersabda, “Ketika mereka (orang-orang yg diseret ke neraka) dalam keadaan demikian itu (dikalungkan leher dengan rantai panas), ALLAH swt memerintahkan para penjaga neraka agar mengenakan pakaian kepada mereka. ALLAH swt berfirman, “Berikan kepada mereka pakaian yang sangat hitam, busuk, dan panas”. Jika pakaian itu diletakkan diatas gunung tentu akan meleleh seketika”
Beliau saw bersabda, “Kemudian ALLAH swt berfirman kepada penjaga Jahanam, “Seretlah mereka ke tempat tinggal mereka”. Kemudian mereka datang dengan rantai lain yang lebih panjang dan lebih keras untuk mengikat mereka. Lalu setiap malaikat akan mengambil salah satu dari rantai itu untuk mengikat ujung rantai itu pada lehernya, menekuk punggungnya, dan menyeretnya diatas muka mereka bersama-sama dengan sekelompok orang lain. Dibelakang setiap kelompok itu ada tujuh puluh ribu malaikat yang memukulinya dengan gada, sehingga mereka sampai dineraka jahanam dan melemparkan mereka ke dalamnya”
Beliau saw bersabda, “Kemudian para malaikat berkata kepada mereka, “Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu kedalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan” (Ath-Thur 14-16)”. (al-Ghunyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani)

Rosulullah saw bersabda, “Ketika mereka berada di depan neraka, pintu-pintu neraka pun dibuka dan tutupnya disingkapkan. Neraka itu menyala dan apinya menjilat-jilat. Ia mengeluarkan asap dan bola api sebanyak jumlah bintang yang meluncur ke langit sejauh kira-kira tujuh tahun perjalanan. Kemudian bola api itu kembali dan jatuh mengenai kepala mereka, sehingga rambut mereka terbakar dan kepala mereka mendidih”. Beliau saw bersabda, “Kemudian neraka jahanam akan berteriak dengan suara yang sangat keras, ‘Mari datang kepadaku wahai penghuni neraka, mari datang kepadaku wahai penghuni neraka. Ingat, demi kemuliaan Tuhanku, aku pasti akan benar-benar menyiksamu’. Kemudian neraka berkata, ‘Segala puji bagi ALLAH swt yang telah menjadikan aku untuk menyiksa para musuh-NYA. Wahai Tuhanku, tambahkanlah ra panas, dan tambahkanlah kekuatanku”.
Beliau saw bersabda, “Kemudian dari neraka itu akan keluar seorang malaikat yang lain. Dia akan mendatangi para calon penghuni neraka, lalu mengangkat mereka dengan telapak tangannya, kemudian menelungkupkan mereka dalam neraka diatas wajahnya. Kemudian mereka akan menggelinding diatas kepala mereka selama kira-kira tujuh puluh tahun sebelum mereka sampai kepuncak gunung dalam api neraka itu. Apabila mereka sampai dipuncak gunung dalam neraka, mereka tidak akan diam di tempat itu sehingga kulit setiap orang berganti tujuh puluh kali”.
Beliau saw bersabda, “Makan pertama yang akan mereka dapatkan dipuncak gunung adalah pohon zaqqum yang sangat panas, pahit, dan penuh dengan duri. Ketika mereka sedang menelan makanan itu, tiba-tiba malaikat datang memukulinya dengan gada mereka, sehingga tulang-belulang mereka patah-patah. Kemudian mereka diseret dengan kaki mereka dan dilemparkan ke dalam neraka. Mereka pun menggelinding didalam neraka diatas kepala mereka selama tujuh puluh tahun sebelum sampai dilembah neraka”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Mereka akan tinggal dilembah neraka sehingga kulit setiap orang akan berganti hingga tujuh puluh kali. Makanan mereka hanya dimulut karena tidak bisa menelannya. Sehingga, makanan dan hati mereka bertemu, menjadikan kerongkongan mereka tercekik. Setiap orang dari mereka meminta tolong agar diberi minum, ternyata dilembah itu terdapat beberapa jurang ke neraka. Mereka berjalan menuju ke jurang itu hingga sampai kesana untuk meminum air darinya. Tetapi ketika mereka hendak meminum air dari jurang itu, kulit wajah mereka terkelupas dan mereka jatuh kedalamnya, sehingga mereka tidak mampu meminumnya. Mereka berpaling dari tempat itu hingga malaikat menemukan mereka terjungkal diatas mata air. Para malaikat itu memukulinya hingga tulang-belulang mereka hancur. Lalu mereka diseret dengan kaki mereka dan dilemparkan ke dalam neraka jahanam. Mereka terus menggelinding diatas kepala mereka selama kira-kira seratus empat puluh tahun dalam jilatan api dan asap yang sangat tebal sebelum mereka sampai ke dasar jurangnya”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Mereka tidak diam didalam dasar jurang neraka itu sehingga kulit setiap orang dari mereka berganti tujuh puluh kali. Ternyata sumber air (minum) itu dari dasar jurang neraka. Ketika mereka hendak minum darinya, ternyata air itu sangat panas. Tidaklah air itu sampai ke perut mereka sehingga ALLAH mengganti kulit setiap orang dari mereka tujuh kali”.
Beliau saw bersabda, “Jika air mendidih itu sampai ke perut mereka, isi perut mereka pun hancur, lalu isinya keluar dari dubur mereka, dan yang lainnya mengalir melalui aliran darah mereka. Kemudian daging mereka akan meleleh dan tulang-belulangnya hancur. Mereka mendapati diri mereka dalam keadaan seperti itu, namun mereka (malaikat) memukuli wajah, punggung, dan kepala mereka dengan gada. Setiap gada memiliki tiga ratus mata senjata. Jika malaikat memukulkan gada itu ke kepala mereka, tengkorak dan tulang mereka akan hancur. Mereka diseret ke neraka dalam keadaan tertelungkup diatas wajah mereka sampai ke tengah jurang. Api segera menjilati kulit mereka, api itu menyala-nyala sampai ke telinga mereka. Kemudian jilatan api itu akan keluar dari tenggorokan dan tulang rusuk. Nanah busuk akan keluar dari badan mereka. Mata mereka akan keluar, lalu digantungkan pada pipi. Kemudian mereka akan dikelompokkan bersama syaitan-syaitan yang mereka ikuti dan tuhan-tuhan yang mereka mintai pertolongan. Mereka dilemparkan ke dasar jurang sehingga mereka menjerit meneriakkan penyesalannya. Harta mereka akan didatangkan , lalu dipanaskan dengan api neraka, kemudian diseterikakan ke dahi dan lambung mereka. Harta itu akan diletakkan dipunggung mereka, lalu keluar dari perut mereka”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Demi Dzat Yang nyawaku berada ditangan-NYA. Jika seorang lelaki keluar dari neraka dengan menyeret rantai yang mengikat leher dan kedua tangannya, dilehernya ada belenggu dan dikedua kakinya ada rantai, kemudian jika manusia melihatnya, tentu mereka akan lari terbirit-birit meninggalkannya”

Beliau saw bersabda, “Karena panasnya api neraka, kepedihan adzabnya dan kesempitan tempatnya, membuat kulit mereka terkelupas, tulangnya bersilangan, dan otak mereka mendidih lalu meleleh dan membakar kulit mereka. Sungguh, anggota badan mereka akan hancur, nanah busuk keluar dari tubuh mereka sehingga akan membusuk, dan ulat akan merayap disekujur tubuh mereka. Ulat itu menjadi ganas, ia memiliki kuku seperti seperti paruh burung yang akan mengoyak daging diantara tulang mereka. Ulat-ulat itu akan mengeroyok dan menghabisi mereka, memakan daging dan meminum darah mereka. Tidak ada makanan dan minuman bagi ulat itu kecuali daging dan darah mereka. Kemudian malaikat akan mengambil mereka dan menelungkupkan mereka diatas wajahnya diatas bara dan batu-batu neraka laksana gigi. Mereka disiapkan untuk digelindingkan ke neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Mereka tidak sampai ke dasar neraka, namun badan mereka telah hancur dan kulit mereka telah berganti setiap hari tujuh puluh ribu kali. Apabila mereka telah sampai kepada para penjaga neraka, kaki mereka akan diseret dan dilemparkan kedalamnya. Sungguh, tidak ada yang mengetahui berapakah kedalaman jurang neraka itu kecuali Dzat Yang Menciptakannya”. Dikatakan bahwa sesungguhnya telah tertulis dalam kitab Taurat, “Sesungguhnya lautan dunia di tengah lautan api neraka itu seperti sebuah mata air kecil di sebuah pantai samudera dunia”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Apabila mereka dilempar ke dalam neraka dan mendapatkan siksaan didalamnya, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Sepertinya siksaan orang sebelum kita ini lebih ringan”. Ketika mereka ditenggelamkan dan muncul kembali, neraka telah mendidih dan melemparkannya hingga tujuh puluh depa. Jarak tiap depa adalah antara timur dan barat. Lalu malaikat akan menggiringnya ke tempat mereka lagi dan memukulinya hingga tenggelam ke dasar neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Dari dasar jurang neraka itulah makanan dan minuman mereka. Kemudian mereka muncul dari dasar jurang itu setelah seratus empat puluh tahun. Jika salah seorang diantara mereka ingin bernafas, begitu mereka mengangkat kepalanya, maka ada tujuh puluh ribu gada yang akan menghajar kepala itu dan tidak satu pun yang luput. Sehingga mereka terbenam kembali tujuh puluh depa ke dasar neraka. Mereka di neraka dalam keadaan demikian hingga Masya ALLAH, sehingga api itu memakan daging dan tulang mereka hingga yang tinggal adalah ruh mereka. Dalam keadaan seperti itu malaikat memukuli mereka hingga tujuh puluh tahun”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Kemudian mereka diseret ke salah satu sudut neraka yang didalamnya terdapat tujuh puluh ribu gua, didalam setiap gua terdapat tujuh puluh ribu lorong, setiap lorong panjangnya tujuh puluh tahun perjalanan. Disetiap lorong itu terdapat tujuh puluh ribu ular. Panjang setiap ular tujuh puluh hasta. Setiap ular memiliki tujuh puluh taring, setiap taring mengandung racun berbisa. Disetiap mulut ular itu terdapat seribu kalajengking, dan setiap kalajengking memilii tujuh ekor, didalam setiap ekornya terdapat racun berbisa. Kemudian ruh mereka keluar dari lautan api neraka, lalu masuk ke gua tersebut. Ditempat itu mereka diberi jasad dan kulit yang baru, dan mereka diikat pada sebuah besi. Kemudian ular dan kalajengking akan menyerang mereka. Setiap orang akan diserang oleh tujuh puluh ribu ular dan tujuh puluh ribu kalajengking, dan mereka menahannya, lalu diserang sampai dada dan mereka menahannya, lalu diserang sampai kerongkongan, bibir, lidah, dan telinga sehingga mereka tidak tahan lagi dan tidak ada tempat menghindar kecuali lari ke neraka jahanam, sehingga mereka jatuh ke dalamnya. Sungguh ular-ular itu akan mencabik-cabik daging mereka dan menghisab darah mereka. Kemudian kalajengking menyengat mereka sehingga membuat daging mereka terkelupas dan tulang-tulang mereka remuk. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Apabila mereka telah masuk ke dalam neraka, mereka akan tinggal didalamnya selama tujuh puluh tahun tidak digigit ular atau disengat kalajengking. Namun selama itu mereka akan dibakar oleh api neraka lalu tubuh mereka diganti dengan daging dan kulit baru, bukan daging dan kulit sebelumnya. Mereka berteriak meminta makan. Para malaikat memberinya makanan berupa walimah, yakni jenis makanan yang lebih keras dari besi. Mereka menggigitnya namun sedikit pun tidak bisa memakannya. Mereka melemparkan makanan itu dari mulut mereka. Kemudian mereka mulai memakan tangannya sendiri karena terlalu lapar. Mula-mula memakan jari, lalu telapak tangan, lalu lengan, hingga sampai siku mereka. Dari siku, mereka makan lagi sampai pundak mereka. Sekiranya ada sesuatu yang bisa dijangkau oleh mulut mereka, tentu mereka akan memakannya juga.
Setelah memakan tubuh mereka sendiri, mereka diseret dengan besi melalui urat tumit mereka dan digantungkan di pohon zaqum. Mereka tergantung dengan kaki diatas dan kepala dibawah. Dibawah mereka api menyala-nyala. Mereka menatap api itu dengan wajah mereka selamatujuh puluh tahun sehingga jasad mereka meleleh tinggal ruhnya saja. Kemudian mereka diberi kulit dan jasad yang baru. Selanjutnya mereka digantungkan dengan jari-jari mereka, dan kobaran api menjilat-jilat dari bawah mereka. Api itu akan masuk dari pantat mereka dan memakan hati mereka. Sehingga, api akan keluar dari tenggorokan, mulut, dan telinga mereka selama tujuh puluh tahun. Kembali tulang dan daging mereka hancur lumat sehingga tinggal ruh nya. Setelah itu, mereka diberi kulit dan daging yang baru. Mereka digantung dengan mata mereka dan senantiasa disiksa sampai lumat seperti sebelumnya, hingga tidak ada bagian tubuh kecuali akan digantung juga dengannya. Sehingga, kematian akan datang kepada mereka dari tempat anggota badan itu, namun mereka tidak bisa mati sedangkan dibelakang mereka ada siksa yang sangat pedih. Setelah mereka mengalami penyiksaan sedemikian rupa, para malaikat akan membawa mereka ke tempat tinggalnya dalam keadaan terbelenggu dengan rantai, dan dalam keadaan tertelungkup diatas wajahnya”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Di neraka, mereka memiliki tempat tinggal yang sesuai dengan tingkat keburukan amal mereka. Diantara mereka ada yang diberi tempat tinggal yang panjang dan lebarnya sebulan perjalanan. Tempat tinggal itu penuh dengan api dan tidak ada yang tinggal ditempat itu kecuali dia. Ada pula yang diberi tempat tinggal dengan panjang perjalanan dua puluh sembilan hari, demikian pula lebarnya. Ada yang tempat tinggalnya lebih kecil dan sempit sejauh perjalanan sehari. Sesuai dengan besarnya tempat tinggalnya, didalamnya mereka disiksa. Sebagian mereka ada yang disiksa diatas tengkuknya, ada yang disiksa dengan duduk, ada yg disiksa dengan berlutut, ada yg disiksa dengan berdiri diatas kedua kakinya, ada yg disiksa tengkurap diatas perutnya. Semua tempat tinggal itu lebih sempit bagi penghuninya daripada busur panah.
Diantara mereka ada yang terbakar api sampai ke tumitnya, ada yang sampai lututnya, ada yg sampai pinggangnya, ada yg sampai pusatnya, ada yg sampai pundaknya, ada yg sampai tenggelam, kadang muncul kadang tenggelam, hingga perjalanan satu bulan ke dasarnya. Ketika mereka telah sampai ditempat tinggalnya, mereka dimasukkan ke dalam kelompok teman-teman mereka. Mereka menangis sampai air matanya habis lalu berubah mengeluarkan darah. Bagitu banyaknya air mata mereka sehingga perahu bisa berjalan diatasnya”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Sesungguhnya setiap hari akan datang kepada ahli neraka sebuah awan yang amat besar diatas mereka. Awan itu mengeluarkan petir dan kilat yang menyambar-nyambar mata mereka. Sungguh, awan itu menimbulkan kegelapan yang amat sangat sehingga mereka tidak dapat melihat para penjaga neraka. Tiba-tiba awan itu memanggil, “Wahai ahli neraka, apakah kamu ingin agar aku menurunkan hujan untukmu?”. Mereka semua berkata, “Turunkanlah hujan untuk kami dengan air yang dingin”. Kemudian terkadang awan itu menurunkan hujan kepada mereka berupa batu-batu yang menimpa kepala mereka hingga tembus ke duburnya, terkadang pula menurunkan hujan mereka berupa air mendidih, batu dan duri dari besi, bahkan terkadang juga menurunkan hujan kepada mereka berupa ular, kalajengking, ulat, darah, dan nanah”.
Beliau saw bersabda, “Apabila awan itu menghujani jahanam, lautan apinya akan bergolah, naik, dan marah. Tidak ada btu dan gunung kecuali akan naik sehingga ahli neraka semuaanya akan tenggelam tetapi tidak mati. Neraka ketika itu akan bertambah panasnya, asapnya, gemuruhnya, gelapnya, dan marahnya pada para penghuninya, yakni orang-orang yang durhaka kepada Tuhannya”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Seandainya pintu yang paling kecil dari pintu-pintu neraka itu dibuka dibarat, tentu gunung-gunung di jagat timur akan hancur lumat seperti air. Sekiranya jilatan api jahanam terbang dan jatuh dibarat, seorang lelaki yang berada dijagat timur tentu akan mendidih otaknya dan jasadnya akan terkelupas. Tangan malaikat memegang gada yang besar dan berat, jika dipakai memukul gunung tentu akan hancur. Sesungguhnya siksa yang paling ringan bagi ahli neraka adalah seorang lelaki yang dipakaikan kepadanya sandal dari api, lalu keluar api dari telinga dan tenggorokannya, sehingga mendidihlah otaknya”.
Rosulullah saw bersabda, “Orang-orang yang tidak dapat memelihara kemaluannya akan digantung dengan kemaluannya sesuai dengan dosa yang mereka lakukan didunia, sehingga jasad mereka hancur tinggal ruhnya. Kemudian mereka akan dibiarkan, lalu diganti dengan kulit dan daging baru, selanjutnya dipukuli lagi. Setiap orang dari mereka akan dipukuli tujh puluh ribu malaikat hingga tubuhnya hancur dan tinggal ruhnya. Damikianlah siksaan bagi mereka” (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Adapun siksa bagi pencuri adalah dipotong-potong anggota badannya lalu diperbaharui lagi. Demikianlah siksa baginya. Hanya saja, setiap orang dari mereka akan dihajar oleh tujuh puluh malaikat yang membawa parang. Orang yang memberikan saksi palsu akan digantung dengan lidahnya, kemudian akan dipukuli oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga tubuhnya hancur tinggal ruhnya saja. Adapun siksa bagi yang menyekutukan ALLAH swt, mereka akan diletakkan dalam sebuah gua di neraka, lalu ditutup pintu gua itu. Ditempat itu ada ular, kalajengking, bara dan nyala api yang mengerikan, dan asap. Di tempat itu, mereka disiksa sampai hancur lalu diganti dengan kulit dan daging baru, kemudian disiksa lagi sampai hancur dan diganti lagi tujuh puluh ribu kali”.
Beliau bersabda, “Adapun siksaan bagi para penguasa yang aniaya dan sombong, mereka akan diletakkan disebuah ruangan timah dari neraka dan dikunci, lalu diletakkan diatas dasar neraka. Setiap orang dari mereka setiap saat akan disiksa dengan seribu macam siksaan, dan setiap hari akan diganti dengan seribu kulit dan daging yang baru. Adapun orang yang berkhianat dan menipu akan dilemparkan ke dalam lautan api jahanam dalam keadaan terbelenggu, kemudian dikatakan kepada mereka, “menyelamlah sampai dasar neraka”. Padahal, tidak ada yang mengetahui kedalamannya kecualai Dzat Yang Menciptakannya. Kemudian mereka akan menyelam hingga kepala mereka muncul, dan setiap orang dari mereka akan didekati oleh tujuh puluh ribu malaikat. Setiap malaikat membawa gada besi, lalu memukul kepala orang itu. Demikianlah azab bagi mereka selamanya”. (Rujukan Hadist)

Rosulullah saw bersabda, “Sesungguhnya ALLAH swt telah menetapkan bahwa para penghuni neraka itu akan tinggal di neraka selama beberapa huqub, namun tidak diketahui berapa lamanya. Hanya saja, satu huqub itu sama dengan delapan puluh tahun. Satu tahun sama dengan tiga ratus enam puluh hari, dan satu hari sama dengan seribu tahun didunia”. Sungguh kebinasaanlah bagi para penghuni neraka. Sungguh penderitaan bagi wajah yang tidak tahan terkena sinar matahari, kini mereka harus disengat panas api neraka. Sungguh kebinasaan bagi kepala yang tidak tahan oleh sakit pening, ketika harus disiram oleh air mendidih. Celaka bagi mata yang tidak tahan sakit, sekarang harus dicungkil dan digantung di neraka. Celaka bagi telinga yang dipakai untuk bersenang-senang mendengarkan sesuatu yang dilarang, lalu dijilat oleh api neraka. Celaka bagi hidung yang tidak tahan mencium bau bangkai, kini disobek dengan api. Celaka bagi leher yang tidak tahan dengan rasa sakit, sekarang harus dibelenggu. Celaka bagi kulit yang tidak tahan memakai pakaian kasar, sekarang harus memakai pakaian dari pelangkin yang berbau busuk dan sangat panas. Celaka bagi perut yang tidak tahan terhadap penyakit, sekarang harus kemasukan pohon zaqqum dengan air mendidih yang merontokkan usus mereka. Sungguh celaka telapak kaki yang tidak tahan berjalan tanpa alas kaki, sekarang harus memakai sandal api, sungguh celaka, ahli neraka harus menerima berbagai macam siksaan. (Rujukan Hadist)..

http://antisyiah12.blogspot.com/2014/10/malaikat-maut.html


Malaikat Maut

Diciptakannya malaikatul maut oleh Allah Ta’ala adalah untuk memegang mati (pencabut nyawa). Setelah Malaikatul Maut itu diberi tugas untuk mencabut nyawa, ia bertanya “Ya Tuhanku, apakah gerangan maut itu? “Maka Allah Ta’ala memerintahkan hijab untuk membuka (kan diri) dan tahulah Malaikat Maut akan kematian. Kemudian Allah berfirman kepada sekalian malaikat “Mendekatlah kamu semua dan lihatlah Malaikatul Maut ini! Setelah semua malaikat mendekat, Allah berfirman kepada Malaikatul Maut : “Terbanglah di atas mereka dan bentangkanlah seluruh sayapmu serta bukalah semua matamu!” Ketika Malaikatul Maut menuruti semua perintah Allah Ta’ala sekalian malaikat pun tersungkur pingsan selama 1.000 tahun.

Ketika para malaikat telah siuman kembali, mereka bertanya kepada Allah “Ya Tuham kami, mengapa Engkau menciptakan yang lebih besar dari makhluk ini?” Allah berfirman “Aku yang menciptakannya dan Aku lebih besar darinya. Seluruh makhluk akan merasakan darinya!” Kemudian Allah melanjutkan firmannya: “Ya Izrail cabutan nyawa (mati) telah Aku pasrahkan kepadamu untuk mencabutnya!” Izrail bertanya, “Ya Tuhanku, dengan kekuatan apa aku mencabut nyawa, karena sesungguhnya mati itu lebih besar daripada aku?”

Kemudian Allah pun memberi kekuatan pada Izrail, untuk mencabut mati, dan digenggamlah mati itu ditangannya. Dam maut (mati) itu berkata, “Ya Tuhanku, izinkanlah aku untuk memanggil sekali saja seluruh langit!” Allah pun mengizinkannya. Kemudian Maut memanggil seluruh langit dan isinya dengan suara yang keras “Aku adalah Maut !. Yang memisahkan tiap-tiap kekasih, aku adalah Maut yang memisahkan suami istri! aku adalah Maut yang memisahkan anak dengan ibunya! aku adalah Maut yang memisahkan saudara laki-laki dengan saudara wanita! aku adalah Maut yang meramaikan kubur! Meskipun kamu berada digedung besi yang terkunci rapat, aku akan memburumu dan menemukanmu. Tidak ada seorang makhluk pun, kecuali akan merasakan aku!”

Sesungguhnya orang-orang kafir dan munafik adalah orang-orang yang celaka, ketika maut mendatangi mereka, Malaikat Adzab yang hitam mukanya turun di sisi kiri mereka, dengan mata melotot dan dengan memakai pakaian dari siksa (adzab). Lalu malaikat Adzab duduk agak jauh dari si kafir, sampai datang Malaikat Maut. Untuk mencabut nyawa orang kafir dan munafik, Malaikat Maut datang dalam bentuk yang sangat menyeramkan.

Maka berkatalah orang kafir yang telah mati itu “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku berbuat amal shalih yang pernah aku tinggalkan. Dan berfirman Allah Ta’ala “Apabila terlah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sedikitpun dan tidak pula mendahulukan (nya)”.

Maka dicabutlah nyawa oleh Malaikatul Maut. Jika orang itu beriman, maka ia akan berbahagia. Namun jika orang itu munafik ia akan celaka, karena apa yang diperbuatnya didunia senantiasa dipantau dan amalannya ditulis dalam kitab, sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini:
“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya ktab orang-orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin“. (Surat Al Muthaffifin : 7).

Sijjin adalah nama kitab yang mencatat segala amal perbuatan orang-orang durhaka


Malaikat Maut

http://antisyiah12.blogspot.com/2014/10/malaikat-maut.html


Malaikat Maut

Diciptakannya malaikatul maut oleh Allah Ta’ala adalah untuk memegang mati (pencabut nyawa). Setelah Malaikatul Maut itu diberi tugas untuk mencabut nyawa, ia bertanya “Ya Tuhanku, apakah gerangan maut itu? “Maka Allah Ta’ala memerintahkan hijab untuk membuka (kan diri) dan tahulah Malaikat Maut akan kematian. Kemudian Allah berfirman kepada sekalian malaikat “Mendekatlah kamu semua dan lihatlah Malaikatul Maut ini! Setelah semua malaikat mendekat, Allah berfirman kepada Malaikatul Maut : “Terbanglah di atas mereka dan bentangkanlah seluruh sayapmu serta bukalah semua matamu!” Ketika Malaikatul Maut menuruti semua perintah Allah Ta’ala sekalian malaikat pun tersungkur pingsan selama 1.000 tahun.

Ketika para malaikat telah siuman kembali, mereka bertanya kepada Allah “Ya Tuham kami, mengapa Engkau menciptakan yang lebih besar dari makhluk ini?” Allah berfirman “Aku yang menciptakannya dan Aku lebih besar darinya. Seluruh makhluk akan merasakan darinya!” Kemudian Allah melanjutkan firmannya: “Ya Izrail cabutan nyawa (mati) telah Aku pasrahkan kepadamu untuk mencabutnya!” Izrail bertanya, “Ya Tuhanku, dengan kekuatan apa aku mencabut nyawa, karena sesungguhnya mati itu lebih besar daripada aku?”

Kemudian Allah pun memberi kekuatan pada Izrail, untuk mencabut mati, dan digenggamlah mati itu ditangannya. Dam maut (mati) itu berkata, “Ya Tuhanku, izinkanlah aku untuk memanggil sekali saja seluruh langit!” Allah pun mengizinkannya. Kemudian Maut memanggil seluruh langit dan isinya dengan suara yang keras “Aku adalah Maut !. Yang memisahkan tiap-tiap kekasih, aku adalah Maut yang memisahkan suami istri! aku adalah Maut yang memisahkan anak dengan ibunya! aku adalah Maut yang memisahkan saudara laki-laki dengan saudara wanita! aku adalah Maut yang meramaikan kubur! Meskipun kamu berada digedung besi yang terkunci rapat, aku akan memburumu dan menemukanmu. Tidak ada seorang makhluk pun, kecuali akan merasakan aku!”

Sesungguhnya orang-orang kafir dan munafik adalah orang-orang yang celaka, ketika maut mendatangi mereka, Malaikat Adzab yang hitam mukanya turun di sisi kiri mereka, dengan mata melotot dan dengan memakai pakaian dari siksa (adzab). Lalu malaikat Adzab duduk agak jauh dari si kafir, sampai datang Malaikat Maut. Untuk mencabut nyawa orang kafir dan munafik, Malaikat Maut datang dalam bentuk yang sangat menyeramkan.

Maka berkatalah orang kafir yang telah mati itu “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku berbuat amal shalih yang pernah aku tinggalkan. Dan berfirman Allah Ta’ala “Apabila terlah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sedikitpun dan tidak pula mendahulukan (nya)”.

Maka dicabutlah nyawa oleh Malaikatul Maut. Jika orang itu beriman, maka ia akan berbahagia. Namun jika orang itu munafik ia akan celaka, karena apa yang diperbuatnya didunia senantiasa dipantau dan amalannya ditulis dalam kitab, sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini:
“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya ktab orang-orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin“. (Surat Al Muthaffifin : 7).

Sijjin adalah nama kitab yang mencatat segala amal perbuatan orang-orang durhaka


http://antisyiah12.blogspot.com/2014/10/malam-pertama-di-alam-kubur-barzakh.html


Malam Pertama di Alam Kubur/ Barzakh

Bagaimana suasana malam pertama di alam kubur… Bagaimana kedasyatan siksaannya…? Dosa-dosa apakah yang menyebabkan siksaan kubur…? Bagaimana kaedah menjemput kematian terindah…?

“Setiap yang bernyawa pasti merasai mati, Wahai jiwa yang tenang, Pulanglah kehadrat Tuhan mu dengan gembira dan diredhai, masuklah dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuk pula dalam syurga-Ku…”

Pada hari itu ia begitu bahagia, menikmati indahnya alam ciptaan Allah, bersama anak dan keluarga, penuh keceriaan, hidup dalam kesenangan dan kehidupan yang terjamin, tertawa melihat telatah anak-anaknya, demikian pula dia ditertawakan oleh anak-anaknya… lalu tiba-tiba ia didatangi oleh suatu malam, malam disaat dia dijemput oleh kematiannya…

Sakarat….. Sakaratul Maut….

“Dan datangnya sakaratul maut itu benar… Itulah yang kamu selalu lari dari padanya… Ditiuplah sangkakala Hari terlaksananya Ancaman… Setiap jiwa datang dengan malaikat yang jadi saksi… Sungguh kami lalai akan kenyataan ini… Maka kami singkapkan kakitanganmu, pada hari itu hingga penglihatanmu menjadi jelas” (Qaf: 19-22).

Malam itulah malam pertama ia berada dalam alam kubur… sendiri dikecam oleh kesunyian, tanpa anak dan isteri/suami juga sahabat karib… yang ada hanyalah amal… inilah malam pertama anak kita menjadi yatim, dan isteri/suami kita menjadi janda/duda… malam pertama yang menggusur dari tempat tidur yang empuk menuju dinginnya tanah berselimutkan kafan… inilah malam yang mengusir kita dari rumah mewah dan megah.. menempati liang lahad yang gelap dan sempit… kelmarin malam kita masih berpesta, makan dan minum bersama sahabat karib… tiba-tiba kita masuk pada malam pertama dimana kita menjadi santapan cacing tanah dan serangga… pada malam ini kita baru sedar.. Ternyata… HARTA, KELUARGA, PEKERJAAN yang keras kita mencarinya sampai lalai dari mengingati Allah… tidak sedikitpun daripada semua itu menemani dan membela kita…

Allah SWT berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur, janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu” (At-Takatsur: 1-3)

Inilah malam episod pertama dari alam akhirat, kuburan boleh menjadi taman syurga, sebaliknya ia boleh menjadi satu lubang dari lubang-lubang neraka… inilah kematian datang dengan tiba-tiba… ia datang tepat pada waktunya… tidak lambat dan tidak cepat… meragut dengan paksa, melenyapkan segala nikmat dunia.. tidak pernah menilai kita tua atau muda, kaya atau miskin, sihat atau sakit… ia datang untuk mengeluarkan manusia dari alam kehidupan yang selama ini kita jalani.. ketahuilah rumah yang kukuh dan megah tidak akan mampu membentengi datangnya sang pencabut nyawa…

Banyaknya wang di bank tidak mampu memberi rasuah kepada Malaikat untuk undurkan waktu kematiannya… inilah realiti kematian… sudah bersiapkah kita menghadapi malam pertamanya… Bukankah Rasulullah Saw ada bersabda “ Orang yang bijak adalah yang sentiasa mengingati mati di antara kamu, dan ada bekalan setelah kematiannya..” Marilah kita siapkan bekalan untuk menjadi penyinar di alam kubur nanti… demi Allah, tiada yang sanggup menerangkannya melainkan dengan iman dan amal yang soleh..

Metode Menjemput Kematian…

“Kematian adalah nasihat terbaik dan guru kehidupan, sedikit sahaja kita lengah dari memikirkan kematian, maka kita akan kehilangan guru terbaik dalam kehidupan”

Sesungguhnya manusia telah memilih bagaimana akhir hidupnya… dan pilihan itu ada pada bagaimana ia menjalani kehidupannya… sebagaimana ia menjalani kehidupannya seperti itulah berakhirnya kematiannya… kerana sesungguhnya dengan menjalani kehidupan bererti kita sedang menuju kepada kematian kita…

Pernahkah kita mendengar berita tentang seorang penzina mati di katil hotel diatas perut pasanganya… seorang penagih dadah mati ketika menghisapnya… dan para penjudi mati diatas meja judinya… begitu juga kita pernah mendengar ahli ibadah mati di atas tikar sejadahnya…

Alangkah malangnya, saat ajal tiba kita masih berlumur dosa berbalut nista… inilah malam pertama kita DI ALAM KUBUR… sendiri, di cekam sepi gelap yang tidak pernah terbayang… hilanglah sudah… semua gemerlapnya DUNIA… RUMAH dengan jerih payah bertahun-tahun telah kita bangunkan… ISTERI/SUAMI dan pengabdiannya begitu tulus… ANAK, yang padanya darah daging kita… ORANG TUA yang titisan kasih sayangnya.. mengalir di tubuh kita… dan PEKERJAAN, yang bermati-matian kita habiskan waktu untuknya… KERETA MEWAH yang selalu menjadi kebanggaan… tapi kini hari itu telah pergi… masa pun telah tiada… yang tersisa hanya dosa… yang terus terbayang…

TERINGAT… akan ISTERI/SUAMI yang sentiasa dinafikan hak-haknya… ANAK, yang telah kita kotori tubuhnya dari nafkah yang HARAM… ORANG TUA, yang di sisa hidupnya belum sempat dibahagiakan… SAHABAT KARIB, yang meminta bantuan kita biarkan… dan KAWAN-KAWAN, yang telah banyak kita kecewakan…

Ya ALLAH, masihkah ada hari milik-Mu untukku… agar boleh ku lunaskan segala urusan… lilitan hutang yang belum terbayar… banyaknya AMANAH dan KEPERCAYAAN yang tidak disampaikan… beribu JANJI yang sering diingkari… dan WANG RASUAH, yang telah kita nikmati dan kita bagi… namun kini, PINTU-MU… sudah tertutup rapat… bertaubat sudah terlambat, menyesali diri sudah tidak bererti… dan tinggallah sendiri menanggung beban DOSA dan KESALAHAN yang tidak terMAAFKAN… merasakan PENDERITAAN yang PANJANG yang tiada berakhir… SEKARANG, adakah dalam hati kita MATI itu sebagai PENASIHAT..??? Semoga selagi masih ada waktu…

Fase-Fase Alam Kubur

Kesempitan kubur, pertanyaan malaikat, azab atau nikmat kubur, ditempatkannya ruh dan kebangkitan…

Alam kubur adalah alam perantaraan kehidupan dunia dan akhirat yang dimulai setelah kematian dan berakhir selepas kebangkitan… selama masa ini, seorang yang beriman merasa bahagia… sementara orang kafir merasa sengsara… orang yang sudah mati akan dihimpit dalam kubur… siapa pun ia kafir atau muslim akan merasakan himpitan kubur… bezanya penyimpitan yang dirasakan seorang mukmin tidak berlaku selamanya, tidak seperti orang kafir yang akan berterusan himpitan kuburnya sampai hancur tulang-tulangnya…

Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan, seandainya ada orang yang selamat darinya, maka selamatlah Sa’ad Bin Mu’adz…” Sa’ad Bin Mu’adz akan mengalami himpitan kubur, padahal ia adalah seorang pemimpin penuh kemuliaan, kematiannya menggoncangkan ‘Arasy, dibukakan baginya pintu-pintu langit, Kasyahidannya disaksikan oleh 70 ribu malaikat…

Hadis yang diriwayatkan oleh Nasa’I dari Rasulullah SAW: “Kematiannya menggoncangkan ‘Arasy, dibukakan baginya pintu-pintu langit, pintu yang banyak, Kesyahidannya disaksikan oleh 70 ribu malaikat, maka sungguh ia mengalami himpitan kubur, kemudian Allah melapangkanya.”

Apabila Sa’ad Bin Mu’adz seorang pemimpin yang besar, hamba Alah yang soleh dan mendapatkan mati Syahid mengalami himpitan kubur… bagaimana dengan kita..? Allahuakhbar… Ya Allah Terimalah taubat-ku… selamatkanlah aku dari azab kubur…

Rasulullah SAW bersabda “Seorang manusia apabila diletakkan dia di dalam kuburnya dan sahabatnya berpaling pulang sedang ia mendengar suara sandal mereka akan datang kepadanya dua malaikat dan mendudukkannya dan bertanya… SIAPAKAH TUHAN-MU…?, SIAPAKAH NABI-MU…?, APAKAH AGAMA-MU…?… dia menjawab, ALLAH ADALAH TUHAN-KU… MUHAMMAD ADALAH NABI-KU… ISLAM ADALAH AGAMA-KU…

Terdengarlah seruan dari langit, “Benar.. Hambaku, hamparkan baginya tikar dari syurga, lalu angin dan wangi syurga datang kepadanya kemudian kubur diluaskan seluas mata memandang, seorang yang rupawan datang menemaninya, yang tiada lain itulah amal solehnya.” (Hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, Hakim dan Baihaqi).

Benarkah kita… boleh menjawabnya…? Dari lisan yang jarang menyebut Asma-Nya… dan ibadah yang sering kita remehkan… Serta sunnah Rasul… yang kita abaikan… pada saat itu… kita hanya mampu menjawab… TIDAK… TIDAK… TIDAAAKKKKK…

Terdengarlah suara penyeru dari langit… Hambaku ini seorang pendusta… Hamparkan padanya tikar dari api neraka, bukakan baginya pintu neraka, panas dan keringnya neraka mendatanginya… Kubur disempitkan sampai pecah tulang-tulangnya… seorang berwajah buruk berpakaian buruk dan berbau busuk datang kepadanya… Yang tiada lain itulah amal buruknya…

Tragedi… Siksa Kubur

“Aisyah Ra bertanya tentang azab kubur, Rasulullah SAW menjawab: Ya, azab kubur pasti ada.” (HR. Bukhari – Dalam Kitab Al-Janaiz).

“Aisyah Ra meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW berdoa dalam solatnya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur…” (HR. Mutafaqun Alaih).

“Ketika orang-orang yang derhaka kepada Allah tidak mampu menjawab pertanyaan malaikat, lalu ia dipukul dengan besi… hingga ia menjerit dengan teriakan yang sangat keras… didengar oleh semua makhluk Allah, kecuali Jin dan Manusia,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saatnya kita menyaksikan… kejadian nyata tentang siksa kubur yang berlaku di Jazirah Arab… Seorang pemuda yang dikeluarkan dari kuburnya setelah beberapa jam dia dikuburkan… Akibat mengalami azab kubur, pemuda tersebut telah berubah wajah dan jasadnya… Pemuda tersebut merupakan remaja muslim yang meninggal pada usia 18 tahun… seorang pemuda yang rosak akhlak dan agamanya… dan sering melalaikan solat… hampir tiga (3) jam pemuda tersebut dikuburkan, pihak keluarga meminta kubur tersebut digali semula untuk keperluan tertentu…

Dan apa yang terjadi selepas mayat tersebut dikeluarkan… pandangan yang sangat mengaibkan… Rambut yang hitam menjadi putih… Dari mulut dan hidung keluar darah yang masih merah pekat… seperti baru mengalami siksaan kubur yang sangat keras… seperti ada yang memukul dibahagian belakang kepalanya… dengan wajah seperti dilemas dan membeku.



Bagi seorang muslim… ini adalah pengajaran yang sangat-sangat berharga agar segera memperbaiki hidupnya… dengan bertaubat dari dosa-dosa yang telah dilakukan…

Sementara itu… sebagai pengajaran dan iktibar untuk kita…

Suara jeritan jutaan manusia di alam bumi yang lain… di sebuah lubang galian yang berada di daerah Siberia… Dr. Azzacove bersama kumpulannya telah melakukan sebuah kajian tentang pergerakan perut bumi di daerah Siberia, Rusia… kemudian mereka memasang alat pembesar suara supersensitive untuk mendengar suara pergerakan perut bumi… sebuah penemuan yang sangat mengejutkan, ketika mesin penggali sampai pada salah satu perut/kulit bumi… dari ruang/alam bumi yang lain, terdengar suara manusia berteriakan sangat keras dalam kesakitan… bahkan suara jeritan itu jumlahnya bukan seorang tetapi ribuan bahkan jutaan orang… sebagai seorang muslim kita tidak akan ragu lagi bahawa suara tersebut adalah suara manusia yang sedang disiksa di ALAM KUBUR…

Sebab-Sebab Siksa Kubur…

Ibnu Qoyyim Rahimahullah, dalam kitab Ar-Ruh menyebutkan ada beberapa dosa dan maksiat yang dapat menyebabkan kita disiksa di ALAM KUBUR, diantaranya :

1. Melalaikan Solat
2. Membaca al-Quran kemudian melupakannya
3. Tidak bersuci setelah membuang hadas kecil
4. Berkata bohong
5. Tidak membayar zakat
6. Corak kehidupan yang berlebih-lebihan
7. Memakan riba
8. Rasuah
9. Memfitnah sesama saudara muslim
10. Khianat terhadap amanah
11. Enggan menolong sesama muslim
12. Meminum arak
13. Berzina
14. Membunuh

“Wahai anak Adam… Sesungguhnya apa yang kau minta dari-Ku… dan yang kau harapkan dari-Ku… Ampunan-Ku bagimu yang meminta dan tidak bagi yang enggan…”

“Wahai anak Adam… Meskipun dosamu sepenuh petala langit… kemudian engkau meminta ampun pada-Ku… Ampunan-Ku bagimu dan tidak bagi yang enggan…”

“Wahai anak Adam… Seandainya kau datang pada–Ku dengan kesalahan seluas bumi… kemudian engkau datang kepada-Ku… dan tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu pun… Sungguh Aku akan berikan kepadamu ampunan…”

Ya Allah… terimalah taubatku… Ya Allah… terimalah taubatku… Ya Allah… terimalah taubatku…

Alangkah bahagianya… seandainya maut menjemput kita sedang berurai air mata merasakan manisnya iman dalam sujud penghambaan… rindu akan perjumpaan dengan-Nya…

Alangkah indahnya air mata yang selalu berlinang dari munajat seorang anak soleh kepada Allah… Merindukan kemuliaan dan keselamatan bagi kedua orang tuanya… taburan doanya menjadi cahaya yang menerangi dari gelapnya ALAM KUBUR.

Doa-doanya menghantar kepulangan orang tuanya pada Allah dalam Husnul Khatimah… rintihan dan munajatnya menjadi benteng yang kukuh sebagai penghalang dari azab dan siksa kubur… Doa yang tiada terputus mengalir dari ketulusan dan keheningan hati agar orang tuanya dalam kasih sayang Allah.

Malam Pertama di Alam Kubur/ Barzakh

http://antisyiah12.blogspot.com/2014/10/malam-pertama-di-alam-kubur-barzakh.html


Malam Pertama di Alam Kubur/ Barzakh

Bagaimana suasana malam pertama di alam kubur… Bagaimana kedasyatan siksaannya…? Dosa-dosa apakah yang menyebabkan siksaan kubur…? Bagaimana kaedah menjemput kematian terindah…?

“Setiap yang bernyawa pasti merasai mati, Wahai jiwa yang tenang, Pulanglah kehadrat Tuhan mu dengan gembira dan diredhai, masuklah dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuk pula dalam syurga-Ku…”

Pada hari itu ia begitu bahagia, menikmati indahnya alam ciptaan Allah, bersama anak dan keluarga, penuh keceriaan, hidup dalam kesenangan dan kehidupan yang terjamin, tertawa melihat telatah anak-anaknya, demikian pula dia ditertawakan oleh anak-anaknya… lalu tiba-tiba ia didatangi oleh suatu malam, malam disaat dia dijemput oleh kematiannya…

Sakarat….. Sakaratul Maut….

“Dan datangnya sakaratul maut itu benar… Itulah yang kamu selalu lari dari padanya… Ditiuplah sangkakala Hari terlaksananya Ancaman… Setiap jiwa datang dengan malaikat yang jadi saksi… Sungguh kami lalai akan kenyataan ini… Maka kami singkapkan kakitanganmu, pada hari itu hingga penglihatanmu menjadi jelas” (Qaf: 19-22).

Malam itulah malam pertama ia berada dalam alam kubur… sendiri dikecam oleh kesunyian, tanpa anak dan isteri/suami juga sahabat karib… yang ada hanyalah amal… inilah malam pertama anak kita menjadi yatim, dan isteri/suami kita menjadi janda/duda… malam pertama yang menggusur dari tempat tidur yang empuk menuju dinginnya tanah berselimutkan kafan… inilah malam yang mengusir kita dari rumah mewah dan megah.. menempati liang lahad yang gelap dan sempit… kelmarin malam kita masih berpesta, makan dan minum bersama sahabat karib… tiba-tiba kita masuk pada malam pertama dimana kita menjadi santapan cacing tanah dan serangga… pada malam ini kita baru sedar.. Ternyata… HARTA, KELUARGA, PEKERJAAN yang keras kita mencarinya sampai lalai dari mengingati Allah… tidak sedikitpun daripada semua itu menemani dan membela kita…

Allah SWT berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur, janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu” (At-Takatsur: 1-3)

Inilah malam episod pertama dari alam akhirat, kuburan boleh menjadi taman syurga, sebaliknya ia boleh menjadi satu lubang dari lubang-lubang neraka… inilah kematian datang dengan tiba-tiba… ia datang tepat pada waktunya… tidak lambat dan tidak cepat… meragut dengan paksa, melenyapkan segala nikmat dunia.. tidak pernah menilai kita tua atau muda, kaya atau miskin, sihat atau sakit… ia datang untuk mengeluarkan manusia dari alam kehidupan yang selama ini kita jalani.. ketahuilah rumah yang kukuh dan megah tidak akan mampu membentengi datangnya sang pencabut nyawa…

Banyaknya wang di bank tidak mampu memberi rasuah kepada Malaikat untuk undurkan waktu kematiannya… inilah realiti kematian… sudah bersiapkah kita menghadapi malam pertamanya… Bukankah Rasulullah Saw ada bersabda “ Orang yang bijak adalah yang sentiasa mengingati mati di antara kamu, dan ada bekalan setelah kematiannya..” Marilah kita siapkan bekalan untuk menjadi penyinar di alam kubur nanti… demi Allah, tiada yang sanggup menerangkannya melainkan dengan iman dan amal yang soleh..

Metode Menjemput Kematian…

“Kematian adalah nasihat terbaik dan guru kehidupan, sedikit sahaja kita lengah dari memikirkan kematian, maka kita akan kehilangan guru terbaik dalam kehidupan”

Sesungguhnya manusia telah memilih bagaimana akhir hidupnya… dan pilihan itu ada pada bagaimana ia menjalani kehidupannya… sebagaimana ia menjalani kehidupannya seperti itulah berakhirnya kematiannya… kerana sesungguhnya dengan menjalani kehidupan bererti kita sedang menuju kepada kematian kita…

Pernahkah kita mendengar berita tentang seorang penzina mati di katil hotel diatas perut pasanganya… seorang penagih dadah mati ketika menghisapnya… dan para penjudi mati diatas meja judinya… begitu juga kita pernah mendengar ahli ibadah mati di atas tikar sejadahnya…

Alangkah malangnya, saat ajal tiba kita masih berlumur dosa berbalut nista… inilah malam pertama kita DI ALAM KUBUR… sendiri, di cekam sepi gelap yang tidak pernah terbayang… hilanglah sudah… semua gemerlapnya DUNIA… RUMAH dengan jerih payah bertahun-tahun telah kita bangunkan… ISTERI/SUAMI dan pengabdiannya begitu tulus… ANAK, yang padanya darah daging kita… ORANG TUA yang titisan kasih sayangnya.. mengalir di tubuh kita… dan PEKERJAAN, yang bermati-matian kita habiskan waktu untuknya… KERETA MEWAH yang selalu menjadi kebanggaan… tapi kini hari itu telah pergi… masa pun telah tiada… yang tersisa hanya dosa… yang terus terbayang…

TERINGAT… akan ISTERI/SUAMI yang sentiasa dinafikan hak-haknya… ANAK, yang telah kita kotori tubuhnya dari nafkah yang HARAM… ORANG TUA, yang di sisa hidupnya belum sempat dibahagiakan… SAHABAT KARIB, yang meminta bantuan kita biarkan… dan KAWAN-KAWAN, yang telah banyak kita kecewakan…

Ya ALLAH, masihkah ada hari milik-Mu untukku… agar boleh ku lunaskan segala urusan… lilitan hutang yang belum terbayar… banyaknya AMANAH dan KEPERCAYAAN yang tidak disampaikan… beribu JANJI yang sering diingkari… dan WANG RASUAH, yang telah kita nikmati dan kita bagi… namun kini, PINTU-MU… sudah tertutup rapat… bertaubat sudah terlambat, menyesali diri sudah tidak bererti… dan tinggallah sendiri menanggung beban DOSA dan KESALAHAN yang tidak terMAAFKAN… merasakan PENDERITAAN yang PANJANG yang tiada berakhir… SEKARANG, adakah dalam hati kita MATI itu sebagai PENASIHAT..??? Semoga selagi masih ada waktu…

Fase-Fase Alam Kubur

Kesempitan kubur, pertanyaan malaikat, azab atau nikmat kubur, ditempatkannya ruh dan kebangkitan…

Alam kubur adalah alam perantaraan kehidupan dunia dan akhirat yang dimulai setelah kematian dan berakhir selepas kebangkitan… selama masa ini, seorang yang beriman merasa bahagia… sementara orang kafir merasa sengsara… orang yang sudah mati akan dihimpit dalam kubur… siapa pun ia kafir atau muslim akan merasakan himpitan kubur… bezanya penyimpitan yang dirasakan seorang mukmin tidak berlaku selamanya, tidak seperti orang kafir yang akan berterusan himpitan kuburnya sampai hancur tulang-tulangnya…

Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan, seandainya ada orang yang selamat darinya, maka selamatlah Sa’ad Bin Mu’adz…” Sa’ad Bin Mu’adz akan mengalami himpitan kubur, padahal ia adalah seorang pemimpin penuh kemuliaan, kematiannya menggoncangkan ‘Arasy, dibukakan baginya pintu-pintu langit, Kasyahidannya disaksikan oleh 70 ribu malaikat…

Hadis yang diriwayatkan oleh Nasa’I dari Rasulullah SAW: “Kematiannya menggoncangkan ‘Arasy, dibukakan baginya pintu-pintu langit, pintu yang banyak, Kesyahidannya disaksikan oleh 70 ribu malaikat, maka sungguh ia mengalami himpitan kubur, kemudian Allah melapangkanya.”

Apabila Sa’ad Bin Mu’adz seorang pemimpin yang besar, hamba Alah yang soleh dan mendapatkan mati Syahid mengalami himpitan kubur… bagaimana dengan kita..? Allahuakhbar… Ya Allah Terimalah taubat-ku… selamatkanlah aku dari azab kubur…

Rasulullah SAW bersabda “Seorang manusia apabila diletakkan dia di dalam kuburnya dan sahabatnya berpaling pulang sedang ia mendengar suara sandal mereka akan datang kepadanya dua malaikat dan mendudukkannya dan bertanya… SIAPAKAH TUHAN-MU…?, SIAPAKAH NABI-MU…?, APAKAH AGAMA-MU…?… dia menjawab, ALLAH ADALAH TUHAN-KU… MUHAMMAD ADALAH NABI-KU… ISLAM ADALAH AGAMA-KU…

Terdengarlah seruan dari langit, “Benar.. Hambaku, hamparkan baginya tikar dari syurga, lalu angin dan wangi syurga datang kepadanya kemudian kubur diluaskan seluas mata memandang, seorang yang rupawan datang menemaninya, yang tiada lain itulah amal solehnya.” (Hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, Hakim dan Baihaqi).

Benarkah kita… boleh menjawabnya…? Dari lisan yang jarang menyebut Asma-Nya… dan ibadah yang sering kita remehkan… Serta sunnah Rasul… yang kita abaikan… pada saat itu… kita hanya mampu menjawab… TIDAK… TIDAK… TIDAAAKKKKK…

Terdengarlah suara penyeru dari langit… Hambaku ini seorang pendusta… Hamparkan padanya tikar dari api neraka, bukakan baginya pintu neraka, panas dan keringnya neraka mendatanginya… Kubur disempitkan sampai pecah tulang-tulangnya… seorang berwajah buruk berpakaian buruk dan berbau busuk datang kepadanya… Yang tiada lain itulah amal buruknya…

Tragedi… Siksa Kubur

“Aisyah Ra bertanya tentang azab kubur, Rasulullah SAW menjawab: Ya, azab kubur pasti ada.” (HR. Bukhari – Dalam Kitab Al-Janaiz).

“Aisyah Ra meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW berdoa dalam solatnya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur…” (HR. Mutafaqun Alaih).

“Ketika orang-orang yang derhaka kepada Allah tidak mampu menjawab pertanyaan malaikat, lalu ia dipukul dengan besi… hingga ia menjerit dengan teriakan yang sangat keras… didengar oleh semua makhluk Allah, kecuali Jin dan Manusia,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saatnya kita menyaksikan… kejadian nyata tentang siksa kubur yang berlaku di Jazirah Arab… Seorang pemuda yang dikeluarkan dari kuburnya setelah beberapa jam dia dikuburkan… Akibat mengalami azab kubur, pemuda tersebut telah berubah wajah dan jasadnya… Pemuda tersebut merupakan remaja muslim yang meninggal pada usia 18 tahun… seorang pemuda yang rosak akhlak dan agamanya… dan sering melalaikan solat… hampir tiga (3) jam pemuda tersebut dikuburkan, pihak keluarga meminta kubur tersebut digali semula untuk keperluan tertentu…

Dan apa yang terjadi selepas mayat tersebut dikeluarkan… pandangan yang sangat mengaibkan… Rambut yang hitam menjadi putih… Dari mulut dan hidung keluar darah yang masih merah pekat… seperti baru mengalami siksaan kubur yang sangat keras… seperti ada yang memukul dibahagian belakang kepalanya… dengan wajah seperti dilemas dan membeku.



Bagi seorang muslim… ini adalah pengajaran yang sangat-sangat berharga agar segera memperbaiki hidupnya… dengan bertaubat dari dosa-dosa yang telah dilakukan…

Sementara itu… sebagai pengajaran dan iktibar untuk kita…

Suara jeritan jutaan manusia di alam bumi yang lain… di sebuah lubang galian yang berada di daerah Siberia… Dr. Azzacove bersama kumpulannya telah melakukan sebuah kajian tentang pergerakan perut bumi di daerah Siberia, Rusia… kemudian mereka memasang alat pembesar suara supersensitive untuk mendengar suara pergerakan perut bumi… sebuah penemuan yang sangat mengejutkan, ketika mesin penggali sampai pada salah satu perut/kulit bumi… dari ruang/alam bumi yang lain, terdengar suara manusia berteriakan sangat keras dalam kesakitan… bahkan suara jeritan itu jumlahnya bukan seorang tetapi ribuan bahkan jutaan orang… sebagai seorang muslim kita tidak akan ragu lagi bahawa suara tersebut adalah suara manusia yang sedang disiksa di ALAM KUBUR…

Sebab-Sebab Siksa Kubur…

Ibnu Qoyyim Rahimahullah, dalam kitab Ar-Ruh menyebutkan ada beberapa dosa dan maksiat yang dapat menyebabkan kita disiksa di ALAM KUBUR, diantaranya :

1. Melalaikan Solat
2. Membaca al-Quran kemudian melupakannya
3. Tidak bersuci setelah membuang hadas kecil
4. Berkata bohong
5. Tidak membayar zakat
6. Corak kehidupan yang berlebih-lebihan
7. Memakan riba
8. Rasuah
9. Memfitnah sesama saudara muslim
10. Khianat terhadap amanah
11. Enggan menolong sesama muslim
12. Meminum arak
13. Berzina
14. Membunuh

“Wahai anak Adam… Sesungguhnya apa yang kau minta dari-Ku… dan yang kau harapkan dari-Ku… Ampunan-Ku bagimu yang meminta dan tidak bagi yang enggan…”

“Wahai anak Adam… Meskipun dosamu sepenuh petala langit… kemudian engkau meminta ampun pada-Ku… Ampunan-Ku bagimu dan tidak bagi yang enggan…”

“Wahai anak Adam… Seandainya kau datang pada–Ku dengan kesalahan seluas bumi… kemudian engkau datang kepada-Ku… dan tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu pun… Sungguh Aku akan berikan kepadamu ampunan…”

Ya Allah… terimalah taubatku… Ya Allah… terimalah taubatku… Ya Allah… terimalah taubatku…

Alangkah bahagianya… seandainya maut menjemput kita sedang berurai air mata merasakan manisnya iman dalam sujud penghambaan… rindu akan perjumpaan dengan-Nya…

Alangkah indahnya air mata yang selalu berlinang dari munajat seorang anak soleh kepada Allah… Merindukan kemuliaan dan keselamatan bagi kedua orang tuanya… taburan doanya menjadi cahaya yang menerangi dari gelapnya ALAM KUBUR.

Doa-doanya menghantar kepulangan orang tuanya pada Allah dalam Husnul Khatimah… rintihan dan munajatnya menjadi benteng yang kukuh sebagai penghalang dari azab dan siksa kubur… Doa yang tiada terputus mengalir dari ketulusan dan keheningan hati agar orang tuanya dalam kasih sayang Allah.

Tempat Roh Di Alam Barzakh


Sebagaimana kita ketahui menurut agama Islam,, bahawa manusia itu akan mengalami empat tahap hidup.. Pertama,, hidup dalam alam kandungan... Kedua,, hidup di alam dunia seperti sekarang ini.. Ketiga,, hidup di alam kubur [setelah mati] dan yang keempat,, hidup di alam akhirat [setelah dibangkit dari alam kubur].. Hidup di alam kandungan adalah kehidupan di alam yang sempit,, iaitu sebelum manusia lahir dan waktunya pada kebiasaan adalah 9 bulan di dalam kandungan..


Setelah dilahirkan,, barulah manusia hidup pada tahap yang kedua,, iaitu di alam dunia,, yang tempoh masanya telah ditetapkan Allah swt hingga ia menemui ajalnya.. Setelah ajal datang,, maka manusia mengalami kematian,, roh keluar dari tubuhnya,, dan mulailah menempuh ke tahap ke tiga,, iaitu di alam barzakh [kubur].. Di saat itu,, tempat kediaman roh-roh tadi dalam keadaan yang berbeza-beza.. Ada yang mulia dan terhormat dan ada pula yang sangat hina dan rendah darjatnya..


Adapun tempat kediaman roh-roh di alam barzakh,, yakni sesudah manusia itu mati,, menurut keterangan yang disebutkan dalam hadis nabi saw yang ana catit di bawah ini.

Ada roh yang bertempat tinggal di suatu tempat yang tertinggi sekali [A'la Iliyyin],, dan roh-roh berkumpul dengan kelompok malaikat.. Mereka adalah roh-roh para Nabi.. Namun,, diantara golongan inipun terdapat juga perbezaannya dan ada tingkatannya yang tersendiri sebagaimana yang pernah dilihat Rasulullah saw pada malam Isra' Mi'raj.

Ada roh-roh yang menghuni di tempat peristirehat burung-burung yang bulunya hijau,, sedap mata memandang,, dan roh-roh itu dapat berkeliaran di dalam syurga sesuka hatinya.. Itulah roh-roh orang yang mati syahid yang telah menegakkan kalimah Allah swt,, yang luhur dan mempertahankan ajaran Islam.


Ada roh yang dipenjarakan dipintu syurga,, iaitu sebagaimana yang telah disebutkan dalam suatu hadis Rasulullah saw,:


Raitu Shaahibakum Mahbuusan 'Alaa Baabil Jannati..
"Saya melihat kawanmu itu ditahan di pintu syurga"

Ada roh yang dipenjarakan di dalam kuburnya sendiri,, sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadis yang mewartakan bahawa,, orang yang menyembunyikan pakaian rampasan perang,, lalu orang tersebut mati syahid.. Ramai yang mengatakan bahawa orang tersebut pasti mengalami kesenangan dan keenakan kerana dapat ditentukan masuk syurga.. Tetapi Rasulullah saw telah bersabda:

Wal Ladzii Nafsu Biyadihi,, Innasy Syamlatal Latii Ghallahaa Latasyta'ilu 'Alaihi Naarun Fii Qabrihi...
"Demi Dzat yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya,, bahawasanya pakaian yang disembunyikan olehnya itu pasti akan menyala menjadi api yang akan membakar dirinya di dalam kuburnya itu"



Ada juga roh yang mendiami bahagian pintu syurga,, sebagaimana telah disebut di dalam sebuah hadis dari ibnu Abbas r.a,, Rasulullah telah bersabda yang bermaksud:

"Para syuhada itu ada di tepi sungai di pintu syurga dan berada di dalam sebuah kubah yang berwarna hijau.. Mereka memperolehi rezekinya dari syurga di waktu pagi dan petang.."

Ada pula roh manusia yang dipenjarakan di dalam bumi dan tidak dapat naik ke atas,, sebab ia adalah roh yang hina.. Maka,, sangat wajar menetap hanya di dalam tanah sahaja.. Roh yang sedemikian itu tidak dapat berkumpul dengan roh yang lainnya yang mulia dan terhormat yang ada di atas langit.

Hal ini terjadi kerana sewaktu di dunia,, ia tidak berkumpul sama dengan para alim ulama serta golongan mulia lainnya.. Jadi,, pada hakikatnya manusia setelah mati,, tempat kediaman rohnya akan berkumpul dengan golongannya sendiri-sendiri,, iaitu,, yang mulia berkumpul bersama yang mulia,, dan yang hina hanya berkumpul dengan yang hina dan rendah darjatnya.

Begitu pula dengan roh yang berenang di sungai yang berair darah dan bersama-sama menelan batu..
Dan ada lagi roh yang berdiam diri di tempat yang panas dan berada di atas tungku api.. Inilah ahli-ahli yang PENZINA,, baik lelaki mahupun wanita,, ia akan dikumpulkan disini sehingga menunggu hari kiamat datang.

Itulah antara lain mengenai tempat-tempat kediaman roh setelah manusia mati dan berada di dalam tahanan di alam barzakh.. Selain it,, sebenarnya masih ada pula keterangan hadis dan riwayat-riwayat lain yang mengemukakan tenteang tempat kediaman roh-roh.. Tetapi,, perlu kita ketahui,, sekalipun roh itu ada di dalam syurga,, ada di atas langit,, tetap juga dapat berhubungan dengan tubuhnya di dunia sebab roh itu memang lebih cepat gerak langkah nya baik dalam naik turun kemana saja mahupun berpindah ke satu tempat yang lansung tidak mampu di jangkau oleh kelajuan pesawat ciptaan dunia... Dan semua roh-roh  itu ada yang dalam kategori menang,,, dan ada yang dipenjarakan... Wallahua'lam.

Tempat Roh Di Alam Barzakh

Tempat Roh Di Alam Barzakh


Sebagaimana kita ketahui menurut agama Islam,, bahawa manusia itu akan mengalami empat tahap hidup.. Pertama,, hidup dalam alam kandungan... Kedua,, hidup di alam dunia seperti sekarang ini.. Ketiga,, hidup di alam kubur [setelah mati] dan yang keempat,, hidup di alam akhirat [setelah dibangkit dari alam kubur].. Hidup di alam kandungan adalah kehidupan di alam yang sempit,, iaitu sebelum manusia lahir dan waktunya pada kebiasaan adalah 9 bulan di dalam kandungan..


Setelah dilahirkan,, barulah manusia hidup pada tahap yang kedua,, iaitu di alam dunia,, yang tempoh masanya telah ditetapkan Allah swt hingga ia menemui ajalnya.. Setelah ajal datang,, maka manusia mengalami kematian,, roh keluar dari tubuhnya,, dan mulailah menempuh ke tahap ke tiga,, iaitu di alam barzakh [kubur].. Di saat itu,, tempat kediaman roh-roh tadi dalam keadaan yang berbeza-beza.. Ada yang mulia dan terhormat dan ada pula yang sangat hina dan rendah darjatnya..


Adapun tempat kediaman roh-roh di alam barzakh,, yakni sesudah manusia itu mati,, menurut keterangan yang disebutkan dalam hadis nabi saw yang ana catit di bawah ini.

Ada roh yang bertempat tinggal di suatu tempat yang tertinggi sekali [A'la Iliyyin],, dan roh-roh berkumpul dengan kelompok malaikat.. Mereka adalah roh-roh para Nabi.. Namun,, diantara golongan inipun terdapat juga perbezaannya dan ada tingkatannya yang tersendiri sebagaimana yang pernah dilihat Rasulullah saw pada malam Isra' Mi'raj.

Ada roh-roh yang menghuni di tempat peristirehat burung-burung yang bulunya hijau,, sedap mata memandang,, dan roh-roh itu dapat berkeliaran di dalam syurga sesuka hatinya.. Itulah roh-roh orang yang mati syahid yang telah menegakkan kalimah Allah swt,, yang luhur dan mempertahankan ajaran Islam.


Ada roh yang dipenjarakan dipintu syurga,, iaitu sebagaimana yang telah disebutkan dalam suatu hadis Rasulullah saw,:


Raitu Shaahibakum Mahbuusan 'Alaa Baabil Jannati..
"Saya melihat kawanmu itu ditahan di pintu syurga"

Ada roh yang dipenjarakan di dalam kuburnya sendiri,, sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadis yang mewartakan bahawa,, orang yang menyembunyikan pakaian rampasan perang,, lalu orang tersebut mati syahid.. Ramai yang mengatakan bahawa orang tersebut pasti mengalami kesenangan dan keenakan kerana dapat ditentukan masuk syurga.. Tetapi Rasulullah saw telah bersabda:

Wal Ladzii Nafsu Biyadihi,, Innasy Syamlatal Latii Ghallahaa Latasyta'ilu 'Alaihi Naarun Fii Qabrihi...
"Demi Dzat yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya,, bahawasanya pakaian yang disembunyikan olehnya itu pasti akan menyala menjadi api yang akan membakar dirinya di dalam kuburnya itu"



Ada juga roh yang mendiami bahagian pintu syurga,, sebagaimana telah disebut di dalam sebuah hadis dari ibnu Abbas r.a,, Rasulullah telah bersabda yang bermaksud:

"Para syuhada itu ada di tepi sungai di pintu syurga dan berada di dalam sebuah kubah yang berwarna hijau.. Mereka memperolehi rezekinya dari syurga di waktu pagi dan petang.."

Ada pula roh manusia yang dipenjarakan di dalam bumi dan tidak dapat naik ke atas,, sebab ia adalah roh yang hina.. Maka,, sangat wajar menetap hanya di dalam tanah sahaja.. Roh yang sedemikian itu tidak dapat berkumpul dengan roh yang lainnya yang mulia dan terhormat yang ada di atas langit.

Hal ini terjadi kerana sewaktu di dunia,, ia tidak berkumpul sama dengan para alim ulama serta golongan mulia lainnya.. Jadi,, pada hakikatnya manusia setelah mati,, tempat kediaman rohnya akan berkumpul dengan golongannya sendiri-sendiri,, iaitu,, yang mulia berkumpul bersama yang mulia,, dan yang hina hanya berkumpul dengan yang hina dan rendah darjatnya.

Begitu pula dengan roh yang berenang di sungai yang berair darah dan bersama-sama menelan batu..
Dan ada lagi roh yang berdiam diri di tempat yang panas dan berada di atas tungku api.. Inilah ahli-ahli yang PENZINA,, baik lelaki mahupun wanita,, ia akan dikumpulkan disini sehingga menunggu hari kiamat datang.

Itulah antara lain mengenai tempat-tempat kediaman roh setelah manusia mati dan berada di dalam tahanan di alam barzakh.. Selain it,, sebenarnya masih ada pula keterangan hadis dan riwayat-riwayat lain yang mengemukakan tenteang tempat kediaman roh-roh.. Tetapi,, perlu kita ketahui,, sekalipun roh itu ada di dalam syurga,, ada di atas langit,, tetap juga dapat berhubungan dengan tubuhnya di dunia sebab roh itu memang lebih cepat gerak langkah nya baik dalam naik turun kemana saja mahupun berpindah ke satu tempat yang lansung tidak mampu di jangkau oleh kelajuan pesawat ciptaan dunia... Dan semua roh-roh  itu ada yang dalam kategori menang,,, dan ada yang dipenjarakan... Wallahua'lam.

Friday, October 10, 2014

As sunnah



Sunnah Rasul pada Malam/Hari Jum’at

Banyak orang mengatakan istilah “sunnah Rasul” dengan maksud “hubungan suami istri.” Terlebih ketika malam Jum’at seperti ini. Apa sebenarnya “sunnah Rasul”, bolehkah menggunakan istilah itu dengan maksud “hubungan suami istri” dan apa saja sebenarnya “sunnah Rasul” di malam/hari Jum’at? Berikut pembahasannya.

Sunnah Rasul
As sunnah secara etimologi (bahasa) artinya adalah ath thariqah (jalan). Definisi ini misalnya digunakan dalam hadits Rasulullah:

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ
“Barangsiapa mempelopori jalan yang baik di dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang mengamalkan jalan itu setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Sedangkan secara terminologi (istilah) sunnah ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi baik perkataan beliau (qaul), perbuatan (fi’il) maupun ketetapan (taqrir). Dalam hal ini, pengertian sunnah sama persis dengan pengertian hadits, dan istilah sunnah adalah nama lain dari hadits.

Sunnah, juga dimaknai sebagai jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka siapa yang mengikuti jalan Nabi, maka ia adalah orang yang ittiba’us sunnah.

Dalam konteks ini, sunnah tidak bermakna jika dikerjakan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa. Meskipun, ini juga sebenarnya terkait dekat, sebab ketika disebut sunnah Rasul, ia juga mengacu pada amal-amal meneladani Rasulullah, yang jika dikerjakan maka pelakunya mendapatkan pahala sunnah.

Dengan demikian, sunnah Rasul adalah jalan yang dicontohkan oleh Rasulullah dan amal-amal yang bersumber dari Rasulullah.

Sunnah Rasul di Malam/Hari Jum’at

Berangkat dari definisi di atas, maka kita ketahui berdasarkan hadits-hadits Rasulullah bahwa “sunnah Rasul di malam/hari Jum’at adalah sebagai berikut:

Membaca Surat Al Kahfi

Membaca surat Al Kahfi adalah salah satu “sunnah Rasul” di hari Jum’at. Hari Jum’at yang dimaksud di sini adalah hari Jum’at dalam perhitungan kalender hijriyah. Yakni mulai Kamis petang saat matahari terbenam hingga Jum’at petang saat matahari terbenam.

Mengenai keutamaannya, Rasulullah menjelaskannya, antara lain dalam hadits berikut:

مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ
“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya antara dirinya hingga baitul Atiq.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi, dishahihkan Al-Albani)

Memperbanyak Shalawat

Sunnah Rasul lainnya di hari Jum’at adalah memperbanyak shalawat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro; hasan lighairihi)

Mandi Jum’at dan Menyegerakan Berangkat Shalat Jum’at

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا
"Barang siapa mandi pada hari Jum'at, membersihkan badannya dan bersegera (pergi kemasjid) kemudian berdiam diri dengan penuh konsentrasi, mendengarkan (khutbah), maka setiap langkah yang diayunkan mendapatkan pahala seperti pahala setahun, yaitu pahala puasanya dan shalat malamnya." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, An Nasa’i dan Ahmad)

Memperbanyak Doa

Rasulullah menjelaskan keutamaan doa di hari Jum’at dalam haditsnya sebagai berikut:

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu tersebut. Ada yang berpendapat sejak khatib Jum’at naik mimbar hingga selesai shalat Jum’at. Pendapat kedua, yakni pendapatnya Ibnu Qayyim Al jauziyah dan lainnya, waktu tersebut adalah antara shalat Asar hingga matahari terbenam. Ini juga bisa dilakukan muslimah dengan mudah. Sedangkan pendapat ketiga, yakni pendapat Ibnu Hajar Al Asqalani dan lainnya, waktu tersebut adalah gabungan dari dua waktu di atas.

Hubungan Suami Istri di Malam Jum’at Termasuk Sunnah Rasul?

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat. Yang mengatakan hubungan suami istri di malam Jum’at merupakan sunnah Rasul umumnya berpegangan dengan hadits riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, An Nasa’i dan Ahmad. Yang menurut penafsiran mereka, mandi di situ adalah mandi jinabat karena berhubungan suami istri. Pandangan ini diperkuat dengan tambahan pada riwayat Tirmidzi, setelah hadits itersebut:.

قَالَ مَحْمُودٌ قَالَ وَكِيعٌ اغْتَسَلَ هُوَ وَغَسَّلَ امْرَأَتَهُ
Mahmud (perawi) berkata, Waki' berkata, dia sendiri mandi dan juga memandikan istrinya

Namun, sebagian besar ulama menolak pandangan tersebut dengan berhujjah bahwa mandi pada hadits tersebut tidak selalu didahului dengan hubungan suami istri. Kalaupun yang dimaksud adalah mandi jinabat, maka jima’nya dilakukan pada Jum’at pagi, bukan Jum’at malam. Sebab mandi Jum’at disunnahkan sebelum berangkat shalat. Dan orang berangkat shalat Jum’at umumnya pagi.

Menyebut Sunnah Rasul dengan Maksud Jima’

Sesuai dengan penjelasan di atas, sunnah Rasul di malam dan hari Jum’at itu banyak. Sedangkan jima’ di malam Jum’at masuk dalam kategori diperselisihkan.

Karenanya, membatasi pemahaman bahwa sunnah Rasul adalah hubungan suami istri merupakan hal yang tidak dapat dibenarkan. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida].

Sunnah Rasul pada Malam/Hari Jum’at

As sunnah



Sunnah Rasul pada Malam/Hari Jum’at

Banyak orang mengatakan istilah “sunnah Rasul” dengan maksud “hubungan suami istri.” Terlebih ketika malam Jum’at seperti ini. Apa sebenarnya “sunnah Rasul”, bolehkah menggunakan istilah itu dengan maksud “hubungan suami istri” dan apa saja sebenarnya “sunnah Rasul” di malam/hari Jum’at? Berikut pembahasannya.

Sunnah Rasul
As sunnah secara etimologi (bahasa) artinya adalah ath thariqah (jalan). Definisi ini misalnya digunakan dalam hadits Rasulullah:

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ
“Barangsiapa mempelopori jalan yang baik di dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang mengamalkan jalan itu setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Sedangkan secara terminologi (istilah) sunnah ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi baik perkataan beliau (qaul), perbuatan (fi’il) maupun ketetapan (taqrir). Dalam hal ini, pengertian sunnah sama persis dengan pengertian hadits, dan istilah sunnah adalah nama lain dari hadits.

Sunnah, juga dimaknai sebagai jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka siapa yang mengikuti jalan Nabi, maka ia adalah orang yang ittiba’us sunnah.

Dalam konteks ini, sunnah tidak bermakna jika dikerjakan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa. Meskipun, ini juga sebenarnya terkait dekat, sebab ketika disebut sunnah Rasul, ia juga mengacu pada amal-amal meneladani Rasulullah, yang jika dikerjakan maka pelakunya mendapatkan pahala sunnah.

Dengan demikian, sunnah Rasul adalah jalan yang dicontohkan oleh Rasulullah dan amal-amal yang bersumber dari Rasulullah.

Sunnah Rasul di Malam/Hari Jum’at

Berangkat dari definisi di atas, maka kita ketahui berdasarkan hadits-hadits Rasulullah bahwa “sunnah Rasul di malam/hari Jum’at adalah sebagai berikut:

Membaca Surat Al Kahfi

Membaca surat Al Kahfi adalah salah satu “sunnah Rasul” di hari Jum’at. Hari Jum’at yang dimaksud di sini adalah hari Jum’at dalam perhitungan kalender hijriyah. Yakni mulai Kamis petang saat matahari terbenam hingga Jum’at petang saat matahari terbenam.

Mengenai keutamaannya, Rasulullah menjelaskannya, antara lain dalam hadits berikut:

مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ
“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya antara dirinya hingga baitul Atiq.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi, dishahihkan Al-Albani)

Memperbanyak Shalawat

Sunnah Rasul lainnya di hari Jum’at adalah memperbanyak shalawat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro; hasan lighairihi)

Mandi Jum’at dan Menyegerakan Berangkat Shalat Jum’at

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا
"Barang siapa mandi pada hari Jum'at, membersihkan badannya dan bersegera (pergi kemasjid) kemudian berdiam diri dengan penuh konsentrasi, mendengarkan (khutbah), maka setiap langkah yang diayunkan mendapatkan pahala seperti pahala setahun, yaitu pahala puasanya dan shalat malamnya." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, An Nasa’i dan Ahmad)

Memperbanyak Doa

Rasulullah menjelaskan keutamaan doa di hari Jum’at dalam haditsnya sebagai berikut:

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu tersebut. Ada yang berpendapat sejak khatib Jum’at naik mimbar hingga selesai shalat Jum’at. Pendapat kedua, yakni pendapatnya Ibnu Qayyim Al jauziyah dan lainnya, waktu tersebut adalah antara shalat Asar hingga matahari terbenam. Ini juga bisa dilakukan muslimah dengan mudah. Sedangkan pendapat ketiga, yakni pendapat Ibnu Hajar Al Asqalani dan lainnya, waktu tersebut adalah gabungan dari dua waktu di atas.

Hubungan Suami Istri di Malam Jum’at Termasuk Sunnah Rasul?

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat. Yang mengatakan hubungan suami istri di malam Jum’at merupakan sunnah Rasul umumnya berpegangan dengan hadits riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, An Nasa’i dan Ahmad. Yang menurut penafsiran mereka, mandi di situ adalah mandi jinabat karena berhubungan suami istri. Pandangan ini diperkuat dengan tambahan pada riwayat Tirmidzi, setelah hadits itersebut:.

قَالَ مَحْمُودٌ قَالَ وَكِيعٌ اغْتَسَلَ هُوَ وَغَسَّلَ امْرَأَتَهُ
Mahmud (perawi) berkata, Waki' berkata, dia sendiri mandi dan juga memandikan istrinya

Namun, sebagian besar ulama menolak pandangan tersebut dengan berhujjah bahwa mandi pada hadits tersebut tidak selalu didahului dengan hubungan suami istri. Kalaupun yang dimaksud adalah mandi jinabat, maka jima’nya dilakukan pada Jum’at pagi, bukan Jum’at malam. Sebab mandi Jum’at disunnahkan sebelum berangkat shalat. Dan orang berangkat shalat Jum’at umumnya pagi.

Menyebut Sunnah Rasul dengan Maksud Jima’

Sesuai dengan penjelasan di atas, sunnah Rasul di malam dan hari Jum’at itu banyak. Sedangkan jima’ di malam Jum’at masuk dalam kategori diperselisihkan.

Karenanya, membatasi pemahaman bahwa sunnah Rasul adalah hubungan suami istri merupakan hal yang tidak dapat dibenarkan. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida].

Hadist Shahih Bukhari (Part 4)

1.Tanda-tanda Kenabian dan Prediksi Kemenangan Islam telah Dikenali Ahli Kitab

Seringkali lompatan yang tinggi atau lonjakan tajam, membuat seseorang terhenti dari kesinambungan amal. Kita mungkin mengalaminya saat halaqah awal dulu. Semangat kita untuk menghafal Arbain Nawawi secara berurutan tiba-tiba terhenti oleh hadits kedua yang panjang. Sebab yang serupa terjadi pada rubrik hadits Bersama Dakwah. Hadits ke-7 yang sangat panjang membuat rubrik hadits ini terhenti sampai hampir dua bulan.

Namun alhamdulillah, Allah memberi kemudahan pada hari ini sehingga hadits ke-7 ini selesai ditulis. Semoga hadits berikutnya nanti bisa rutin hadir setiap selasa mengingat pendeknya hadits-hadits itu. Mari kita ikuti hadits ke-7 berikut ini:

أَنَّ أَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ هِرَقْلَ أَرْسَلَ إِلَيْهِ فِى رَكْبٍ مِنْ قُرَيْشٍ - وَكَانُوا تُجَّارًا بِالشَّأْمِ - فِى الْمُدَّةِ الَّتِى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مَادَّ فِيهَا أَبَا سُفْيَانَ وَكُفَّارَ قُرَيْشٍ ، فَأَتَوْهُ وَهُمْ بِإِيلِيَاءَ فَدَعَاهُمْ فِى مَجْلِسِهِ ، وَحَوْلَهُ عُظَمَاءُ الرُّومِ ثُمَّ دَعَاهُمْ وَدَعَا بِتَرْجُمَانِهِ فَقَالَ أَيُّكُمْ أَقْرَبُ نَسَبًا بِهَذَا الرَّجُلِ الَّذِى يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِىٌّ فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ فَقُلْتُ أَنَا أَقْرَبُهُمْ نَسَبًا . فَقَالَ أَدْنُوهُ مِنِّى ، وَقَرِّبُوا أَصْحَابَهُ ، فَاجْعَلُوهُمْ عِنْدَ ظَهْرِهِ . ثُمَّ قَالَ لِتَرْجُمَانِهِ قُلْ لَهُمْ إِنِّى سَائِلٌ هَذَا عَنْ هَذَا الرَّجُلِ ، فَإِنْ كَذَبَنِى فَكَذِّبُوهُ . فَوَاللَّهِ لَوْلاَ الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَىَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ ، ثُمَّ كَانَ أَوَّلَ مَا سَأَلَنِى عَنْهُ أَنْ قَالَ كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ قُلْتُ هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ . قَالَ فَهَلْ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ مِنْكُمْ أَحَدٌ قَطُّ قَبْلَهُ قُلْتُ لاَ . قَالَ فَهَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ قُلْتُ لاَ . قَالَ فَأَشْرَافُ النَّاسِ يَتَّبِعُونَهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَقُلْتُ بَلْ ضُعَفَاؤُهُمْ . قَالَ أَيَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ قُلْتُ بَلْ يَزِيدُونَ . قَالَ فَهَلْ يَرْتَدُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ قُلْتُ لاَ . قَالَ فَهَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ قُلْتُ لاَ . قَالَ فَهَلْ يَغْدِرُ قُلْتُ لاَ ، وَنَحْنُ مِنْهُ فِى مُدَّةٍ لاَ نَدْرِى مَا هُوَ فَاعِلٌ فِيهَا . قَالَ وَلَمْ تُمْكِنِّى كَلِمَةٌ أُدْخِلُ فِيهَا شَيْئًا غَيْرُ هَذِهِ الْكَلِمَةِ . قَالَ فَهَلْ قَاتَلْتُمُوهُ قُلْتُ نَعَمْ . قَالَ فَكَيْفَ كَانَ قِتَالُكُمْ إِيَّاهُ قُلْتُ الْحَرْبُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ سِجَالٌ ، يَنَالُ مِنَّا وَنَنَالُ مِنْهُ . قَالَ مَاذَا يَأْمُرُكُمْ قُلْتُ يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ، وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ . فَقَالَ لِلتَّرْجُمَانِ قُلْ لَهُ سَأَلْتُكَ عَنْ نَسَبِهِ ، فَذَكَرْتَ أَنَّهُ فِيكُمْ ذُو نَسَبٍ ، فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِى نَسَبِ قَوْمِهَا ، وَسَأَلْتُكَ هَلْ قَالَ أَحَدٌ مِنْكُمْ هَذَا الْقَوْلَ فَذَكَرْتَ أَنْ لاَ ، فَقُلْتُ لَوْ كَانَ أَحَدٌ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ قَبْلَهُ لَقُلْتُ رَجُلٌ يَأْتَسِى بِقَوْلٍ قِيلَ قَبْلَهُ ، وَسَأَلْتُكَ هَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ فَذَكَرْتَ أَنْ لاَ ، قُلْتُ فَلَوْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ قُلْتُ رَجُلٌ يَطْلُبُ مُلْكَ أَبِيهِ ، وَسَأَلْتُكَ هَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ فَذَكَرْتَ أَنْ لاَ ، فَقَدْ أَعْرِفُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ لِيَذَرَ الْكَذِبَ عَلَى النَّاسِ وَيَكْذِبَ عَلَى اللَّهِ ، وَسَأَلْتُكَ أَشْرَافُ النَّاسِ اتَّبَعُوهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّ ضُعَفَاءَهُمُ اتَّبَعُوهُ ، وَهُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُلِ ، وَسَأَلْتُكَ أَيَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ فَذَكَرْتَ أَنَّهُمْ يَزِيدُونَ ، وَكَذَلِكَ أَمْرُ الإِيمَانِ حَتَّى يَتِمَّ ، وَسَأَلْتُكَ أَيَرْتَدُّ أَحَدٌ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ فَذَكَرْتَ أَنْ لاَ ، وَكَذَلِكَ الإِيمَانُ حِينَ تُخَالِطُ بَشَاشَتُهُ الْقُلُوبَ ، وَسَأَلْتُكَ هَلْ يَغْدِرُ فَذَكَرْتَ أَنْ لاَ ، وَكَذَلِكَ الرُّسُلُ لاَ تَغْدِرُ ، وَسَأَلْتُكَ بِمَا يَأْمُرُكُمْ ، فَذَكَرْتَ أَنَّهُ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَعْبُدُوا اللَّهَ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَيَنْهَاكُمْ عَنْ عِبَادَةِ الأَوْثَانِ ، وَيَأْمُرُكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ . فَإِنْ كَانَ مَا تَقُولُ حَقًّا فَسَيَمْلِكُ مَوْضِعَ قَدَمَىَّ هَاتَيْنِ ، وَقَدْ كُنْتُ أَعْلَمُ أَنَّهُ خَارِجٌ ، لَمْ أَكُنْ أَظُنُّ أَنَّهُ مِنْكُمْ ، فَلَوْ أَنِّى أَعْلَمُ أَنِّى أَخْلُصُ إِلَيْهِ لَتَجَشَّمْتُ لِقَاءَهُ ، وَلَوْ كُنْتُ عِنْدَهُ لَغَسَلْتُ عَنْ قَدَمِهِ . ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - الَّذِى بَعَثَ بِهِ دِحْيَةُ إِلَى عَظِيمِ بُصْرَى ، فَدَفَعَهُ إِلَى هِرَقْلَ فَقَرَأَهُ فَإِذَا فِيهِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ . سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى ، أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ وَ ( يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لاَ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ) قَالَ أَبُو سُفْيَانَ فَلَمَّا قَالَ مَا قَالَ ، وَفَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ الْكِتَابِ كَثُرَ عِنْدَهُ الصَّخَبُ ، وَارْتَفَعَتِ الأَصْوَاتُ وَأُخْرِجْنَا ، فَقُلْتُ لأَصْحَابِى حِينَ أُخْرِجْنَا لَقَدْ أَمِرَ أَمْرُ ابْنِ أَبِى كَبْشَةَ ، إِنَّهُ يَخَافُهُ مَلِكُ بَنِى الأَصْفَرِ . فَمَا زِلْتُ مُوقِنًا أَنَّهُ سَيَظْهَرُ حَتَّى أَدْخَلَ اللَّهُ عَلَىَّ الإِسْلاَمَ . وَكَانَ ابْنُ النَّاظُورِ صَاحِبُ إِيلِيَاءَ وَهِرَقْلَ سُقُفًّا عَلَى نَصَارَى الشَّأْمِ ، يُحَدِّثُ أَنَّ هِرَقْلَ حِينَ قَدِمَ إِيلِيَاءَ أَصْبَحَ يَوْمًا خَبِيثَ النَّفْسِ ، فَقَالَ بَعْضُ بَطَارِقَتِهِ قَدِ اسْتَنْكَرْنَا هَيْئَتَكَ . قَالَ ابْنُ النَّاظُورِ وَكَانَ هِرَقْلُ حَزَّاءً يَنْظُرُ فِى النُّجُومِ ، فَقَالَ لَهُمْ حِينَ سَأَلُوهُ إِنِّى رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ حِينَ نَظَرْتُ فِى النُّجُومِ مَلِكَ الْخِتَانِ قَدْ ظَهَرَ ، فَمَنْ يَخْتَتِنُ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ قَالُوا لَيْسَ يَخْتَتِنُ إِلاَّ الْيَهُودُ فَلاَ يُهِمَّنَّكَ شَأْنُهُمْ وَاكْتُبْ إِلَى مَدَايِنِ مُلْكِكَ ، فَيَقْتُلُوا مَنْ فِيهِمْ مِنَ الْيَهُودِ . فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى أَمْرِهِمْ أُتِىَ هِرَقْلُ بِرَجُلٍ أَرْسَلَ بِهِ مَلِكُ غَسَّانَ ، يُخْبِرُ عَنْ خَبَرِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَلَمَّا اسْتَخْبَرَهُ هِرَقْلُ قَالَ اذْهَبُوا فَانْظُرُوا أَمُخْتَتِنٌ هُوَ أَمْ لاَ . فَنَظَرُوا إِلَيْهِ ، فَحَدَّثُوهُ أَنَّهُ مُخْتَتِنٌ ، وَسَأَلَهُ عَنِ الْعَرَبِ فَقَالَ هُمْ يَخْتَتِنُونَ . فَقَالَ هِرَقْلُ هَذَا مَلِكُ هَذِهِ الأُمَّةِ قَدْ ظَهَرَ . ثُمَّ كَتَبَ هِرَقْلُ إِلَى صَاحِبٍ لَهُ بِرُومِيَةَ ، وَكَانَ نَظِيرَهُ فِى الْعِلْمِ ، وَسَارَ هِرَقْلُ إِلَى حِمْصَ ، فَلَمْ يَرِمْ حِمْصَ حَتَّى أَتَاهُ كِتَابٌ مِنْ صَاحِبِهِ يُوَافِقُ رَأْىَ هِرَقْلَ عَلَى خُرُوجِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - وَأَنَّهُ نَبِىٌّ ، فَأَذِنَ هِرَقْلُ لِعُظَمَاءِ الرُّومِ فِى دَسْكَرَةٍ لَهُ بِحِمْصَ ثُمَّ أَمَرَ بِأَبْوَابِهَا فَغُلِّقَتْ ، ثُمَّ اطَّلَعَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الرُّومِ ، هَلْ لَكُمْ فِى الْفَلاَحِ وَالرُّشْدِ وَأَنْ يَثْبُتَ مُلْكُكُمْ فَتُبَايِعُوا هَذَا النَّبِىَّ ، فَحَاصُوا حَيْصَةَ حُمُرِ الْوَحْشِ إِلَى الأَبْوَابِ ، فَوَجَدُوهَا قَدْ غُلِّقَتْ ، فَلَمَّا رَأَى هِرَقْلُ نَفْرَتَهُمْ ، وَأَيِسَ مِنَ الإِيمَانِ قَالَ رُدُّوهُمْ عَلَىَّ .
وَقَالَ إِنِّى قُلْتُ مَقَالَتِى آنِفًا أَخْتَبِرُ بِهَا شِدَّتَكُمْ عَلَى دِينِكُمْ ، فَقَدْ رَأَيْتُ . فَسَجَدُوا لَهُ وَرَضُوا عَنْهُ ، فَكَانَ ذَلِكَ آخِرَ شَأْنِ هِرَقْلَ

Abu Sufyan mengabarkan bahwa Hiraklius menyuruh dia datang ke Syam bersama kafilah saudagar Quraisy. Waktu itu Rasulullah SAW sedang dalam perjanjian damai dengan Abu Sufyan dan orang-orang Quraisy. Mereka datang menghadap Hiraklius di Ilia, lalu masuk di dalam majelisnya di hadapan pembesar-pembesar Romawi. Kemudian Hiraklius memanggil orang-orang Quraisy itu beserta juru bahasanya.

Hiraklius berkata, "Siapa diantara Anda yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan laki-laki yang mengaku sebagai Nabi itu?" Abu Sufyan menjawab, "Saya keluarga terdekatnya." Hiraklius berkata kepada juru bicaranya, "Suruh dia mendekat kepadaku, dan suruh pula para sahabatnya duduk di belakangnya." Kemudian dia berkata kepada juru bicaranya, "katakan kepada mereka aku akan bertanya kepadanya (Abu Sufyan). Jika dia berdusta, suruhlah mereka mengatakan bahwa dia berdusta." Kata Abu Sufyan: "Demi Tuhan! Jika tidaklah aku takut akan mendapat malu karena aku dikatakan pendusta, niscaya maulah aku berdusta."

Pertanyaan pertama, "Bagaimanakah garis nasabnya di kalanganmu?"
Aku jawab, "Dia turunan bangsawan di kalangan kami."
Hiraklius bertanya lagi, "Pernahkah orang lain sebelumnya mengatakan apa yang dikatakannya?"
Aku menjawab, "Tidak"
"Adakah diantara nenek moyangnya yang menjadi raja?"
"Tidak,"
"Apakah pengikutnya terdiri dari orang-orang mulia ataukah orang-orang dhuafa?"
"Hanya terdiri dari orang-orang dhuafa,"
"Apakah pengkutnya semakin bertambah atau berkurang?"
"Bahkan selalu bertambah"
"Adakah diantara mereka yang murtad karena benci kepada agama yang dipeluknya?"
"Tidak"
"Pernahkah dia melanggar janji?"
"Tidak dan sekarang kami sedang dalam perjanjian damai dengan dia, kami tidak tahu apa yang diperbuatnya dengan perjanjian itu"
"Pernah kamu berperang dengannya?"
"Pernah"
"Bagaimana peperanganmu itu?"
"Kami kalah dan menang silih berganti. Dikalahkannya kami dan kami kalahkan pula dia"
"Apakah yang diperintahkannya kepada kamu sekalian?"
"Dia menyuruh kami menyembah Allah semata dan jangan mempersekutukan-Nya. Tinggalkan apa yang diajarkan nenek moyang kami! Disuruhnya kami menegakkan shalat, berlaku jujur, sopan (teguh hati) dan mempererat persaudaraan."

Heraklius berkata, "Katakan kepadanya (Abu Sufyan), saya tanyakan padamu tentang turunannya Muhammad, kamu jawab dia bangsawan yang tinggi. Begitulah Rasul-rasul yang terdahulu, diutus dari kalangan bangsa tinggi kaumnya. Aku bertanya adakah salah seorang diantara kamu yang mengumandangkan ucapan sebagaimana diucapkannya sekarang, engkau menjawab tidak. Kalau ada seorang yang pernah mengucapkan apa yang dikatakannya sekarang niscaya aku katakan kalau dia hanya meniru-niru ucapan yang diucapkan orang terdahulu itu. Aku tanyakan adakah diantara nenek moyangnya yang menjadi raja dan kamu menjawab tidak ada. Kalau ada diantara nenek moyangnya yang menjadi raja, niscaya aku katakan dia hendak menuntut kembali kerajaan nenek moyangnya. Aku bertanya adakah kamu menaruh curiga kepadanya bahwa ia dutsa, sebelum mengucapkan apa yang diucapkannya sekarang dan kamu menjawab tidak. Saya yakin dia tidak berbohong kepada manusia apalagi kepada Allah. Aku bertanya apakah pengikutnya terdiri dari orang-orang mulia atau orang-orang dhuafa? Engkau jawab orang dhuafa. Memang mereka jualah yang menjadi pengikut Rasul-rasul. Aku bertanya apakah pengikutnya makin bertambah atau berkurang dan kamu jawab mereka bertambah banyak. Begitulah halnya iman yang sempurna. Aku bertanya adakah diantara mereka yang murtad karena benci kepada agama yang dipeluknya, setelah mereka masuk ke dalamnya dan kamu jawab tidak. Begitulah iman apabila ia telah mendarah daging sampai ke jantung hati. Aku bertanya apakah ia ingkar janji, kamu jawab tidak. Begitu pula semua rasul yang terdahulu, mereka tidak suka melanggar janji. Aku bertanya apa yang diperintahkannya kepadamu, kamu jawab ia menyuruh menyembah Allah dan melarang mempersekutukan-Nya. Dilarangnya pula menyembah berhala, disuruhnya menegakkan shalat, berlaku jujur dan sopan (teguh hati). Jika yang kamu terangkan itu betul semuanya, niscaya dia akan berpijak di kedua telapak kakiku ini. Sesungguhnya aku tahu bahwa dia akan lahir. Tetapi aku tidak mengira bahwa dia akan lahir diantara kamu sekalian. Sekiranya aku yakin akan dapat bertemu dengannya, walaupun dengan susah payah aku akan berusaha datang untuk menemuinya. Kalau aku telah berada di dekatnya akan kucuci kedua telapak kakinya."

Kemudian Hiraklius meminta surat Rasulullah SAW yang diantarkan oleh Dihyah kepada pembesar negeri Bashra, yang kemudian diteruskan kepada Hiraklius. Lalu dibacanya surat itu, yang isinya sebagai berikut:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ . سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى ، أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ وَ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لاَ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Hiraklius, kaisar Romawi. Kesejahteraan kiranya untuk orang-orang yang mengikuti petunjuk. Kemudian sesungguhnya saya mengajak anda memenuhi panggilan Islam. Masuklah Islam! Pasti anda selamat, dan Allah memberi pahala kepada anda dua kali lipat. Tetapi jika anda enggan niscaya anda akan memikul dosa seluruh rakyat. "Hai ahli kitab! Marilah kita bersatu dalam satu kalimat yang sama antara kita yaitu supaya kita tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, dan janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain menjadi tuhan selai Allah. Apabila engkau enggan menuruti ajakan ini, maka saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim."


Abu Sufyan berkata, "Ketika ia mengucapkan perkatannya dan membaca surat itu, ruangan menjadi heboh dan hiruk pikuk. Kami disuruh keluar. Maka aku berkata kepada kawan-kawan, 'Sungguh anak Abu Kabsyah telah membuat masalah besar, sehingga raja bangsa kulit kuning itu pun takut kepadanya.' Tapi aku yakin, Muhammad pasti menang, sehingga karenanya Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku."

Ibnu Nathur, pembesar negeri Iliya, sahabat Hiraklius dan uskup Nasrani di Syam menceritakan, "Ketika Hiraklius datang ke Iliya, ternyata pikirannya sedang kacau. Oleh sebab itu banyak diantara pendeta yang berkata, 'Kami sangat heran melihat sikap anda.'" Selanjutnya Ibnu Nathur berkata, "Hiraklius adalah seorang ahli nujum yang selalu memperhatikan perjalanan bintang-bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya pada suatu malam ketika Raja Khitan muncul. "Siapakah diantara umat ini yang dikhitan?" Jawab para pendeta, "Yang dikhitan hanyalah orang Yahudi. Tapi anda jangan risau dengan mereka. Perintahkan saja ke seluruh negeri dalam kerajaan anda supaya orang-orang yahudi di negeri itu dibunuh." Pada suatu ketika dihadapkan kepada Hiraklius seorang utusan raja Bani Ghassan untuk menceritakan perihal Rasulullah. Setelah selesai bercerta, Hiraklius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia dikhitan atau tidak. Setelah diperiksa ternyata memang dia dikhitan lalu diberitahukannya kepada Hiraklius. Kemudian Hiraklius bertanya kepada orang itu tentang orang-orang Arab lainnya, "Apakah mereka dikhitan atau tidak?" jawabnya, "Orang-orang Arab semuanya dikhitan." Hiraklius berkata, "Inilah raja ummat, sesungguhnya dia telah lahir." Kemudian Hiraklius berkirim surat kepada seorang sahabatnya yang ilmunya setaraf dengannya. Kemudian Hiraklius menceritakan tentang kelahiran Nabi Muhammad. Sementara itu, ia meneruskan perjalanannya ke negeri Hamas. Tetapi sebelum dia sampai di Hamas balasan surat dari sahabatnya telah tiba terlebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Hiraklius bahwa Muhammad telah lahir dan beliau memang seorang Nabi.

Hiraklius mengundang para pembesar Romawi supaya datang ke tempatnya di Hamas. Setelah semuanya hadir, Hiraklius memerintahkan supaya mengunci setiap pintu. Kemudian ia berkata, "Wahai bangsa Romawi, maukah kamu semua mendapat kemenangan dan kemjuan yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mau akuilah Muhammad adalah seorang Nabi." Mendengar ucapan itu mereka lari bagaikan keledai liar padahal semua pintu telah terkunci. Melihat keadaan demikian Hiraklius menjadi putus harapan untuk mengajak mereka beriman. Lalu ia memerintahkan supaya mereka kembali ke tempat mereka masing-masing seraya berkata, "Sesungguhnya aku mengucapkan perkataan ini hanya sekedar menguji keteguhan hati kalian semua. Kini aku melihat keteguhan itu." Lalu mereka sujud di hadapan hiraklius dan mereka senang kepadanya. Demikianlah akhir kisah Hiraklius.

Hadits di atas adalah hadits ke-7 dalam Shahih Bukhari (صحيح البخارى), di bawah Kitab Bad’il Wahyi (كتاب بدء الوحى) (Permulaan Turunnya Wahyu). Hadits ini merupakan salah satu hadits terpanjang dalam Shahih Bukhari, dan merupakan hadits paling panjang dalam Fathul Bari jilid pertama.

Hadits ini menceritakan kisah Hiraklius yang dialami oleh Abu Sufyan sebelum masuk Islam. Abu Sufyan lalu menceritakannya setelah ia masuk Islam. Meskipun belum masuk Islam, Abu Sufyan telah mengatakan dengan jujur perihal Rasulullah. Karena ia malu dikatakan sebagai pendusta. Dan inilah salah satu karakter positif bangsa Arab sebagaimana disebutkan Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam Ar-Rakhiqul Makhtum.

Pelajaran Hadits:

Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Kabar tentang datangnya Nabi Muhammad telah diberitakan dalam kitab suci sebelumnya, khususnya Injil yang merupakan kitab suci yang diturunkan kepada nabi Isa dan diyakini orang-orang Nasrani seperti Hiraklius.

2. Tanda-tanda atau karakter kenabian Muhammad telah dikenali oleh ahli kitab seperti Hiraklius, sebagaimana jawaban Abu Sufyan atas seluruh pertanyaannya.

3. Usaha Rasulullah untuk mendakwahkan Islam dengan segenap kemampuan dan memanfaatkan berbagai kesempatan dan sarana, termasuk mengirim surat dakwah kepada para raja. Diantaranya adalah kepada kaisar Romawi Hiraklius, yang suratnya dibahas dalam hadits di atas. Surat ini dikirim oleh Rasulullah setelah perjanjian Hudaibiyah. Di mana pada masa itu negara Madinah tidak disibukkan oleh perang dengan kafir Quraisy, sehingga Rasulullah bebas melakukan dakwah di luar jazirah Arab dengan tenang. Maka demikianlah harusnya aktifi dan jamaah dakwah. Tidak lelah berdakwah, dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyebarluaskan dakwah.

4. Kemenangan Islam adalah kepastian. Bahkan ahli kitab seperi Hiraklius pun meyakini tentang kemenangan ini.

5. Kepastian datangnya kemenangan atau aura kemenangan dakwah bisa menjadi wasilah (sarana) bagi seseorang untuk menerima hidayah, sebagaimana kesaksian Abu Sufyan pada hadits di atas.

6. Kekuasaan bisa menjadi halangan bagi hidayah. Hiraklius yang tadinya ingin masuk Islam dan mengajak para pembesar mendukungnya tidak jadi melakukan karena kekhawatiran hilangnya kekuasaan darinya. Ini terjadi setelah mereka menolak ajakan Hiraklius dengan berlarian ke penjuru ruangan yang telah terkunci, hingga akhirnya Hiraklius menarik kata-katanya dengan diplomatis: "Aku hanya menguji keteguhan hati kalian".


2.Rukun Islam dengan Puasa Ramadhan Disebut Terakhir

Alhamdulillah, hadits-hadits dalam Kitab Bad’il Wahyi (كتاب بدء الوحى) (Permulaan Turunnya Wahyu), telah kita selesaikan dengan diakhiri oleh hadits ke-7 yang sangat panjang pada pekan lalu.

Kini kita akan mulai membahas hadits-hadits Shahih Bukhari dalam Kitab Iman (كتاب الايمان). Hadits ke-8 yang akan kita kaji ini diberi bab doamu adalah imanmu (باب دُعَاؤُكُمْ إِيمَانُكُمْ) oleh Imam Bukhari. Namun untuk lebih memudahkan dan familiar dengan matan haditsnya, Bersama Dakwah memberikan judul Rukun Islam dengan Puasa Ramadhan Disebut Terakhir untuk hadits ini, sebagaimana judul bab yang disebutkan Imam Bukhari di awal kitab Iman, kemudian diikuti oleh ayat-ayat Al-Qur'an sebagai mukaddimahnya.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » .

Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Islam dibangun di atas lima dasar: bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan ibadah haji, dan puasa Ramadhan."

Penjelasan Hadits

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ
Islam dibangun di atas lima (dasar)

Lima dasar yang disebutkan setelah hadits ini dikenal sebagai rukun Islam, sebagaimana Muslim memberikan judul untuk hadits serupa dengan ini dalam Shahih-nya. Diantaranya pada bab kelima dalam kitab Iman.

Ketika memberikan penjelasan hadits ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjawab pertanyaan mengapa jihad tidak dimasukkan rukun Islam. Ini menggambarkan perbedaan yang cukup jauh antara umat Islam hari ini dengan para salafusshalih ataupun zaman Ibnu Hajar. Jika mereka dulu sangat antusias dengan jihad dan memahaminya sebagai perkara sangat besar hingga pantaslah kiranya dimasukkan sebagai rukun Islam, umat Islam di masa sekarang justru alergi terhadap istilah itu. Ghazwul fikri yang dilancarkan barat ternyata menampakkan hasilnya.

Bagaimana jawaban Ibnu Hajar? "Jihad tidak masuk dalam hadits ini," kata beliau, "karena hukum jihad adalah fardhu kifayah dan jihad tidak diwajibkan kecuali dalam waktu dan kondisi tertentu." Lalu beliau menegaskan bahwa jawaban ini merupakan jawaban Ibnu Umar juga. Sementara jawaban lain diberikan oleh Ibnu Bathal yang berargumen jihad tidak disebutkan karena hadits ini muncul pada periode awal Islam sebelum diwajibkannya jihad. Namun argumen ini dikritik karena sampai akhir hayat Rasulullah pun tidak ada hadits lain yang menasakh hadits di atas sehingga rukun Islam tetap lima.

أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah

Dasar Islam yang pertama adalah kesaksian bahwa tiada ilah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah. Syahadat. Jika ditanyakan mengapa tidak disebutkan iman kepada malaikat, hari kiamat, dan lainnya, Ibnu Hajar menjawab karena syahadat yang membenarkan Muhammad sebagai Rasulullah berarti juga membenarkan seluruh ajarannya, termasuk dalam hal aqidah atau keimanan terhadap berbagai hal yang disebutkan dalam rukun Iman.

وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ
mendirikan shalat, membayar zakat

Shalat dan zakat adalah dua hal yang seiring dan sejalan. Baik dalam hadits maupun dalam Al-Qur'an. Shalat merupakan ibadah yang berdimensi hablun minallah, sementara zakat lebih dominan pada hablun minannas karena dengannya bisa terwujud keharmonisan dalam masyarakat antara si kaya dan si miskin, mengurangi kesenjangan antara keduanya, dan upaya pemerataan kesempatan yang ideal.

وَالْحَجِّ
menunaikan haji

Yakni bagi yang mampu

، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Dan puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan disebutkan setelah haji dalam hadits, menurut Ibnu Hajar bukan karena Rasulullah melafadzkan hadits ini dalam dua bentuk yang berbeda dari lainnya (kadang puasa dulu, kadang haji disebutkan dulu). Akan tetapi hadits riwayat Handhalah, dari Abu Sufyan, dari Ikrimah bin Khalid, dari Ibnu Umar yang dikeluarkan Imam Bukhari ini merupakan hadits bil makna, yaitu hadits yang diriwayatkan berdasarkan maknanya, bukan berdasarkan lafazh yang diriwayatkan dari Rasulullah. Hadits yang sama dengan puasa Ramadhan disebutkan sebelum haji diriwayatkan oleh Imam Muslim dari riwayat Sa'ad bin Ubaidah dari Ibnu Umar. Di sana seseorang berkata "Haji dan puasa Ramadhan," lalu Ibnu Umar membetulkan, "Tidak, puasa Ramadhan dan haji."

Pelajaran Hadits:

Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:

1. Dasar/rukun Islam ada 5, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji. Barangsiapa meninggalkan atau melanggar 5 rukun ini Islamnya tidak sah. Misalnya seseorang yang tidak mau shalat, atau tidak mau zakat padahal hartanya sudah mencapai nishab dan haul.

2. Sesuai lafazh hadits di atas, "buniyal Islam", hadits ini tidak membatasi Islam hanya terdiri dari 5 hal itu. Sebagaimana kalimat "rumah itu dibangun di atas lima pilar", maka rumah bukan hanya terdiri dari lima pilar itu melainkan masih ada bagian atau unsur lainnya seperti dinding, atap, jendela, dan sebagainya.

3. Boleh meriwayatkan hadits bil makna. Ini berbeda dengan Al-Qur'an yang dalam periwayatannya harus bil lafdzi juga (lafadz sebagaimana yang difirmankan Allah).

Hadist Shahih Bukhari (Part 4)

Hadist Shahih Bukhari (Part 4)

1.Tanda-tanda Kenabian dan Prediksi Kemenangan Islam telah Dikenali Ahli Kitab

Seringkali lompatan yang tinggi atau lonjakan tajam, membuat seseorang terhenti dari kesinambungan amal. Kita mungkin mengalaminya saat halaqah awal dulu. Semangat kita untuk menghafal Arbain Nawawi secara berurutan tiba-tiba terhenti oleh hadits kedua yang panjang. Sebab yang serupa terjadi pada rubrik hadits Bersama Dakwah. Hadits ke-7 yang sangat panjang membuat rubrik hadits ini terhenti sampai hampir dua bulan.

Namun alhamdulillah, Allah memberi kemudahan pada hari ini sehingga hadits ke-7 ini selesai ditulis. Semoga hadits berikutnya nanti bisa rutin hadir setiap selasa mengingat pendeknya hadits-hadits itu. Mari kita ikuti hadits ke-7 berikut ini:

أَنَّ أَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ هِرَقْلَ أَرْسَلَ إِلَيْهِ فِى رَكْبٍ مِنْ قُرَيْشٍ - وَكَانُوا تُجَّارًا بِالشَّأْمِ - فِى الْمُدَّةِ الَّتِى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مَادَّ فِيهَا أَبَا سُفْيَانَ وَكُفَّارَ قُرَيْشٍ ، فَأَتَوْهُ وَهُمْ بِإِيلِيَاءَ فَدَعَاهُمْ فِى مَجْلِسِهِ ، وَحَوْلَهُ عُظَمَاءُ الرُّومِ ثُمَّ دَعَاهُمْ وَدَعَا بِتَرْجُمَانِهِ فَقَالَ أَيُّكُمْ أَقْرَبُ نَسَبًا بِهَذَا الرَّجُلِ الَّذِى يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِىٌّ فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ فَقُلْتُ أَنَا أَقْرَبُهُمْ نَسَبًا . فَقَالَ أَدْنُوهُ مِنِّى ، وَقَرِّبُوا أَصْحَابَهُ ، فَاجْعَلُوهُمْ عِنْدَ ظَهْرِهِ . ثُمَّ قَالَ لِتَرْجُمَانِهِ قُلْ لَهُمْ إِنِّى سَائِلٌ هَذَا عَنْ هَذَا الرَّجُلِ ، فَإِنْ كَذَبَنِى فَكَذِّبُوهُ . فَوَاللَّهِ لَوْلاَ الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَىَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ ، ثُمَّ كَانَ أَوَّلَ مَا سَأَلَنِى عَنْهُ أَنْ قَالَ كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ قُلْتُ هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ . قَالَ فَهَلْ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ مِنْكُمْ أَحَدٌ قَطُّ قَبْلَهُ قُلْتُ لاَ . قَالَ فَهَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ قُلْتُ لاَ . قَالَ فَأَشْرَافُ النَّاسِ يَتَّبِعُونَهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَقُلْتُ بَلْ ضُعَفَاؤُهُمْ . قَالَ أَيَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ قُلْتُ بَلْ يَزِيدُونَ . قَالَ فَهَلْ يَرْتَدُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ قُلْتُ لاَ . قَالَ فَهَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ قُلْتُ لاَ . قَالَ فَهَلْ يَغْدِرُ قُلْتُ لاَ ، وَنَحْنُ مِنْهُ فِى مُدَّةٍ لاَ نَدْرِى مَا هُوَ فَاعِلٌ فِيهَا . قَالَ وَلَمْ تُمْكِنِّى كَلِمَةٌ أُدْخِلُ فِيهَا شَيْئًا غَيْرُ هَذِهِ الْكَلِمَةِ . قَالَ فَهَلْ قَاتَلْتُمُوهُ قُلْتُ نَعَمْ . قَالَ فَكَيْفَ كَانَ قِتَالُكُمْ إِيَّاهُ قُلْتُ الْحَرْبُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ سِجَالٌ ، يَنَالُ مِنَّا وَنَنَالُ مِنْهُ . قَالَ مَاذَا يَأْمُرُكُمْ قُلْتُ يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ، وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ . فَقَالَ لِلتَّرْجُمَانِ قُلْ لَهُ سَأَلْتُكَ عَنْ نَسَبِهِ ، فَذَكَرْتَ أَنَّهُ فِيكُمْ ذُو نَسَبٍ ، فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِى نَسَبِ قَوْمِهَا ، وَسَأَلْتُكَ هَلْ قَالَ أَحَدٌ مِنْكُمْ هَذَا الْقَوْلَ فَذَكَرْتَ أَنْ لاَ ، فَقُلْتُ لَوْ كَانَ أَحَدٌ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ قَبْلَهُ لَقُلْتُ رَجُلٌ يَأْتَسِى بِقَوْلٍ قِيلَ قَبْلَهُ ، وَسَأَلْتُكَ هَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ فَذَكَرْتَ أَنْ لاَ ، قُلْتُ فَلَوْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ قُلْتُ رَجُلٌ يَطْلُبُ مُلْكَ أَبِيهِ ، وَسَأَلْتُكَ هَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ فَذَكَرْتَ أَنْ لاَ ، فَقَدْ أَعْرِفُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ لِيَذَرَ الْكَذِبَ عَلَى النَّاسِ وَيَكْذِبَ عَلَى اللَّهِ ، وَسَأَلْتُكَ أَشْرَافُ النَّاسِ اتَّبَعُوهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّ ضُعَفَاءَهُمُ اتَّبَعُوهُ ، وَهُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُلِ ، وَسَأَلْتُكَ أَيَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ فَذَكَرْتَ أَنَّهُمْ يَزِيدُونَ ، وَكَذَلِكَ أَمْرُ الإِيمَانِ حَتَّى يَتِمَّ ، وَسَأَلْتُكَ أَيَرْتَدُّ أَحَدٌ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ فَذَكَرْتَ أَنْ لاَ ، وَكَذَلِكَ الإِيمَانُ حِينَ تُخَالِطُ بَشَاشَتُهُ الْقُلُوبَ ، وَسَأَلْتُكَ هَلْ يَغْدِرُ فَذَكَرْتَ أَنْ لاَ ، وَكَذَلِكَ الرُّسُلُ لاَ تَغْدِرُ ، وَسَأَلْتُكَ بِمَا يَأْمُرُكُمْ ، فَذَكَرْتَ أَنَّهُ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَعْبُدُوا اللَّهَ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَيَنْهَاكُمْ عَنْ عِبَادَةِ الأَوْثَانِ ، وَيَأْمُرُكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ . فَإِنْ كَانَ مَا تَقُولُ حَقًّا فَسَيَمْلِكُ مَوْضِعَ قَدَمَىَّ هَاتَيْنِ ، وَقَدْ كُنْتُ أَعْلَمُ أَنَّهُ خَارِجٌ ، لَمْ أَكُنْ أَظُنُّ أَنَّهُ مِنْكُمْ ، فَلَوْ أَنِّى أَعْلَمُ أَنِّى أَخْلُصُ إِلَيْهِ لَتَجَشَّمْتُ لِقَاءَهُ ، وَلَوْ كُنْتُ عِنْدَهُ لَغَسَلْتُ عَنْ قَدَمِهِ . ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - الَّذِى بَعَثَ بِهِ دِحْيَةُ إِلَى عَظِيمِ بُصْرَى ، فَدَفَعَهُ إِلَى هِرَقْلَ فَقَرَأَهُ فَإِذَا فِيهِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ . سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى ، أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ وَ ( يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لاَ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ) قَالَ أَبُو سُفْيَانَ فَلَمَّا قَالَ مَا قَالَ ، وَفَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ الْكِتَابِ كَثُرَ عِنْدَهُ الصَّخَبُ ، وَارْتَفَعَتِ الأَصْوَاتُ وَأُخْرِجْنَا ، فَقُلْتُ لأَصْحَابِى حِينَ أُخْرِجْنَا لَقَدْ أَمِرَ أَمْرُ ابْنِ أَبِى كَبْشَةَ ، إِنَّهُ يَخَافُهُ مَلِكُ بَنِى الأَصْفَرِ . فَمَا زِلْتُ مُوقِنًا أَنَّهُ سَيَظْهَرُ حَتَّى أَدْخَلَ اللَّهُ عَلَىَّ الإِسْلاَمَ . وَكَانَ ابْنُ النَّاظُورِ صَاحِبُ إِيلِيَاءَ وَهِرَقْلَ سُقُفًّا عَلَى نَصَارَى الشَّأْمِ ، يُحَدِّثُ أَنَّ هِرَقْلَ حِينَ قَدِمَ إِيلِيَاءَ أَصْبَحَ يَوْمًا خَبِيثَ النَّفْسِ ، فَقَالَ بَعْضُ بَطَارِقَتِهِ قَدِ اسْتَنْكَرْنَا هَيْئَتَكَ . قَالَ ابْنُ النَّاظُورِ وَكَانَ هِرَقْلُ حَزَّاءً يَنْظُرُ فِى النُّجُومِ ، فَقَالَ لَهُمْ حِينَ سَأَلُوهُ إِنِّى رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ حِينَ نَظَرْتُ فِى النُّجُومِ مَلِكَ الْخِتَانِ قَدْ ظَهَرَ ، فَمَنْ يَخْتَتِنُ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ قَالُوا لَيْسَ يَخْتَتِنُ إِلاَّ الْيَهُودُ فَلاَ يُهِمَّنَّكَ شَأْنُهُمْ وَاكْتُبْ إِلَى مَدَايِنِ مُلْكِكَ ، فَيَقْتُلُوا مَنْ فِيهِمْ مِنَ الْيَهُودِ . فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى أَمْرِهِمْ أُتِىَ هِرَقْلُ بِرَجُلٍ أَرْسَلَ بِهِ مَلِكُ غَسَّانَ ، يُخْبِرُ عَنْ خَبَرِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَلَمَّا اسْتَخْبَرَهُ هِرَقْلُ قَالَ اذْهَبُوا فَانْظُرُوا أَمُخْتَتِنٌ هُوَ أَمْ لاَ . فَنَظَرُوا إِلَيْهِ ، فَحَدَّثُوهُ أَنَّهُ مُخْتَتِنٌ ، وَسَأَلَهُ عَنِ الْعَرَبِ فَقَالَ هُمْ يَخْتَتِنُونَ . فَقَالَ هِرَقْلُ هَذَا مَلِكُ هَذِهِ الأُمَّةِ قَدْ ظَهَرَ . ثُمَّ كَتَبَ هِرَقْلُ إِلَى صَاحِبٍ لَهُ بِرُومِيَةَ ، وَكَانَ نَظِيرَهُ فِى الْعِلْمِ ، وَسَارَ هِرَقْلُ إِلَى حِمْصَ ، فَلَمْ يَرِمْ حِمْصَ حَتَّى أَتَاهُ كِتَابٌ مِنْ صَاحِبِهِ يُوَافِقُ رَأْىَ هِرَقْلَ عَلَى خُرُوجِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - وَأَنَّهُ نَبِىٌّ ، فَأَذِنَ هِرَقْلُ لِعُظَمَاءِ الرُّومِ فِى دَسْكَرَةٍ لَهُ بِحِمْصَ ثُمَّ أَمَرَ بِأَبْوَابِهَا فَغُلِّقَتْ ، ثُمَّ اطَّلَعَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الرُّومِ ، هَلْ لَكُمْ فِى الْفَلاَحِ وَالرُّشْدِ وَأَنْ يَثْبُتَ مُلْكُكُمْ فَتُبَايِعُوا هَذَا النَّبِىَّ ، فَحَاصُوا حَيْصَةَ حُمُرِ الْوَحْشِ إِلَى الأَبْوَابِ ، فَوَجَدُوهَا قَدْ غُلِّقَتْ ، فَلَمَّا رَأَى هِرَقْلُ نَفْرَتَهُمْ ، وَأَيِسَ مِنَ الإِيمَانِ قَالَ رُدُّوهُمْ عَلَىَّ .
وَقَالَ إِنِّى قُلْتُ مَقَالَتِى آنِفًا أَخْتَبِرُ بِهَا شِدَّتَكُمْ عَلَى دِينِكُمْ ، فَقَدْ رَأَيْتُ . فَسَجَدُوا لَهُ وَرَضُوا عَنْهُ ، فَكَانَ ذَلِكَ آخِرَ شَأْنِ هِرَقْلَ

Abu Sufyan mengabarkan bahwa Hiraklius menyuruh dia datang ke Syam bersama kafilah saudagar Quraisy. Waktu itu Rasulullah SAW sedang dalam perjanjian damai dengan Abu Sufyan dan orang-orang Quraisy. Mereka datang menghadap Hiraklius di Ilia, lalu masuk di dalam majelisnya di hadapan pembesar-pembesar Romawi. Kemudian Hiraklius memanggil orang-orang Quraisy itu beserta juru bahasanya.

Hiraklius berkata, "Siapa diantara Anda yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan laki-laki yang mengaku sebagai Nabi itu?" Abu Sufyan menjawab, "Saya keluarga terdekatnya." Hiraklius berkata kepada juru bicaranya, "Suruh dia mendekat kepadaku, dan suruh pula para sahabatnya duduk di belakangnya." Kemudian dia berkata kepada juru bicaranya, "katakan kepada mereka aku akan bertanya kepadanya (Abu Sufyan). Jika dia berdusta, suruhlah mereka mengatakan bahwa dia berdusta." Kata Abu Sufyan: "Demi Tuhan! Jika tidaklah aku takut akan mendapat malu karena aku dikatakan pendusta, niscaya maulah aku berdusta."

Pertanyaan pertama, "Bagaimanakah garis nasabnya di kalanganmu?"
Aku jawab, "Dia turunan bangsawan di kalangan kami."
Hiraklius bertanya lagi, "Pernahkah orang lain sebelumnya mengatakan apa yang dikatakannya?"
Aku menjawab, "Tidak"
"Adakah diantara nenek moyangnya yang menjadi raja?"
"Tidak,"
"Apakah pengikutnya terdiri dari orang-orang mulia ataukah orang-orang dhuafa?"
"Hanya terdiri dari orang-orang dhuafa,"
"Apakah pengkutnya semakin bertambah atau berkurang?"
"Bahkan selalu bertambah"
"Adakah diantara mereka yang murtad karena benci kepada agama yang dipeluknya?"
"Tidak"
"Pernahkah dia melanggar janji?"
"Tidak dan sekarang kami sedang dalam perjanjian damai dengan dia, kami tidak tahu apa yang diperbuatnya dengan perjanjian itu"
"Pernah kamu berperang dengannya?"
"Pernah"
"Bagaimana peperanganmu itu?"
"Kami kalah dan menang silih berganti. Dikalahkannya kami dan kami kalahkan pula dia"
"Apakah yang diperintahkannya kepada kamu sekalian?"
"Dia menyuruh kami menyembah Allah semata dan jangan mempersekutukan-Nya. Tinggalkan apa yang diajarkan nenek moyang kami! Disuruhnya kami menegakkan shalat, berlaku jujur, sopan (teguh hati) dan mempererat persaudaraan."

Heraklius berkata, "Katakan kepadanya (Abu Sufyan), saya tanyakan padamu tentang turunannya Muhammad, kamu jawab dia bangsawan yang tinggi. Begitulah Rasul-rasul yang terdahulu, diutus dari kalangan bangsa tinggi kaumnya. Aku bertanya adakah salah seorang diantara kamu yang mengumandangkan ucapan sebagaimana diucapkannya sekarang, engkau menjawab tidak. Kalau ada seorang yang pernah mengucapkan apa yang dikatakannya sekarang niscaya aku katakan kalau dia hanya meniru-niru ucapan yang diucapkan orang terdahulu itu. Aku tanyakan adakah diantara nenek moyangnya yang menjadi raja dan kamu menjawab tidak ada. Kalau ada diantara nenek moyangnya yang menjadi raja, niscaya aku katakan dia hendak menuntut kembali kerajaan nenek moyangnya. Aku bertanya adakah kamu menaruh curiga kepadanya bahwa ia dutsa, sebelum mengucapkan apa yang diucapkannya sekarang dan kamu menjawab tidak. Saya yakin dia tidak berbohong kepada manusia apalagi kepada Allah. Aku bertanya apakah pengikutnya terdiri dari orang-orang mulia atau orang-orang dhuafa? Engkau jawab orang dhuafa. Memang mereka jualah yang menjadi pengikut Rasul-rasul. Aku bertanya apakah pengikutnya makin bertambah atau berkurang dan kamu jawab mereka bertambah banyak. Begitulah halnya iman yang sempurna. Aku bertanya adakah diantara mereka yang murtad karena benci kepada agama yang dipeluknya, setelah mereka masuk ke dalamnya dan kamu jawab tidak. Begitulah iman apabila ia telah mendarah daging sampai ke jantung hati. Aku bertanya apakah ia ingkar janji, kamu jawab tidak. Begitu pula semua rasul yang terdahulu, mereka tidak suka melanggar janji. Aku bertanya apa yang diperintahkannya kepadamu, kamu jawab ia menyuruh menyembah Allah dan melarang mempersekutukan-Nya. Dilarangnya pula menyembah berhala, disuruhnya menegakkan shalat, berlaku jujur dan sopan (teguh hati). Jika yang kamu terangkan itu betul semuanya, niscaya dia akan berpijak di kedua telapak kakiku ini. Sesungguhnya aku tahu bahwa dia akan lahir. Tetapi aku tidak mengira bahwa dia akan lahir diantara kamu sekalian. Sekiranya aku yakin akan dapat bertemu dengannya, walaupun dengan susah payah aku akan berusaha datang untuk menemuinya. Kalau aku telah berada di dekatnya akan kucuci kedua telapak kakinya."

Kemudian Hiraklius meminta surat Rasulullah SAW yang diantarkan oleh Dihyah kepada pembesar negeri Bashra, yang kemudian diteruskan kepada Hiraklius. Lalu dibacanya surat itu, yang isinya sebagai berikut:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ . سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى ، أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ وَ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لاَ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Hiraklius, kaisar Romawi. Kesejahteraan kiranya untuk orang-orang yang mengikuti petunjuk. Kemudian sesungguhnya saya mengajak anda memenuhi panggilan Islam. Masuklah Islam! Pasti anda selamat, dan Allah memberi pahala kepada anda dua kali lipat. Tetapi jika anda enggan niscaya anda akan memikul dosa seluruh rakyat. "Hai ahli kitab! Marilah kita bersatu dalam satu kalimat yang sama antara kita yaitu supaya kita tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, dan janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain menjadi tuhan selai Allah. Apabila engkau enggan menuruti ajakan ini, maka saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim."


Abu Sufyan berkata, "Ketika ia mengucapkan perkatannya dan membaca surat itu, ruangan menjadi heboh dan hiruk pikuk. Kami disuruh keluar. Maka aku berkata kepada kawan-kawan, 'Sungguh anak Abu Kabsyah telah membuat masalah besar, sehingga raja bangsa kulit kuning itu pun takut kepadanya.' Tapi aku yakin, Muhammad pasti menang, sehingga karenanya Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku."

Ibnu Nathur, pembesar negeri Iliya, sahabat Hiraklius dan uskup Nasrani di Syam menceritakan, "Ketika Hiraklius datang ke Iliya, ternyata pikirannya sedang kacau. Oleh sebab itu banyak diantara pendeta yang berkata, 'Kami sangat heran melihat sikap anda.'" Selanjutnya Ibnu Nathur berkata, "Hiraklius adalah seorang ahli nujum yang selalu memperhatikan perjalanan bintang-bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya pada suatu malam ketika Raja Khitan muncul. "Siapakah diantara umat ini yang dikhitan?" Jawab para pendeta, "Yang dikhitan hanyalah orang Yahudi. Tapi anda jangan risau dengan mereka. Perintahkan saja ke seluruh negeri dalam kerajaan anda supaya orang-orang yahudi di negeri itu dibunuh." Pada suatu ketika dihadapkan kepada Hiraklius seorang utusan raja Bani Ghassan untuk menceritakan perihal Rasulullah. Setelah selesai bercerta, Hiraklius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia dikhitan atau tidak. Setelah diperiksa ternyata memang dia dikhitan lalu diberitahukannya kepada Hiraklius. Kemudian Hiraklius bertanya kepada orang itu tentang orang-orang Arab lainnya, "Apakah mereka dikhitan atau tidak?" jawabnya, "Orang-orang Arab semuanya dikhitan." Hiraklius berkata, "Inilah raja ummat, sesungguhnya dia telah lahir." Kemudian Hiraklius berkirim surat kepada seorang sahabatnya yang ilmunya setaraf dengannya. Kemudian Hiraklius menceritakan tentang kelahiran Nabi Muhammad. Sementara itu, ia meneruskan perjalanannya ke negeri Hamas. Tetapi sebelum dia sampai di Hamas balasan surat dari sahabatnya telah tiba terlebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Hiraklius bahwa Muhammad telah lahir dan beliau memang seorang Nabi.

Hiraklius mengundang para pembesar Romawi supaya datang ke tempatnya di Hamas. Setelah semuanya hadir, Hiraklius memerintahkan supaya mengunci setiap pintu. Kemudian ia berkata, "Wahai bangsa Romawi, maukah kamu semua mendapat kemenangan dan kemjuan yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mau akuilah Muhammad adalah seorang Nabi." Mendengar ucapan itu mereka lari bagaikan keledai liar padahal semua pintu telah terkunci. Melihat keadaan demikian Hiraklius menjadi putus harapan untuk mengajak mereka beriman. Lalu ia memerintahkan supaya mereka kembali ke tempat mereka masing-masing seraya berkata, "Sesungguhnya aku mengucapkan perkataan ini hanya sekedar menguji keteguhan hati kalian semua. Kini aku melihat keteguhan itu." Lalu mereka sujud di hadapan hiraklius dan mereka senang kepadanya. Demikianlah akhir kisah Hiraklius.

Hadits di atas adalah hadits ke-7 dalam Shahih Bukhari (صحيح البخارى), di bawah Kitab Bad’il Wahyi (كتاب بدء الوحى) (Permulaan Turunnya Wahyu). Hadits ini merupakan salah satu hadits terpanjang dalam Shahih Bukhari, dan merupakan hadits paling panjang dalam Fathul Bari jilid pertama.

Hadits ini menceritakan kisah Hiraklius yang dialami oleh Abu Sufyan sebelum masuk Islam. Abu Sufyan lalu menceritakannya setelah ia masuk Islam. Meskipun belum masuk Islam, Abu Sufyan telah mengatakan dengan jujur perihal Rasulullah. Karena ia malu dikatakan sebagai pendusta. Dan inilah salah satu karakter positif bangsa Arab sebagaimana disebutkan Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam Ar-Rakhiqul Makhtum.

Pelajaran Hadits:

Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Kabar tentang datangnya Nabi Muhammad telah diberitakan dalam kitab suci sebelumnya, khususnya Injil yang merupakan kitab suci yang diturunkan kepada nabi Isa dan diyakini orang-orang Nasrani seperti Hiraklius.

2. Tanda-tanda atau karakter kenabian Muhammad telah dikenali oleh ahli kitab seperti Hiraklius, sebagaimana jawaban Abu Sufyan atas seluruh pertanyaannya.

3. Usaha Rasulullah untuk mendakwahkan Islam dengan segenap kemampuan dan memanfaatkan berbagai kesempatan dan sarana, termasuk mengirim surat dakwah kepada para raja. Diantaranya adalah kepada kaisar Romawi Hiraklius, yang suratnya dibahas dalam hadits di atas. Surat ini dikirim oleh Rasulullah setelah perjanjian Hudaibiyah. Di mana pada masa itu negara Madinah tidak disibukkan oleh perang dengan kafir Quraisy, sehingga Rasulullah bebas melakukan dakwah di luar jazirah Arab dengan tenang. Maka demikianlah harusnya aktifi dan jamaah dakwah. Tidak lelah berdakwah, dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyebarluaskan dakwah.

4. Kemenangan Islam adalah kepastian. Bahkan ahli kitab seperi Hiraklius pun meyakini tentang kemenangan ini.

5. Kepastian datangnya kemenangan atau aura kemenangan dakwah bisa menjadi wasilah (sarana) bagi seseorang untuk menerima hidayah, sebagaimana kesaksian Abu Sufyan pada hadits di atas.

6. Kekuasaan bisa menjadi halangan bagi hidayah. Hiraklius yang tadinya ingin masuk Islam dan mengajak para pembesar mendukungnya tidak jadi melakukan karena kekhawatiran hilangnya kekuasaan darinya. Ini terjadi setelah mereka menolak ajakan Hiraklius dengan berlarian ke penjuru ruangan yang telah terkunci, hingga akhirnya Hiraklius menarik kata-katanya dengan diplomatis: "Aku hanya menguji keteguhan hati kalian".


2.Rukun Islam dengan Puasa Ramadhan Disebut Terakhir

Alhamdulillah, hadits-hadits dalam Kitab Bad’il Wahyi (كتاب بدء الوحى) (Permulaan Turunnya Wahyu), telah kita selesaikan dengan diakhiri oleh hadits ke-7 yang sangat panjang pada pekan lalu.

Kini kita akan mulai membahas hadits-hadits Shahih Bukhari dalam Kitab Iman (كتاب الايمان). Hadits ke-8 yang akan kita kaji ini diberi bab doamu adalah imanmu (باب دُعَاؤُكُمْ إِيمَانُكُمْ) oleh Imam Bukhari. Namun untuk lebih memudahkan dan familiar dengan matan haditsnya, Bersama Dakwah memberikan judul Rukun Islam dengan Puasa Ramadhan Disebut Terakhir untuk hadits ini, sebagaimana judul bab yang disebutkan Imam Bukhari di awal kitab Iman, kemudian diikuti oleh ayat-ayat Al-Qur'an sebagai mukaddimahnya.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » .

Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Islam dibangun di atas lima dasar: bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan ibadah haji, dan puasa Ramadhan."

Penjelasan Hadits

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ
Islam dibangun di atas lima (dasar)

Lima dasar yang disebutkan setelah hadits ini dikenal sebagai rukun Islam, sebagaimana Muslim memberikan judul untuk hadits serupa dengan ini dalam Shahih-nya. Diantaranya pada bab kelima dalam kitab Iman.

Ketika memberikan penjelasan hadits ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjawab pertanyaan mengapa jihad tidak dimasukkan rukun Islam. Ini menggambarkan perbedaan yang cukup jauh antara umat Islam hari ini dengan para salafusshalih ataupun zaman Ibnu Hajar. Jika mereka dulu sangat antusias dengan jihad dan memahaminya sebagai perkara sangat besar hingga pantaslah kiranya dimasukkan sebagai rukun Islam, umat Islam di masa sekarang justru alergi terhadap istilah itu. Ghazwul fikri yang dilancarkan barat ternyata menampakkan hasilnya.

Bagaimana jawaban Ibnu Hajar? "Jihad tidak masuk dalam hadits ini," kata beliau, "karena hukum jihad adalah fardhu kifayah dan jihad tidak diwajibkan kecuali dalam waktu dan kondisi tertentu." Lalu beliau menegaskan bahwa jawaban ini merupakan jawaban Ibnu Umar juga. Sementara jawaban lain diberikan oleh Ibnu Bathal yang berargumen jihad tidak disebutkan karena hadits ini muncul pada periode awal Islam sebelum diwajibkannya jihad. Namun argumen ini dikritik karena sampai akhir hayat Rasulullah pun tidak ada hadits lain yang menasakh hadits di atas sehingga rukun Islam tetap lima.

أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah

Dasar Islam yang pertama adalah kesaksian bahwa tiada ilah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah. Syahadat. Jika ditanyakan mengapa tidak disebutkan iman kepada malaikat, hari kiamat, dan lainnya, Ibnu Hajar menjawab karena syahadat yang membenarkan Muhammad sebagai Rasulullah berarti juga membenarkan seluruh ajarannya, termasuk dalam hal aqidah atau keimanan terhadap berbagai hal yang disebutkan dalam rukun Iman.

وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ
mendirikan shalat, membayar zakat

Shalat dan zakat adalah dua hal yang seiring dan sejalan. Baik dalam hadits maupun dalam Al-Qur'an. Shalat merupakan ibadah yang berdimensi hablun minallah, sementara zakat lebih dominan pada hablun minannas karena dengannya bisa terwujud keharmonisan dalam masyarakat antara si kaya dan si miskin, mengurangi kesenjangan antara keduanya, dan upaya pemerataan kesempatan yang ideal.

وَالْحَجِّ
menunaikan haji

Yakni bagi yang mampu

، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Dan puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan disebutkan setelah haji dalam hadits, menurut Ibnu Hajar bukan karena Rasulullah melafadzkan hadits ini dalam dua bentuk yang berbeda dari lainnya (kadang puasa dulu, kadang haji disebutkan dulu). Akan tetapi hadits riwayat Handhalah, dari Abu Sufyan, dari Ikrimah bin Khalid, dari Ibnu Umar yang dikeluarkan Imam Bukhari ini merupakan hadits bil makna, yaitu hadits yang diriwayatkan berdasarkan maknanya, bukan berdasarkan lafazh yang diriwayatkan dari Rasulullah. Hadits yang sama dengan puasa Ramadhan disebutkan sebelum haji diriwayatkan oleh Imam Muslim dari riwayat Sa'ad bin Ubaidah dari Ibnu Umar. Di sana seseorang berkata "Haji dan puasa Ramadhan," lalu Ibnu Umar membetulkan, "Tidak, puasa Ramadhan dan haji."

Pelajaran Hadits:

Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:

1. Dasar/rukun Islam ada 5, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji. Barangsiapa meninggalkan atau melanggar 5 rukun ini Islamnya tidak sah. Misalnya seseorang yang tidak mau shalat, atau tidak mau zakat padahal hartanya sudah mencapai nishab dan haul.

2. Sesuai lafazh hadits di atas, "buniyal Islam", hadits ini tidak membatasi Islam hanya terdiri dari 5 hal itu. Sebagaimana kalimat "rumah itu dibangun di atas lima pilar", maka rumah bukan hanya terdiri dari lima pilar itu melainkan masih ada bagian atau unsur lainnya seperti dinding, atap, jendela, dan sebagainya.

3. Boleh meriwayatkan hadits bil makna. Ini berbeda dengan Al-Qur'an yang dalam periwayatannya harus bil lafdzi juga (lafadz sebagaimana yang difirmankan Allah).

Flag Counter
ANTI SYIAH. Powered by Blogger.
© 2013-2015 απ†ι $ψι'αh. Powered by Anti Syiah.
Edited by Anti Syiah
Ping your blog, website, or RSS feed for Free
back to top